#SeninCoaching: Melihat Dengan Seratus Mata - Analisa - www.indonesiana.id
x

Li Jinbao jadi Pendekar One Hundred Eyes setelah buta

Mohamad Cholid

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 27 Januari 2020 12:42 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • #SeninCoaching: Melihat Dengan Seratus Mata

    Dibaca : 1.115 kali

    #Leadership Growth: Effectiveness is a Habit

    Mohamad Cholid, Practicing Certified Executive and Leadership Coach

     

    Li Jinbao melumpuhkan 25 orang tentara Mongol dalam upayanya melindungi Kuil Wudang. Namun kemudian ia terpojok dan dipenjara. Dalam upaya melarikan diri, Li Jinbao membunuh sejumlah orang lagi, salah satunya adalah anak seorang jenderal yang sangat berjasa bagi Kublai Khan.

    Di mata Kublai Khan itu merupakan tindakan kriminal tak termaafkan, “Crime beyond crime,” katanya. Hukuman untuk itu, saat ditangkap lagi, Li Jinbao, dalam keadaan leher dipasung dan tangan terikat, matanya disemprot bisa langsung dari mulut seekor ular kobra. Li Jinbao buta.

    Usai kemarahan Kublai Khan reda, dalam salah satu dialog sembari main bidak dan minum anggur, Li Jinbao, yang kondisinya sudah pulih, diingatkan, “Kamu dihukum karena membunuh anak Sobotai, salah seorang jenderal andalanku, ya.”

    Kublai Khan seperti ingin menjelaskan rule of the game pemerintahannya, sekaligus memberikan isyarat telah memaafkan Li Jinbao membunuh sejumlah anggota pasukan Mongol lainnya.

    Li Jinbao tertawa. “Kamu telah memberiku hadiah. Menjadi buta malah membuatku mampu melihat dengan seratus mata.” Li Jinbao lantas memainkan salah satu bidaknya, menyerang posisi bidak Kublai Khan.

    Perbincangan saat itu tampak akrab, sekaligus lugas, to the point. Kublai Khan mau merangkul Li Jinbao agar bekerja sama, antara lain jadi pelatih kung fu calon putra mahkota.

    Itu petikan adegan “One Hundred Eyes”, satu episode film kisah-kisah yang menggambarkan penaklukan Mongolia atas China dibawah Kublai Khan diiringi upaya menyatukan budaya dan menghargai tradisi setempat. Film tersebut ada di Netflix.

    Dalam sejarah China yang sangat panjang, pemerintahan Kublai Khan, yang bersedia mempelajari tradisi pemikiran di wilayah taklukannya itu, di kemudian hari dikenal banyak memberikan kontribusi.

    Setelah melumpuhkan Dinasti Song, Kublai Khan mendirikan Dinasti Yuan (1279 – 1368) dan menyatukan China, serta membangun Beijing sebagai pusat pemerintahan. Kublai Khan dianggap berjasa pula untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan pemberlakuan uang kertas yang didukung oleh cadangan emas.  

    Kisah Li Jinbao menjadi Pendekar Seratus Mata, justru setelah buta, mungkin saja dramatisasi pergulatan batin seorang praktisi seni bela diri papan atas dalam berinteraksi dengan realitas dan perubahan sejarah. Itu merupakan ilustrasi menarik menggambarkan upaya-upaya manusia menembus keterbatasan. Dalam kondisi buta, Li Jinbao mengembangkan jurus-jurus baru dan mematangkan diri.

    Kata Li Jinbao, para rahib di Wudang menggunakan waktu mereka untuk menuju “kasunyatan”, puncak kekosongan. Melumpuhkan ego pribadi, menggapai Langit. Li Jinbao sendiri merasa kurang pas disebut tidak takut mati. Ia lebih senang disebut, “tidak terikat pada hidup.”

    Jalan keabadian yang indah hanya bisa ditempuh setelah seseorang berhasil mengatasi dirinya, lepas dari nafsu keduniaan.

    Akhirat lebih indah dari kegemilangan dunia, menurut ajaran Islam.

    Sekarang, untuk memacu kompetensi diri, mampu “melihat dengan seratus mata” seperti Li Jinbao, kita tentunya tidak harus buta (atau membutakan diri terhadap dunia). Barangkali lebih tepat tidak mabok atau lupa diri pada kesementaraan.

    Untuk menjadi diri kita yang lebih baik, lepas dari self-limiting belief atau batasan-batasan semu yang kita ciptakan dalam angan-angan, rasanya kata-kata Lao Tzu pas untuk kita terapkan: “When I let go of what I am, I become what I might be.”

    Bahasa lugasnya barangkali begini: Kalau Anda ingin memperoleh pendapatan yang lebih baik dari sekarang, lebihkan diri sendiri dulu – dengan meningkatkan kompetenssi dan kesiapan diri, mengubah menjadi eksekutif lebih efektif, memantaskan diri.

    Dari proses yang dilakukan Kublai Khan dalam upayanya membangun China, hal mendasar yang tetap relevan untuk kita pakai menghadapi situasi sekarang adalah bahwa kepemimpinan bukan sekedar penaklukan suatu wilayah (organisasi).

    Kenapa penting? Sampai hari ini masih dapat kita temukan para eksekutif yang mendapatkan kepercayaan memimpin suatu organisasi, datang dengan semangat menaklukkan.

    Energi mereka lebih banyak untuk mendongkrak ego, mengumbar kemarahan, membanggakan prestasi sebelumnya – padahal tidak ada jaminan cara-cara kerja di tempat sebelumnya dapat diandalkan untuk memimpin wilayah tanggung jawab sekarang dengan baik, apalagi excellent.

    Kublai Khan memang menegakkan rule of the game, tapi selalu membuka diri mempelajari, merangkul potensi budaya dan memanfaatkan kekuatan resources wilayah yang dipimpinnya. Dia dinilai berhasil menyatukan China, memberikan kontribusi positif dalam pengembangan peradaban – tentu dengan sejumlah catatan, upayanya tidak selalu mulus.

    Eksekutif yang berhasil keluar dari keterbatasan masa lalu dan egonya, menjadi pemimpin efektif, lazimnya fokus pada kekuatan diri dan tim, untuk memberikan kontribusi positif bagi kemajuan organisasi.

    Sebaliknya, masih sering terjadi, orang-orang pintar yang menjadi eksekutif terjerumus ke dalam kesia-siaan, atau kegagalan. Ini akibat perilaku kepemimpinan mereka masih belum mampu keluar dari hiruk-pikuk kesibukan trivial, arus rentetan kejadian, “operating”.  

    Kata Peter Drucker, “Effectiveness is a habit. That is a complex of practices. And practices can always be learned.

    Meningkatkan kompetensi agar mampu “melihat dengan seratus mata”, sanggup memimpin secara efektif, dan berkontribusi untuk menuju perubahan positif, tentunya merupakan kebutuhan setiap individu yang dipercaya menjadi leader di organisasi, profit dan nonprofit. Dari level supervisor sampai CEO.

     

    Mohamad Cholid  adalah Head Coach di Next Stage Coaching.

    • Certified Executive Coach at Marshall Goldsmith Stakeholder Centered Coaching
    • Certified Marshall Goldsmith Global Leadership Assessment

    Alumnus The International Academy for Leadership, Jerman

    (http://id.linkedin.com/in/mohamad-cholid-694b1528)

    (https://sccoaching.com/coach/mcholid1)


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.










    Oleh: iin anggryani

    3 hari lalu

    Kerakusan Manusia untuk Kekuasaan

    Dibaca : 553 kali

    Salam.. Manusia adalah salah satu makhluk yang di ciptakan Allah yang diberi kesempurnaan berupa kelengkapan akal dan nafsu sehingga beda dengan makhluk lainnya. Bumi adalah tempat hidupnya manusia. Manusia adalah makhluk yang paling unik juga na’if. Manusia pada dasarnya adalah makhluk bersosial, bermasyarakat dan berkelompok. Manusia diciptakan dengan dua jenis yaitu laki-laki dan perempuan. Sedangkan kekuasaan adalah kewenangan yang didapatkan atau di berikan kepada salah satu manusia atau kelompok yang dianggap mampu mengemban tugas tersebut. Manusia berlaku sebagai subjek sekaligus objek dalam kekuasaan atau jabatan. Manusia era sekarang ini berlomba-lomba untuk menduduki wewenang kekuasaan, segala cara mereka lakukan agar bisa mendapatkan posisi itu. Yah karena menurut mereka dengan mampu menduduki wilayah kekuasaan itu merupakan sebuah keistimewaan, kebnaggaan bagi mereka. Mereka tidak tahu berani naik dan berada di posisi itu adalah sebuah tanggungjawab besar yang kelak mereka harus memenuhinya, yang banyak manusia lain bertumpu dan beradu nasib padanya. Tapi kita lihat saja koledornya sekarang ini, banyak manusia yang berada di jabatan sebagai pemimpin daerah, desa bahkan Negara yang lupa akan tugas utamanya, menaungi masyarakat sehingga dengan itu banyak sekali kita lihat sekarang ini pemimpin banyak yang dzolim. Banyak sekarang ini terjadi perang saudara, saling bacok membacok, anak membunuh ayah, kakak membuh adek itu tidak lain motifnya karena berebutan kekuasaan. Memang tidak heran lagi banyak orang bilang dari dulu sampai sekarang kekuasaan dan kedudukan selalu saja menjadi objek yang menarik manusia untuk merebutnya. Banyak sekali kita lihat manusia yang menjadi gila karena haus akan kekuasaan, sehingga apapun cara rela dilakukan demi meraihnya. Kekuasaan memang membuat kita lupa diri dan membutakan hati nurani kita. Kekuasaan terlihat seperti madu dari jauh oleh mata manusia yang haus akannya, yang seketika akan berubah jadi racun apabila kita mendekati dan ada didalamnya. Karena ketika kita berada dalam kekuasaan jelas sekali agama dan ajaran moral, etika akan disingkirkan. Harus kejam itulah senjatanya. Ketika berada dalam kekuasaan, orang yang benar dan luruspun bisa menjadi tersesat, apalagi yang sebelumnya tidak benar. Orang bijak pernah mengatakan “bila ingin hidup dalam kebenaran, maka hindarilah untuk masuk dalam kekuasaan”. Orang-orang yang sudah terpedaya dan sangat haus akan kekuasaan akan rela melakukan apa saja dan mengejarnya bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun bahkan rela mengorbankan segala hal. Machiavelli mengatakan pada dasarnya, selalu ada manusia didunia ini yang memiliki ambisi besar untuk berkuasa, dan merealisasikan ambisinya itu dengan berbagai cara. Manusia harusnya dengan kekuasaan itu harus memberikan manfaat dan pelayanan yang baik bagi rakyatnya. Kekuasaan biasanya tergantung dari manusia mana yang memegangnya, kalau orang baik yang memegangnya maka kekuasaan akan digunakan untuk melayani masyarakat sehingga terciptanya kemakmuran, kedamaian, dan keteraturan. Dan sebaliknya kalau orang salah, gila jabatan dan haus akan kekuasaan maka tidak heran lahir semua kehancuran, banyak permusuhan, saling benci dan lain sebagainya. Manusia ketika mendapati sebuah kekuasaan banyak berubahnya, menganggap dirinya yang paling tinggi dari manusia lainnya dan seenaknya memperlalukan yang lainnya. Manggekompo, 18 Januari 2020 I’in Khairudin