Orientasi Keilmuan Melalui Pandangan Islam; Kemistikan pada Manusia - Analisa - www.indonesiana.id
x

Kebenaran hirarki

Bunk ham

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 6 Januari 2020

Rabu, 22 Januari 2020 15:29 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Orientasi Keilmuan Melalui Pandangan Islam; Kemistikan pada Manusia

    Dibaca : 1.026 kali

    Orang Barat melihat Islam melalui tabir budaya, haram, poligami, cadar dan radikalis, sementara orang Islam itu sendiri melihat dirinya "ekstrim kanan". Dulu aparat Orde Baru mengkritik kebijakan melalui konsep "anti Pancasila" dan demikian aparat pemerintah Soekarno melihat Masyumi, (PSI) melaui konsep kontra revolusi, sementara orang Amerika dulu melihat Uni Soviet sebagai simbol konsep "tirai besi" dan "dunia merdeka".

    Melihat pusat asumsi tersebut bahwa tidak semuanya pengetahuan dan keilmuan manusia bersifat mutlak. Melainkan hanya terbatas pada hukum alam dan metodelogi berpikir. Yakni, untuk sampai pada kenyataan dan keautentikan makna.

    Proses berfikir dan nalar seorang manusia melihat bahwa tindakan ini selalu dihidupkan oleh nuansa sekular sehingga untuk eksis terhadap kenyataan akan mencuatkan kemistikan pada metafisk, etis, sosial, penalaran ataupun bahkan kenyataan, Kuntowijoyo (2007: 9).

    Kemistitikan metafisik ini yang kemudian sering menjadi acuan nalar dan power imajinasi manusia untuk menaiki puncak  hirarki dan kodrat Tuhan. Melalui kodrat itu hukum Tuhan, kausalitas, akal dan rasio akan sampai pada kenyataan. Bila relasi antara rasio, akal, Tuhan terselubung.

    Tetapi "Rasionalisasi Antropologi" tetap mengklaim bahwa peradaban dan akal manusia akan fakum sekularisme disconnecting Agama. Yang mencoba menduelkan urusan agama terbatas pada urusan individual bukan multi–sara. Atau terkait antara suku, ras, asas dan budaya yang berbeda.

    Dalam konteks keagamaan, misalnya kemistikan terhadap Tuhan bukan hanya sekedar regulatif manusia melainkan bagaimana aturan sikap, etis ataupun tindakan pada sesama bisa menjadi hukum bagi manusia dengan manusia lainya. 

    Sehingga atensi kebebasan manusia, memanusiakan manusia dan merasionalkan manusia akan sampai pada puncak klimaks tertinggi. Seperti akal kesadaran manusia yang dikonstruksikan oleh kemistikan etis. Yang mudah menerima "takdir" tanpa didasari oleh kemauan, harapan atapun bahkan keyakinan. Melainkan hanya berpasrah pada kemistikan itu.

    Proses kelangsungan ini yang kemudian yang memisahkan antara jati diri seorang manusia dengan kondratnya. Tetapi pada intinya manusia dan alam itu adalah antropusentris dan teosentris. Dua mata rantai "berbeda" dengan mata uang yang sama.

    Sebab kemsitikan sosial dan Tuhan adalah ketidakmampuan manusia untuk mengubah pola pikir pada konteks kemanusiaan dan kebudayaan. sedangkan kemistikan Tuhan adalah hilangnya proses power imajinasi dan berfikir manusia untuk sampai pada kenyataan hirarkir.

    Sebab disini korelasi Tuhan, Manusia dan Alam sudah tidak bisa dipisahkan pada agama, akal dan rasio untuk sampai pada proses dan kondisi kenyataan. Yang artinya agama disini memberikan keilmiahan dan kemudahan tehadap "daya fikir" manusia melalui tensi pengamatan, penelaah, serta penilaian; dekodifikasi.

    Tetapi karna adanya perbedaan pemahaman dan metodelogi berfikir ini yang kemudian akan membuat manusia mandek untuk memangkas dan menganalisisnya lebih lanjut.

    Namun pada intinya realitas sosial, seperti yang dikutip oleh Thomas Kuhn berdasarkan pada mode of though atau mode of enquiry lalu menghasilkan mode of knowing itu, hasil yang dikonstruksikan oleh akal yang menjadi sumber pengetahuan dan pemahaman. Yang artinya orientasi Islam bukan hanya sebatas logika dan pemahaman antara kodrat dan hukum Tuhan melainkan bagaimana melihat kemaslahatan dan ketaklikan umat dari kutukan identitas, sosial, agama, ataupun pengetahuan.

    Misalnya ketika pada abad 15/16 filsafat rasionalisme menolak Teosentrisme sebagai upaya untuk meluncurkan rasio dan akal pikiran untuk diagungkan bahwa "hukum dan wahyu tuhan" harus dimusnahkan atau dinistakan.

    Sebab asal muasal kebenaran bukan dari "wahyu Tuhan" melainkan pada "akal manusia". Yang artinya pada saat itu Tuhan tidak diakui keberadaanya dan bahkan tidak mampu membuat hukum hukum. Identitas keberadaan Tuhan ini yang membuat manusia memisahkan persoalan agama, pengetahuan dan sosial melalui konsep akal, pikiran dan tabir kebudayaan.

    Manusia dan Alam

    Qur,an surat Al-hajj ayat: 73 disebutkan
    ‘sesungguhnya yang engkau serukan atau sembah selain Allah tidak dapat menciptkan seekor lalatpun, walaupun mereka telah bersatu menciptakannya dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka dan mereka tidak dapat merebut kembali dari lalat itu, sama lemahnya yang menyembah dengan yang di sembah’’

    Pada dasarnya alam adalah tempat manusia dimana dia bersandar, berpijak dan melangkah pada tujuan yang abadi dan  seutuhnya. Dengan kompleksitas itu bahwa manusia tidak dapat dielakan dan dipisahkan dari refleksi akal dan pikiran yang meresponnya.

    Sehingga apapun yang dirasa bisa menuai pada perasaan yang akan tiba pada pikiran, perasaan dan kemauan; Buya Hamka, 2017: 20. Inilah yang kemudian "memperlihatkan" bahwa manusia selalu dikendali dan diatur oleh hukum akal dan logika untuk sampai pada yang sesungguhnya.

    Dasar pemikiran ini yang seharusnya manusia menggali untuk memahami dan memaknai lebih dalam terhadap rangsangan dari alam itu sendiri. Sehingga apapun yang dianggap kuat dan lemah bisa dirasa dengan keyakinan melalau tindakan etis, moral ataupun perilaku manusia.

    Tetapi kebanyakan manusia mengaktifkan daya berpikirnya melalui tabir budaya, simbol atapun yang identik untuk sampai pada proses imajinasi dan kreatifitas dari sumber kemistikan pada ilusi. Peran dan keyakinan inilah yang mengindikasikan paham Freudialisme, Empirisme, Rasionalisme dan Individualisme meretakan dan memisahkan antara kebenaran hakiki dengan kebenaran ilmiah, Latif M; 2014.

    Plato mengandalkan bahwa dasar-dasar pengetahuan manusia adalah hasil yang diolah dan diciptkan oleh ide yang dikonstruksikan oleh objek kondisi alam terhadap refleksi akal dan pikiran manusia.

    Freud yang terkenal dengan teori consciosness and unconsciousness menafsirkan bahwa kemistikan adalah ilusi, kuntowijoyo; 2006. Sedangkan proses pengaktifan daya imajinasi berpikir manusia melalui konsep logika dan rasio yang didasarkan pada sumber pengetahuan dan pengalaman manusia, (empirisme).

    Oleh karena itu manusia yang didoktrinasi oleh "akal dan ide" tetap mengklaim bahwa sumber daripada kemutlakan kebenaran ada pada unsur ide manusia bukan lahir dari yang sesungguhnya, Karen Amstrom; Kisah Seribu Tahun Mencari Tuhan.

    Ketika akal dan pikiran manusia menguasai alam ide maka kontruksi yang ada dalam sumber pikiran manusia akan tidak sampai pada pusat keauntetikan dan kemutlakan kebenaran Tuhan karna dimana asal muasal pemahaman manusia hanya terbatas pada ruang dan metodelogi berfikirnya.

    Sebenarnya epistemologi pengetahuan bukan hanya kauliyah—hukum alam dan kauniyah—hukum Tuhan tetapi nafsiyah— Sumber makna untuk sampai pada kebenaran yang sesungguhnya.

    Manusia mengenal hukum dan kausalitas hanya bertumpu pada akal dan pikiran bukan pada objek tindakan. Dan begitu pula dalam soal doktrin agama bahwa akal dan rasio manusia tidak bisa dipisahkan dari hukum alam–kausalitas untuk sampai pada fakta yang sebenarnya.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.