Filosofi Manusia Kepo, Orang-orang yang Belum Kelar dengan Diri Sendiri - Analisa - www.indonesiana.id
x

Syarifudin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 April 2019

Senin, 27 Januari 2020 06:46 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Filosofi Manusia Kepo, Orang-orang yang Belum Kelar dengan Diri Sendiri

    Dibaca : 772 kali

    FILOSOFI MANUSIA KEPO

     

    "Barangsiapa yang melihat ke dalam rumah seseorang tanpa izin, maka dia halal dicongkel matanya." Begitulah hadist Nabi Muhammad SAW yang mengingatkan manusia untuk menjauhi sifat kepo. Teguran keras untuk orang-orang yang mau tahu saja urusan orang lain.

    Orang zaman now. Selain lengket sama gadget, juga akrbab dengan “sifat kepo”. Orang-orang yang kerjaannya mengintip laju orang lain; mau tahu urusan orang lain lalu bercerita yang lebih banyak negatifnya.

    Sebut saja, manusia kepo.

    Lagaknya seperti orang perhatian, seperti manusia peduli. Memulai dengan pertanyaan. “Ehh, si anu kerjanya di mana? Dia sudah nikah belum? Tinggalnya di mana?”. Begitulah kaum kepo untuk memulai obrolannya.

    Kirain hanya sampai di situ. Ternyata masih berlanjut bertanya. “Ohh, ternyata sama di anu yang dulu bla bla bla ….”. Terus ditambah lagi, "Rumahnya masih ngontrak apa udah punya sendiri..?". Nah di situlah, kaum kepo mulai bertindak. Lalu, asyik masyuk ngomongin orang. Seolah-seolah, mereka orang yang paling benar.

    Manusia kepo itu bertanya tidak hanya sekali. Tapi berlanjut dan berjilid-jilid.

    Segala rupa ditanyain. Pengen tahu ini, pengen tahu itu. Lalu ditambah, analisis yang semuanya prasangka. Maklum, manusia kepo itu sebagian besar berpendidikan. Kepo, pengen tahu banyak. Atas dalih perhatian. Lalu ingin cari "lubang" untuk melemahkan orang lain; mencari-cari kesalahan orang lain. Itulah cara kerja manusia kepo.

    Banyak orang lupa. Kepo itu sebab awal mula manusia jadi senang bergunjing. Manusia yang gemar membicarakan orang lain lalu lupa tentang dirinya sendiri. Gemar mencari aib orang lain; ber-tajasssus ria. Senang bertanya, tapi untuk urusan yang tidak ada manfaatnya.

    Manusia kepo. Sebut saja manusia yang ingin tahu banyak urusan orang lain. Karena dia sendiri tidak pernah kelar dengan dirinya sendiri. Kepo itu bukan soal boleh atau tidak boleh. Tapi kepo soal moral, soal akhlak.

    Karena sifat kepo, biasanya lahir dari rasa ingin tahu yang dimuali dari niat dan perasaan yang tidak baik. Terlalu mau tahu urusan orang lain. Atau bisa jadi iri dan benci pada orang yang diceritakannya. Kepo, mereka yang lebih peduli untuk "melihat ke luar" daripada "menengok ke dalam".

    Lalu, apa yang salah dari kepo?

    Tentu, tidak ada yang salah bagi yang tidak tahu moral. Karena bila salah, kaum kepo-is pasti sudah masuk penjara. Seperti koruptor, penerima suap atau penjahat yang tertangkap. Manusia kepo sering lupa. Bahwa tiap orang itu punya sisi baik dan sisi buruk. Karena hidup memang realitasnya ada baik ada buruk. Maka harus bisa diterima dengan lapang dada. Soal apapun, pada siapapun.

    Manusia kepo itu lupa.

    "Allah itu membenci tiga perkara: 1) bergosip, 2) menyia-nyiakan harta, dan 3) banyak bertanya“. Begitu kata Nabi Muhammad SAW. Apalagi bila akhirnya jadi bikin mudharat, ketimbang maslahat.

    Jadi tidak usah kepo.

    Untuk apa bertanya. Bila akhirnya menyusahkan diri sendiri. Apalagi bikin orang lain tidak nyaman. Lalu, merusak hubungan baik yang telah terjalin. Sungguh, lebih baik introspeksi diri. Karena bila orang lain salah, tentu diri kita belum tentu benar.

    Maka berhati-hatilah. Karena manusia kepo, tanda bahwa dia belum kelar dengan dirinya sendiri. Sehingga gagal berbuat baik pada orang lain. Jauh dari bermanfaat untuk orang lain.

    Manusia kepo. Hanya bisa menilai orang lain dengan standar dirnya sendiri. Tapi gagal, menilai dirinya sendiri dengan standar orang lain. Dasar kepo … #BudayaLiterasi #FilosofiKepo

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.










    Oleh: iin anggryani

    3 hari lalu

    Kerakusan Manusia untuk Kekuasaan

    Dibaca : 556 kali

    Salam.. Manusia adalah salah satu makhluk yang di ciptakan Allah yang diberi kesempurnaan berupa kelengkapan akal dan nafsu sehingga beda dengan makhluk lainnya. Bumi adalah tempat hidupnya manusia. Manusia adalah makhluk yang paling unik juga na’if. Manusia pada dasarnya adalah makhluk bersosial, bermasyarakat dan berkelompok. Manusia diciptakan dengan dua jenis yaitu laki-laki dan perempuan. Sedangkan kekuasaan adalah kewenangan yang didapatkan atau di berikan kepada salah satu manusia atau kelompok yang dianggap mampu mengemban tugas tersebut. Manusia berlaku sebagai subjek sekaligus objek dalam kekuasaan atau jabatan. Manusia era sekarang ini berlomba-lomba untuk menduduki wewenang kekuasaan, segala cara mereka lakukan agar bisa mendapatkan posisi itu. Yah karena menurut mereka dengan mampu menduduki wilayah kekuasaan itu merupakan sebuah keistimewaan, kebnaggaan bagi mereka. Mereka tidak tahu berani naik dan berada di posisi itu adalah sebuah tanggungjawab besar yang kelak mereka harus memenuhinya, yang banyak manusia lain bertumpu dan beradu nasib padanya. Tapi kita lihat saja koledornya sekarang ini, banyak manusia yang berada di jabatan sebagai pemimpin daerah, desa bahkan Negara yang lupa akan tugas utamanya, menaungi masyarakat sehingga dengan itu banyak sekali kita lihat sekarang ini pemimpin banyak yang dzolim. Banyak sekarang ini terjadi perang saudara, saling bacok membacok, anak membunuh ayah, kakak membuh adek itu tidak lain motifnya karena berebutan kekuasaan. Memang tidak heran lagi banyak orang bilang dari dulu sampai sekarang kekuasaan dan kedudukan selalu saja menjadi objek yang menarik manusia untuk merebutnya. Banyak sekali kita lihat manusia yang menjadi gila karena haus akan kekuasaan, sehingga apapun cara rela dilakukan demi meraihnya. Kekuasaan memang membuat kita lupa diri dan membutakan hati nurani kita. Kekuasaan terlihat seperti madu dari jauh oleh mata manusia yang haus akannya, yang seketika akan berubah jadi racun apabila kita mendekati dan ada didalamnya. Karena ketika kita berada dalam kekuasaan jelas sekali agama dan ajaran moral, etika akan disingkirkan. Harus kejam itulah senjatanya. Ketika berada dalam kekuasaan, orang yang benar dan luruspun bisa menjadi tersesat, apalagi yang sebelumnya tidak benar. Orang bijak pernah mengatakan “bila ingin hidup dalam kebenaran, maka hindarilah untuk masuk dalam kekuasaan”. Orang-orang yang sudah terpedaya dan sangat haus akan kekuasaan akan rela melakukan apa saja dan mengejarnya bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun bahkan rela mengorbankan segala hal. Machiavelli mengatakan pada dasarnya, selalu ada manusia didunia ini yang memiliki ambisi besar untuk berkuasa, dan merealisasikan ambisinya itu dengan berbagai cara. Manusia harusnya dengan kekuasaan itu harus memberikan manfaat dan pelayanan yang baik bagi rakyatnya. Kekuasaan biasanya tergantung dari manusia mana yang memegangnya, kalau orang baik yang memegangnya maka kekuasaan akan digunakan untuk melayani masyarakat sehingga terciptanya kemakmuran, kedamaian, dan keteraturan. Dan sebaliknya kalau orang salah, gila jabatan dan haus akan kekuasaan maka tidak heran lahir semua kehancuran, banyak permusuhan, saling benci dan lain sebagainya. Manusia ketika mendapati sebuah kekuasaan banyak berubahnya, menganggap dirinya yang paling tinggi dari manusia lainnya dan seenaknya memperlalukan yang lainnya. Manggekompo, 18 Januari 2020 I’in Khairudin