#SeninCoaching: Pemimpin Hebat Bukan Ditentukan Warna Kulit - - www.indonesiana.id
x

Perlu keseimbangan mental agar tim lebih engaged

Mohamad Cholid

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 24 Desember 2019 07:19 WIB
  • Berita Utama
  • #SeninCoaching: Pemimpin Hebat Bukan Ditentukan Warna Kulit

    Dibaca : 4.507 kali

    #Leadership Growth: Competencies That Matter Most

    Mohamad Cholid, Practicing Certified Executive and Leadership Coach

     

    Anda punya mobil hebat, katakanlah Ferrari, Lamborghini, atau Mercedes Sport, dan harus mengikuti balapan di arena terbuka atau jalan bebas hambatan. Karena kurang yakin dengan driver yang biasa mengendalikan mobil tersebut, Anda lantas menyewa pembalap sekaliber Lewis Hamilton, pembalap Inggris di kelas Formula One untuk Mercedes AMG Petronas dan lima kali juara dunia di kelasnya.

    Untuk itu Anda tentunya harus membayar mahal sekali. Kalau budget tidak cukup, lantas Anda akan cari driver dengan kualifikasi di bawah Lewis Hamilton, yang juga tidak murah – yang penting beraroma internasional, kan?

    Pertanyaannya, apakah driver berpengalaman internasional menjamin kemenangan balapan kalau mobil Anda diserahkan ke dia apa adanya tanpa tuning up total? Tanpa disetel ulang seluruh komponennya?

    Apakah driver berkelas internasional tersebut dapat dipastikan mampu segera menyesuaikan diri mengendarai mobil yang beda dengan yang selama ini dia pegang, harus lari kencang pula di lingkungan dengan regulasi yang belum dia kuasai?

    Belum lama ini, seorang eksekutif senior andalan sebuah jaringan hotel internasional AS ditugasi memimpin satu hotel di Asia dan mengembangkan brand induknya. Tantangan yang dihadapinya bukan dari tim lokal yang dikiranya tidak bisa diajak lari kencang, tapi justru dari personal leadership style dia sendiri.

    Mr. General Manager perlu waktu enam bulan lebih untuk melakukan adjustment perilaku kepemimpinannya, baru kemudian membangun prestasi bersama timnya, yang ternyata sudah siap kerja efektif memenangi kompetisi. Artinya, pemegang saham harus mengeluarkan sekian ratus ribu dolar AS dulu – untuk gaji dan fasilitas Mr. GM – sebelum bisnis hospitality tersebut dapat berjalan lancar.

    Stereotype seorang corporate leader itu lelaki kulit putih usia sekitar 50 tahun, selalu didampingi sekretaris, dan tekanan darahnya tinggi, jelas-jelas sudah berubah, kata Marshall Goldsmith, #1 Executive Coach di dunia.

    Bukan warna kulit atau pengalaman di jaringan bisnis besar yang jadi ukuran dan penentu sukses seorang eksekutif. Apalagi jika mereka, yang merasa hebat di suatu grup tersebut jadi arogan, sehingga sulit menerima perspektif berbeda dari tim atau pun pihak ketiga.

    Tendensinya menikmati status quo, asyik dengan gaya kepemimpinan lama, bisa merupakan kemewahan yang tidak sepantasnya ditanggung oleh organisasi.

    Riset ekstensif tentang efektivitas kepemimpinan yang dilakukan Alliance for Strategic Leadership menyimpulkan, “leaders who are willing to change and are open to employee input will be consistently viewed as more effective than those who are not.

    Hari ini -- menurut hasil survei yang disponsori Accenture sekian tahun silam dengan melibatkan 300 eksekutif internasonal dari 200 organisasi di enam benua -- ada 15 skills dan kompetensi yang sepantasnya dikuasai oleh para leader agar sukses di arena global yang sangat kompetitif. Dari 15 tersebut, berikut ini adalah the competencies that matter most untuk diterapkan sekarang:

    Boundary-less inclusion (berpikir global, menghargai anekaragam budaya/pemikiran, mampu empowering tim); Assure Success (memahami teknologi, memastikan kepuasan pelanggan, dan mampu meningkatkan keunggulan kompetitif usaha); Continuous Change (achieving personal mastery, mampu mengantisipasi peluang, memimpin perubahan); Engaging People (mampu mengembangkan tim, membangun kemitraan, dan sharing leadership); Communication (membuktikan diri berintegritas, mampu berdialog konstruktif, creating a shared vision).

    Bagaimana kalau kita, sebagai eksekutif di level mana pun, apalagi pada posisi top, selalu melakukan kalibrasi atas skills dan kompetensi diri, sejauh mana ketajaman kita dalam menghadapi dinamika global yang sangat cepat hari ini?

    Beranikah menghadapi realitas baru tentang diri kita berdasarkan perspektif tantangan hari ini dan membuka hati memperbaiki diri terus-menerus?  

    Bagaimana kalau Kementrian BUMN, sebagai bagian dari upaya pembenahan dan peningkatan kinerja perusahaan di lingkungan BUMN, juga terbuka untuk menggunakan tools dan metode yang sudah proven dipakai organisasi-organisasi multinasional kelas dunia – seperti GE, Microsoft, Hyatt, Ford, LG, Citibank  – untuk melakukan asesmen ulang para eksekutif di BUMN-BUMN?

    Ini untuk memperkuat assessment tools yang sudah dipakai. Supaya makin jelas siapa saja yang dinilai pantas memimpin organisasi dan siap menghadapi globalisasi. Siapa pula yang masih memerlukan pembenahan dalam perilaku kepemimpinan mereka.

    Mudah-mudahan Anda setuju, dengan selalu melakukan kalibrasi ulang skills dan kompetensi diri sendiri atau melalukan assessment secara periodik para eksekutif di organisasi, kita bisa membuktikan bersikap adil terhadap diri sendiri dan para stakeholder.

    Dengan itu pula, kita juga tidak akan mudah silau pada tampilan fisik para tenaga asing yang mungkin saja pernah berprestasi, tapi belum tentu relevan dengan upaya-upaya pengembangan bisnis kita hari ini dan esok. Mereka sendiri kalau tidak melakukan asesmen ulang atas skills dan kompentensi masing-masing, lantas tidak mau pula terus belajar, pada ketinggalan zaman juga.

    Mending kita benahi dulu internal organisasi, tingkatkan kemampuan leadership para eksekutifnya. Setel ulang semua sistem operasional dan benahi proses bisnis agar tidak ada lagi bottleneck. Siapa leader-nya? Orang lokal, utamanya yang  selama ini selalu meningkatkan skills dan kompetensi mereka, available.

     

    Mohamad Cholid  adalah Head Coach di Next Stage Coaching.

    • Certified Executive Coach at Marshall Goldsmith Stakeholder Centered Coaching
    • Certified Marshall Goldsmith Global Leadership Assessment

    Alumnus The International Academy for Leadership, Jerman

    (http://id.linkedin.com/in/mohamad-cholid-694b1528)

    (https://sccoaching.com/coach/mcholid1)

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.


    Oleh: Salsabila Zulfani

    32 menit lalu

    Covid-19, Membuat Tugas Auditor Menjadi Sulit?

    Dibaca : 13 kali

    Covid 19 adalah virus yang menyerang sisem pernapasan. Virus corona dapat menyebabkan gangguan ringan pada sistem pernapasan, infeksi paru-paru berat hingga kematian. Pertama kali ditemukan di kota Wuhan, China pada akhir Desember 2019. Virus ini menular dengan cepat dan telah menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Hampir setiap hari ribuan bahkan ratusan korban infeksi virus corona meregang nyawa. Perekonomian negara terganggu bahkan banyak perusahaan yang harus mengurangi pegawai supaya tidak bangkrut. Dampak Covid 19 ini memang cukup banyak bagi negara terdampak. Lalu bagaimana dengan negara Indonesia?. Indonesia sudah berusaha sedemikian rupa untuk mencegah penularan virus Covid 19 ini,hingga pemerintah menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar ( PSBB ). Bekerja dan belajar dari rumah, hal ini mungkin tidak terlalu sulit sebab teknologi yang semakin canggih di masa sekarang ini. Lalu bagaimana dengan profesi yang harus bekerja turun lapang atau outdoor? Auditor misalnya?. Auditor harus menyambangi perusahaan klien sehingga dapat dengan mudah mengamati sistem pada perusahaan klien. Mengamati bagaimana SOP atau bagan alur setiap kegiatan perusahaan, seperti penjualan, pembelian dan aliran kasnya. Bagaimana auditor harus bekerja dari jarak jauh?. Strategi bagi auditor yang harus bekerja jarak jauh meliputi perencanaan audit, pemeriksaan/pengkajian dokumen, kerja lapangan/melakukan pengamatan, wawancara terhadap pihak yang terkait, dan pertemuan penutupan. Berikut penjelasan singkatnya. Perencanaan Perencanaan audit merupakan hal yang sangat penting di setiap pengauditan. Namun hal ini akan sulit jika pihak klien ada di lokasi yang jauh ataupun sulit terjangkau ( terpencil ). Sementara tahap perencanaan audit ini harus dibahas dengan klien. Informasi yang dapat dibahas dalam tahap ini adalah ruang lingkup perusahaan serta perncanaan jadwal kapan kegiatan audit akan di mulai, tak lupa memberi informasi kepada klien mengenai keterbatasan perihal proses kegiatan audit jarak jauh ini. Serta info apa saja yang akan dibagikan dan dengan tunjangan media atau teknologi apa yang digunakan. Berdasarkan kebutuhan diatas, auditor dapat menghabiskan waktu dua kali lebih banyak guna membahas perencanaan ini. Teknologi yang dapat digunakan dalam hal ini seperti vidio conference dan powerPoint untuk menyampaikan informasi/materi atau dapat menggunakan panduan visual lainnya. Pemeriksaan/Pengkajian Dokumen Pemeriksaan/pengkajian dokumen dari jarak jauh akan memakan waktu cukup banyak serta tak luput dari keterbatasan. Dalam hal ini auditor harus mampu menerima dokumen dalam bentuk/format apapun yang paling mudah diperoleh oleh klien sehingga dapat meminimalisir beban yang ada. Pertimbangan terkait aksesibilitas sistem file digital yang digunakan klien untuk menyimpan rekaman catatan tersebut harus diberikan. Pertimbangan strategi audit yang baik dan tepat juga harus dipikirkan oleh auditor untuk pemeriksaan ataupun pengkajian dokumen, pengambilan sampel dapat menjadi alternatif terbaik. Tergantung pada jumlah rekaman catatan yang ada. Terlepas apakah auditor memeriksa semua atau sebagian dari data yang tersedia. Tidak seperti pemeriksaan/pengkajian rekaman catatan di lokasi, pemeriksaan/pengkajian dokumen dari jarak jauh biasanya tidak memungkinkan untuk memberikan pertanyaan langsung pada saat yang sama. Auditor harus mencatat ataupun menulis hal-hal yang patut dipertanyakan pada klien saat melakukan proses pemeriksaan/pengkajian dokumen, dan dapat ditanyakan saat wawancara jarak jauh. Kerja Lapangan/Pengamatan Hal ini mungkin akan menjadi hal yang cukup sulit bagi audit jarak jauh, pasalnya hal ini biasanya dilakukan dengan menyambangi perusahaan klien. Salah satu cara yang dapat digunakan adalah dengan menggunakan vidio conference ataupun livestreaming. Walaupun tidak terlepas dari kendala-kendala yang ada seperti ketersediaan Wi-Fi, lokasi kerja klien yang berada di tempat terpencil dan kebisingan yang mungkin akan mengganggu proses audit ini. Tidak banyak manfaat yang dapat diperoleh dengan melakukan observasi jarak jauh. Sebab penayangan vidio hanya pada satu titik dan auditor akan kesulitan untuk melakukan pengamatan. Alternatif lain yang dapat diambil adalah dengan foto digital yang dapat diambil dari smartphone milik klien ataupun milik perusahaan. Hal ini dapat menimalisir kendala jaringan yang tidak memungkinkan melakukan vidio conference. Dari hasil pengamatan, audit dapat membuat catatan dan menyiapkan pertanyaan. Wawancara Terhadap Pihak yang Terkait Dalam hal ini mungkin tidak jauh beda dengan wawancara langsung, hanya perlu media penghubung seperti panggilan vidio ataupun semacamnya misalnya Google Meet, Skype dan Zoom. Auditor perlu melakukan perencanaan wawancara seperti berapa lama waktu yang diperlukan dan kepada siapa saja pihak yang perlu diwawancarai. Misalnya dengan penanggung jawab kegiatan, pemegang keluar dan masuknya kas ( kasir ), bagian gudang, penerimaan barang, dan personil lain yang bertanggung jawab dalam mendukung fokus audit. Persiapan wawancara jarak jauh membutuhkan waktu tambahan bagi auditor, serta auditor harus siap dengan daftar pertanyaan dan hal-hal terkait informasi tambahan apa saja yang dibutuhkan berdasarkan pengamatan yang dilakukan sebelumnya. Keterbatasan wawancara jarak jauh ini juga dapat terjadi ketika personil yang diwawancarai merasa canggung, gugup atau tidak nyaman dengan panggilan vidio oleh sebab itu, pemilihan kata dan penempatan intonasi yang bagus dan tepat akan dapat membuat wawancara menjadi tidak tegang. Pertemuan Penutupan Pertemuan penutupan audit jarak jauh memiliki konsep yang sama dengan pertemuan penutupan secara langsung, mungkin memang memerlukan media penghubung. Penjadwalan penutupan ini harus dipertimbangkan oleh auditor, minimal dua hari setelah melakukan wawancara. Sehingga auditor dapat mengkaji kembali catatannya dan menyusun rancangan awal hasil audit. Pertemuan penutupan ini dimaksudkan untuk mrmpresentasikan rancangan awal hasil audit kepada klien, menyelesaikan pertanyaan/permasalahan serta melakukan pembahasan lebih lanjut untuk hasil final audit, yaitu opini dari auditor. Kesimpulan yang dapat di ambil ialah penggunaan teknologi secara praktis. Inovasi dan transformasi teknologi menjadi fokus bisnis serta progam audit di seluruh dunia. Saat ini adalah saat yang tepat untuk mengkomunikasikan lebih lanjut mengenai proses audit jarak jauh. Terdapat beberapa teknologi berkembang yang dapat menunjang kegiatan tersebut antara lain vidio livestreaming, Virtual Reality ( VR ), pesawat tak berawak ( drone ) dan lainnya. Namun semua teknologi pastilah diperlukan biaya tambahan yang mungkin malah mengakibatkan auditor merugi. Jadi pilihlah teknologi yang sesuai dengan bayaran yang diterima. Proses audit jarak jauh bukanlah satu-satunya solusi yang tepat untuk semua masalah. Hal ini bukan pula sebagai pengganti pelaksanaan audit secara langsung. Namun sebagai bagian dari alternatif yang dapat dilakukan di masa pandemi ini.