Budaya Pappasang Turiolo dari Leluhur Desa Limapoccoe Cenrana Maros

Senin, 30 Desember 2019 04:25 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Budaya nashet-menasehati sudah dikenal lama dari leluhur kita. Seperti "pappasang turiolo" dari Desa Limapoccoe Kec. Cenrana Kab. Maros sebagai suku Bugis pun mengenalnya. Apa dan bagaimana?

Tiap daerah pasti punya nilai-nilai budaya. Hanya tidak semua daerah mampu "menyuarakan" nilai positif dari budaya yang dimiliki. Semua berlangsung turun-temurun tanpa bisa disosialisasikan. 

Akibatnya, generasi muda sekarang pun banyak terputus dari nilai-nilai budaya kearifan lokal. Maka kini, saat saya pulang kampung ke Dusun Bengo Desa Limapoccoie Kec. Cenrana Kab. Maros Sulsel bersama istri dan dua anak, misi besar saya adalah memperoleh berbagai pelajaran nilai-nilai budaya lokal suku Bugis Makassar yang jadi "darah daging leluhur" saya, seperti siri'na pancce dan sifat "tiga sipa" sipakatau, sipakalebi, dan sipakainge.

Saat ngobrol-ngobrol di kampung dan silaturahim ke rumah kerabat, ada banyak kehidupan yang disajikan. Pesan-pesan itu menjadi bagian dari tradisi masyarakat Bugis Makassar. Dan salah satunya, pesan bermuatan kearifan yang sarat dengan nilai dan karakter manusia. Yaitu budaya pappasang turiolo, atau budaya nasehat atau petuah.

Pappasang berarti petuah atau pesan atau nasehat. Sedangkan turiolo dapat diartikan petuah atau nasehat dari para leluhur atau orang-orang dahulu. Maka budaya pappasang turiolo pastinya menjadi ajaran moral masyarakat Bugis Makassar yang mengandung nilai etis dan norma-norma dalam sistem sosial maupun sistem budaya.

Karena budaya pappasang turiolo intinya menasehatkan tentang pikiran yang luhur dan pengalaman jiwa yang suci. Tentang pentingnya menasehatkan sifat-sifat yang baik dan buruk dalam kehidupan.

Nilai-nilai luhur bukanlah sesuatu yang berbau mistis. Tapi nilai-nilai luhur yang diajarkan nenek moyang atau leluhur. Karena itu budaya pappasang turiolo sarat dengan makna dan pesan moral, yang dapat dijadikan pedoman hidup. Sebagai pengatur tingkah laku dalam pergaulan di masyarakat. 

Bisa membedakan mana yang baik, mana yang tidak baik. Mana yang akhirnya berdampak buruk, mana yang tidak ada gunanya dikatakan atau dilakukan sama sekali. Pappasang turiolo sebagai budaya Bugis Makassar setidaknya mengingatkan manusia agar "jangan lakukan hal yang sia-sia". Budaya inilah yang diperlukan untuk pembinaan karakter generasi sekarang dan generasi yang akan datang. Nilai edukasi tentang budaya kearifan lokal.

Sebagai contoh masyarakat di Desa Limapoccoe Kec. Cenrana Kab. Maros sebagai bagian rumpun Bugis Makassar sangat menjunjung tinggi pappasang turiolo, seperti: sikap toleransi kepada tamu atau pendatang, lebih baik memelihara keharmonian daripada permusuhan, dan sikap peduli terhadap sesama. Pesan itulah yang disampaikan nenek moyang masyarakat Bugis Makassar beratus-ratus tahun lalu.

Sikap dan perilaku menjaga keseimbangan hidup di dunia dan akhirat pun sangat penting. Menjauhkan diri dari prasangka buruk, bahkan harus mampu mengendalikan diri dalam kondisi apapun menjadi petuah para leluhur masyarakat Bugis Makassar. Pappasang turiolo, mengajak masyarakat agar berhati-hati dalam hidup. 

Tidak selalu kata hati dan pikiran manusia itu benar. Kadang, ada norma para leluhur yang harus tetap dihormati, dihargai. Ketua orang-orang terdahulu adalah "pemarka" kehidupan zaman now.

Pappasang turiolo bukan hanya soal budaya. Tapi lebih dari itu. Agar manusia zaman sekarang jangan sampai terlena oleh kata mutiara hanya untuk memenuhi kekayaan duniawi yang sifatnya sementara saja. Hingga lupa, akan tugas yang sesungguhnya di dunia. Yaitu untuk mengumpulkan bekal untuk menuju kampung akhirat yang lebih kekal...  Pappasang turiolo #DesaLimapoccoe #Maros #LiterasiBudaya

Bagikan Artikel Ini
img-content
Syarifudin

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
Lihat semua