Karena Denda FIFA Mahal atau Benar PSSI Mau Mengedukasi Suporter, Lahir DPS - Analisa - www.indonesiana.id
x

PESSI

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 22 Januari 2020 14:42 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Karena Denda FIFA Mahal atau Benar PSSI Mau Mengedukasi Suporter, Lahir DPS

    Mengapa tiba-tiba PSSI membikin Divisi Pembinaan Suporter?

    Dibaca : 1.091 kali

    Mengapa tiba-tiba PSSI membikin Divisi Pembinaan Suporter (DPS)?

    Padahal, selama ini PSSI sangat tak peduli dengan persoalan suporter, malah sebaliknya, rusuh suporter dalam kompetisi liga Indonesia menjadi mesin uang PSSI melalui Komisi Disiplinnya (Komdis) yang sangat gemar menghukum suporter klub dengan denda yang signifikan.

    Jangan-jangan karena akibat denda rusuh suporter dari FIFA saat timnas berlaga, mahal, maka PSSI terpaksa membikin DPS.

    Sudah puluhan tahun sepak bola nasional selalu rusuh oleh suporter, mengapa baru sekarang PSSI menyadari bahwa suporter sepak bola Indonesia, baik suporter klub maupun suporter timnas, yang keberadaannya sangat heterogen bila dilihat dari tingkat pendidikan dan ekonomi, sehingga selalu terjadi ulah suporter yang tak dapat dikendalikan butuh asupan kecerdasan. 

    Butuh wadah edukasi secara formal. Karenanya, Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan mengatakan, pihaknya akan membentuk struktur baru di kepengurusan, yaitu Divisi Pembinaan Suporter (DPS). 

    DPS akan dihuni oleh beberapa pewakilan suporter di dalamnya. Nantinya, Divisi ini bertugas di bawah Kesekjenan PSSI. Tujuan pembentukan DPS adalah untuk memberi edukasi kepada suporter agar tidak merugikan klub ataupun tim nasional. 

    Kedudukan DPS akan langsung di bawah Ketua Umum dan sekjen. Bahkan Iwan juga menyebut bahwa, calonnya ada Budiman Dalimunthe (mantan anggota Komite Pemilihan), yang akan duduk di DPS. 

    Atas rencana yang benar ini, saya perlu mengingatkan Ketua PSSI, bahwa hal-hal yang menyangkut pembinaan dan edukasi, harus dilakukan oleh pihak yang berkompeten dan ahlinya. PSSI jangan sembarangan asal bentuk DPS, lalu ikut-ikutan bagi-bagi kursi jabatan gratis kepada pihak lain yang kapasitas dan kompetensinya perlu dipertanyakan. 

    Bahkan, meski akan melibatkan polisi dalam struktur DPS, PSSI jangan "sok jagoan" menangani suporter tanpa kerjasama dengan stakeholder terkait yang lebih kapabel menangani hal tersebut. 

    Saya sendiri sudah mengusulkan lahirnya wadah edukasi suporter Indonesia sejak diundang menjadi nara sumber oleh Pusat Pengelolaan Komplek Gelora Bung Karno (PPKGBK) saat terjadi kerusuhan suporter seusai GBK di renovasi. Bahkan, saya sudah merancang Buku Panduan Program Edukasi Suporter Sepak Bola Indonesia  (PESSI), sudah memaparkan dan mempresentasikan di hadapan Direktur PPKGB. 

    Saat itu, Direktur PPKGB menyampaikan bahwa, pihaknya hanya terbatas konsentrasi agar SUGBK tidak menjadi ajang rusuh suporter lagi, sehingga mengundang saya untuk mencari solusi alternatif. Melalui Panduan Program PESSI yang saya tawarkan, ternyata hasilnya cukup siginifikan mengatasi rusuh suporter di SUGBK. 

    Berikutnya, saat saya tawarkan agar PPKGBK memelopori mengeduksi suporter sepak bola Indonesia secara nasional, jawab mereka, itu tugas PSSI. Setelah saya menunggu lama pergerakan PSSI, kini, PSSI sudah tergerak hati, membuat wadah DPS. 

    Semoga  lahirnya wadah DPS tidak hanya sekadar bagi-bagi kursi jabatan atau karena denda dari FIFA mahal, namun benar-benar menjadi wadah yang mengedukasi suporter sepak bola nasional. 

    Namun sekali lagi saya ingatkan, suporter sepak bola juga manusia. Mendidik mereka juga ada ilmu dan tata caranya, butuh orang yang ahli di bidangnya. 

    Jadi, jangan kerja setengah-setengah PSSI. Kita tunggu, kehadiran DPS yang  akan segera disahkan oleh PSSI dalam Kongres PSSI pada 25 Januari 2020 di Bali. 

    Kita tunggu, DPS akan seperti apa... 



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.