Mana Lebih Penting, Kemampuan Berbahasa atau Literasi? - Viral - www.indonesiana.id
x

Literasi

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 18 Desember 2019 09:06 WIB
  • Viral
  • Berita Utama
  • Mana Lebih Penting, Kemampuan Berbahasa atau Literasi?

    Dibaca : 5.293 kali

    Literasi adalah bagian dari kemampuan berbahasa. 

    Membincang tentang  literasi, seolah literasi hanyalah membaca, sehingga hasil penilaian kemampuan siswa Indonesia dalam membaca, termasuk juga matematika, dan sains yang masih tergolong di bawah rata-rata sesuai laporan Programme for International Student Assessment (PISA), menjadi pijakan tentang betapa terpuruknya Indonesia. 

    Pendidikan di Indonesia yang kurikulumnya berbeda dengan negara lain, pun jumlah penduduk dan wilayahnya juga sangat luas bila dibandingan dengan Finlandia atau Singapura yang sering dijadikan perbandingan betapa hebatnya pendidikan di dua negara tersebut karena mengalahkan Indonesia, wajib disikapi dan disadari dengan bijak. 

    Tidak bisa dalam hal pendidikan dan khususnya literasi Indonesia secara mentah-mentah dibandingkan dengan Finlandia dan Singapura atau negara lain, yang penduduk dan wilayahnya tidak sebesar Indonesia yang akan jelas berpengaruh dalam soal "pengitungan rata-rata". 

    Selain itu, seharusnya pemerintah dan masyarakat Indonesia juga tidak harus kebakaran jenggot dengan terpuruknya pendidikan dan literasi Indonesia, sebab selain literasi bukan hanya persoalan membaca, pelajar dan mahasiswa Indonesia pelajaran dan mata kuliahnya lebih banyak sesuai kurikulum yang masih dianggap peninggalan feodal. 

    Beruntung, hadirnya Mas Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), kini membawa angin segar bagi dunia pendidikan kita.   Biarkan kini, Mas Nadiem berproses dalam "membongkar dan mengubah" pendidikan Indonesia menjadi lebih maju, sesuai nama Kabinet Jokowi Jilid 2, yaitu Kabinet Indonesia Maju. 

    Kembali pada soal literasi, mengapa hingga kini konotasi literasi menjadi hanya sekadar persoalan "membaca?" Sesuai KBBi, literasi adalah istilah umum yang merujuk kepada seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. 

    Literasi adalah kemampuan berbahasa. Mengapa yang membekas di pemikiran masyarakat, literasi menjadi hanya sekadar kemampuan membaca? 

    Kemendikbud, Dinas terkait, media, neitzen, dan seluruh masyarakat Indonesia, ayolah stop bicara literasi dalam arti menyempit (peyoratif). 

    Apungkan kembali pemahaman bahwa literasi adalah kemampuan keterampilan berbahasa seseorang yang bila diajarkan di kelas pelajaran Bahasa Indonesia, urutannya adalah dimulai dari kemampuan mendengar, berbicara, membaca, dan menulis. 

    Lalu ditambah kemampuan keterampilan matematika yaitu mengihitung dan memecahkan masalah. 

    Bila PISA hanya mengukur membaca, matematika, dan sains yang dinegara lain memang fokus digarap, maka bila Indonesia mau nilai PISAnya naik, maka fokuslah pendidikan kita hanya pada membaca, matematika, dan sains. 

    Mas Nadiem juga tidak perlu repot-repot mengubah dan membongkar tentang Kurikulum Pendidikan Indonesia, termasuk menyoal UN, Sistem Zonasi dan lainnya. Itu bila Indonesia mau ranking PISA-nya naik. 

    Harapannya, menyoal pendidikan, menyoal literasi, masyarakat bangsa ini sangat mudah terprovokasi. Lalu gemar mengkritik dan menghujat tanpa melihat fakta, data, kenyataan di lapangan. 

    Tanpa disadari, apa yang dilakukan oleh masyarakat kita dalam hal literasi, itu semua adalah bagian dari literasi yang bukan hanya sekadar membaca.  Artinya kemampuan berbahasa masyarakat kita saja masih jauh dari harapan, apalagi bila hanya sekadar mengukur kemampuan membaca, matematika, dan sains. 

    Sadarkah, kini masyarakat kita, mulai dari para pemimpin, elite politik, hingga rakyat, sedang terjangkit degradasi. 

    Masyarakat bangsa ini sedang mengalami kemunduran, kemerosotan, penurunan, dan sebagainya, khususnya menyoal mutu kehidupan dan moral bangsa, karena gagal dalam kemampuan berbahasa, bukan kemampuan literasi. 


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.