Proklamasi Merdeka Belajar Menteri Nadiem - Analisa - www.indonesiana.id
x

Dara Safira

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 Januari 2020

Kamis, 23 Januari 2020 11:04 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Proklamasi Merdeka Belajar Menteri Nadiem

    Dibaca : 974 kali

    Nadiem Makarim: Merdeka Belajar.

    Sebagai Mendikbud Kabinet Indonesia Maju yang dilantik Presiden Jokowi tanggal 23 Oktober 2019, Menteri Nadiem Makarim lekat dengan stigma program Merdeka Belajar.

    Merdeka makna sederhanya adalah lepas dari penindasan. Menjadi mandiri. Beraktivitas dengan leluasa. Bergerak dinamis tanpa intervensi/terkekang.

    Merdeka Belajar: konsepsi yang dicetuskan Menteri Nadiem untuk merobohkan sistem pembelajaran yang kaku. Stagnan. Diam di tempat. Berulang setiap tahun; begitu- begtu saja.

    Dan hanya menuai keluhan. Panen kritik agar ada perubahan (baca: merdeka). Hasilnya juga tanpa perkembangan.

    Menteri Nadiem memproklamirkan Merdeka Belajar.

    Menteri Nadiem --harus diakui-- sangat berani. Dalam waktu tidak lebih dari dua bulan dilantik, Menteri Nadiem mewujudkan kemerdekaan pembelajaran. Merealisasikannya.

    Salut untuk Menteri Nadiem. Jiwa anak mudanya erat menempel. Ingin perubahan.

    Tak tanggung-tangung, empat kebijakan Merdeka Belajar langsung diproklamirkan Menteri Nadiem.

    Pertama. mengubah Ujian Nasional yang selalu jadi masalah dan tuntutan agar ditiadakan sistemnya menjadi Asesmen Kompetensi dan Survei Karakter.

    UN yang bagaikan momok monster bagi murid, tidak lagi pernah ada. Murid tidak perlu cemas lagi masa depan kelulusan sekolah bertahun-tahun hanya ditentukan dalam ujian hitungan hari.

    Kedua, membuat sistem PPDB zonasi lebih fleksibel sehingga semua berpeluang mendapatkan akses pemerataan bersekolah (dan jalurnya masuk murid baru pun ditambah).

    Ketiga, penyederhanaan RPP Guru yang cukup 1 lembar. Hanya memuat 3 inti utamanya saja: tujuan; kegiatan; serta penilaian pembelajaran saja.

    Guru merdeka dari beban administrasi yang biasanya wajib menyelesaikan RPP berpuluh lembar. Guru bisa fokus pada tugas utamanya: mencerdaskan murid.

    Bagaimana pola penerapan pembelajaran di lingkungan sekolah, Menteri Nadiem memberikan keleluasan guru menentukan idenya sendiri.

    Lalu terakhir, mengganti USBN menjadi ujian sekolah saja. Di sini sekolah jadi mandiri. Dapat bergerak lincah membuat kurikulum ujian bagi murid sesuai kompetensi pembelajaran dilakukan.

    Ujian sekolah menghapus standar intervensi dari pusat. Yang belum tentu antar-sekolah punya kesamaan metode ketika memberlakukan pola pembelajaran ke muridnya.

    Itu semua baru sebagian dari proklamasi Merdeka Belajar Menteri Nadiem.

    Yang jelas, di awal didapuk sebagai Mendikbud Kabinet Indonesia Maju, Nadiem memberikan 'kebahagiaan' bagi stakeholder pendidikan dasar dan menengah.

    Memang Merdeka Belajar untuk menciptakan kebahagiaan. Merdeka itu hidup berbahagia. Merdeka itu jalan yang lapang.

    Menteri Nadiem ingin mengimplikasikan makna merdeka pada pendidikan dan pembelajaran di Tanah Air.

    Dimulai dari kemerdekaan di jenjang pendidikan dasar dan menengah.

    Dan sangat mungkin dapat dipahami. Merdeka Belajar tak berhenti sampai di situ.

    Setidaknya, Menteri Nadiem telah membuktikan keberanian. Bahwa pendidikan di Indonesia layak merdeka. Jangan melakoni yang usang.

    Menteri Nadiem, anak muda yang memproklamirkan kemerdekaan belajar.*


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.