5 Fakta Menarik Film Mangkujiwo a.k.a Kuntilanak 3 - Seleb - www.indonesiana.id
x

Sinta Nurhikmah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 September 2019

Rabu, 22 Januari 2020 06:29 WIB
  • Seleb
  • Berita Utama
  • 5 Fakta Menarik Film Mangkujiwo a.k.a Kuntilanak 3

    Dibaca : 982 kali

    Film trilogi Kuntilanak karya Azhar Kinoi Lubis kembali ditayangkan di layar lebar bioskop, pada akhir bulan tanggal 30 Januari 2020. Setelah sukses dengan menggarap Kuntilanak (2006) dan Kuntilanak 2 pada (2019), kini Mangkujiwo akan menampilkan sebuah cerita dari pengangkatan kisah kuntilanak selanjutnya. Dengan pemain dan sutradara yang berbeda, akan seperti apa, ya, kisahnya? 

    Bersama dengan Djenar Maesa Ayu, Asmara Abigail, dan juga Sujiwo Tejo, kita simak terlebih dahulu yuk lima fakta menariknya berikut ini:

    1. Asal usul munculnya Mangkujiwo

    Selain akan mengupas asal usul tentang lahirnya kuntilanak dalam Kuntilanak 3, dalam film ini juga akan sedikit mengupas tentang asal usul munculnya si Mangkujiwo. Mangkujiwo hadir akibat dari adanya perseteruan antara dua tokoh keraton Brotoseno dan Cokrokusumo. Keduanya sendiri berseteru demi memperebutkan pengaruh dan juga kekuasaan atas Loji Pustaka.

    2. Menggaet para penulis sastra

    Jika biasanya Djenar Maesa Ayu dan juga Sujiwo Tejo dikenal dengan karya-karya sastranya, seperti novel dan puisinya yang apik, kini keduanya bermain dalam dunia peran. Djenar Maesa Ayu memang tak hanya sebagai penulis saja, tetapi juga sebagai produser, sutradara, dan kerap kali tampil di layar lebar, seperti Kartini (2017), Something in Between (2017), Keira (2018), dan masih banyak lagi. Bahkan Sujiwo Tejo pun juga telah mencatat banyak judul film dalam hidupnya, seperti Jani Joni (2005), Sang Pencerah (2010), Soekarno (2013), Kucumbu Tubuh Indahku (2019), Gundala (2019).

    3. Menjadi pembuka Kuntilanak Universe

    Sering disebut-sebut namanya dalam Kuntilanak 1 dan Kuntilanak 2, kini Mangkujiwo akan hadir dalam film Kuntilanak 3. Dalam film ini akan dikupas salah satu sekte atau sebagai dalang untuk munculnya kuntilanak. Mangkujiwo memang sempat ditayangkan pada beberapa film kuntilanak sebelumnya, dan di film yang ketiga ini akan lebih mengupas mengenai keterlibatan Mangkujiwo saat menciptakan Kuntilanak.

    4. Menyuguhkan elemen Jawa kuno

    Ditulis naskahnya oleh Dirmawan Hatta, Mangkujiwo akan menyuguhkan elemen Jawa kuno. Mulai dari unsur-unsur budaya dan juga kebiasaan yang dilakukan di Jawa, akan ditampilkan dalam film horor trilogi Kuntilanak 3. Seperti diketahui juga, bahwa unsur-unsur budaya Jawa memang sering dilekatkan dengan hal-hal mistis yang mencekam. Namun, dengan mengangkat unsur-unsur budaya di Jawa sendiri, kita turut serta memperkenalkannya ke khalayak luas.

    5. Pergantian sutradara

    Jika dalam penggarapan film Kuntilanak 1 dan Kuntilanak 2, Rizal Mantovani lah yang menjadi sutradaranya, di Kuntilanak 3 Azhar Kinoi Lubis yang dipilih. Karena kesuksesannya dalam film Kafir (2018) yang menuai banyak respon positif, Mas Kinoi sapaan akrabnya pun dipercaya telah bisa mengemas film horor dengan apik, ia diharapkan bisa menciptakan kesuksesan di film Mangkujiwo. 

    Setelah mengetahui fakta menarik Mangkujiwo a.k.a Kuntilanak 3, semakin tertarik bukan? Jangan sampai ketinggalan untuk menyaksikan di bioskop ya!


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: iin anggryani

    2 hari lalu

    Kerakusan Manusia untuk Kekuasaan

    Dibaca : 447 kali

    Salam.. Manusia adalah salah satu makhluk yang di ciptakan Allah yang diberi kesempurnaan berupa kelengkapan akal dan nafsu sehingga beda dengan makhluk lainnya. Bumi adalah tempat hidupnya manusia. Manusia adalah makhluk yang paling unik juga na’if. Manusia pada dasarnya adalah makhluk bersosial, bermasyarakat dan berkelompok. Manusia diciptakan dengan dua jenis yaitu laki-laki dan perempuan. Sedangkan kekuasaan adalah kewenangan yang didapatkan atau di berikan kepada salah satu manusia atau kelompok yang dianggap mampu mengemban tugas tersebut. Manusia berlaku sebagai subjek sekaligus objek dalam kekuasaan atau jabatan. Manusia era sekarang ini berlomba-lomba untuk menduduki wewenang kekuasaan, segala cara mereka lakukan agar bisa mendapatkan posisi itu. Yah karena menurut mereka dengan mampu menduduki wilayah kekuasaan itu merupakan sebuah keistimewaan, kebnaggaan bagi mereka. Mereka tidak tahu berani naik dan berada di posisi itu adalah sebuah tanggungjawab besar yang kelak mereka harus memenuhinya, yang banyak manusia lain bertumpu dan beradu nasib padanya. Tapi kita lihat saja koledornya sekarang ini, banyak manusia yang berada di jabatan sebagai pemimpin daerah, desa bahkan Negara yang lupa akan tugas utamanya, menaungi masyarakat sehingga dengan itu banyak sekali kita lihat sekarang ini pemimpin banyak yang dzolim. Banyak sekarang ini terjadi perang saudara, saling bacok membacok, anak membunuh ayah, kakak membuh adek itu tidak lain motifnya karena berebutan kekuasaan. Memang tidak heran lagi banyak orang bilang dari dulu sampai sekarang kekuasaan dan kedudukan selalu saja menjadi objek yang menarik manusia untuk merebutnya. Banyak sekali kita lihat manusia yang menjadi gila karena haus akan kekuasaan, sehingga apapun cara rela dilakukan demi meraihnya. Kekuasaan memang membuat kita lupa diri dan membutakan hati nurani kita. Kekuasaan terlihat seperti madu dari jauh oleh mata manusia yang haus akannya, yang seketika akan berubah jadi racun apabila kita mendekati dan ada didalamnya. Karena ketika kita berada dalam kekuasaan jelas sekali agama dan ajaran moral, etika akan disingkirkan. Harus kejam itulah senjatanya. Ketika berada dalam kekuasaan, orang yang benar dan luruspun bisa menjadi tersesat, apalagi yang sebelumnya tidak benar. Orang bijak pernah mengatakan “bila ingin hidup dalam kebenaran, maka hindarilah untuk masuk dalam kekuasaan”. Orang-orang yang sudah terpedaya dan sangat haus akan kekuasaan akan rela melakukan apa saja dan mengejarnya bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun bahkan rela mengorbankan segala hal. Machiavelli mengatakan pada dasarnya, selalu ada manusia didunia ini yang memiliki ambisi besar untuk berkuasa, dan merealisasikan ambisinya itu dengan berbagai cara. Manusia harusnya dengan kekuasaan itu harus memberikan manfaat dan pelayanan yang baik bagi rakyatnya. Kekuasaan biasanya tergantung dari manusia mana yang memegangnya, kalau orang baik yang memegangnya maka kekuasaan akan digunakan untuk melayani masyarakat sehingga terciptanya kemakmuran, kedamaian, dan keteraturan. Dan sebaliknya kalau orang salah, gila jabatan dan haus akan kekuasaan maka tidak heran lahir semua kehancuran, banyak permusuhan, saling benci dan lain sebagainya. Manusia ketika mendapati sebuah kekuasaan banyak berubahnya, menganggap dirinya yang paling tinggi dari manusia lainnya dan seenaknya memperlalukan yang lainnya. Manggekompo, 18 Januari 2020 I’in Khairudin