5 Fakta Menarik Sinetron "Ratapan Ibu Tiri" yang Gantikan "Putri Mahkota" - Analisa - www.indonesiana.id
x

Sinta Nurhikmah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 September 2019

Selasa, 28 Januari 2020 16:12 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • 5 Fakta Menarik Sinetron "Ratapan Ibu Tiri" yang Gantikan "Putri Mahkota"

    Dibaca : 935 kali

    Di awal tahun yang sudah memasuki minggu terakhir ini ANTV tengah gencar-gencarnya menampilkan drama dan sinetron terbarunya. Salah satunya adalah sinetron berjudul Ratapan Ibu Tiri yang akan diperankan oleh Amanda Manopo dan Atalarik Syah. Jika biasanya ibu tiri memiliki pandangan sebagai ibu sambung yang jahat, lain halnya dengan Khanza yang disiksa oleh keluarganya.

    Bayu (Atalarik Syah) yang diberikan wasiat oleh sang istri sebelum pergi meninggalkanya untuk menikah lagi karena anak-anak yang masih belia, akhirnya menepati janji sang mantan istrinya tersebut. Ia memilih Khanza (Amanda Manopo) untuk menjadi ibu sambung atau ibu tiri bagi anak-anaknya. Meski memilihnya sebagai istri, tetapi Bayu tak bisa memberikan rasa cinta seutuhnya kepada Khanza dan anak-anak Bayu, yaitu Dhani serta Nadia yang bersekongkol untuk mendepak Khanza dari rumahnya.

    Melalui kisahnya yang begitu menyedihkan, sinetron ini pun memiliki fakta-fakta lain yang patut diketahui sebelum sinetron Ratapan Ibu Tiri berlabuh di layar kaca. Lima fakta yang ada adalah sebagai berikut:

    1. Tantangan Amanda Manopo untuk berperan sebagai sosok ibu

    Meski memang bukan kali pertama bagi Amanda Manopo untuk berperan sebagai sosok ibu di sinetron yang diperankannya, tetapi di sinetron ini menurutnya lebih tertantang. Amanda harus berperan sebagai ibu dengan tiga anak, yang mana kedua anaknya sudah beranjak dewasa hampir setara dengan usianya di dunia nyata. Sebelumnya di sinetron Hati yang Terpilih dan Embun, Amanda pun telah berhasil memerankan sebagai sosok ibu. Hal inilah yang membuatnya ditunjuk sebagai sosok ibu tiri di Ratapan Ibu Tiri.

    2. Dihujani pemain muda berbakat

    Saat menyaksikan sinetron di layar kaca dan diperankan oleh Atalarik Syah, Adi Nugroho, Amanda Manopo, Helsi Herlinda, dan Deden Bagaskara tentu sudah tidak asing dengan wajah aktor-aktor di atas. Para aktor yang sudah memerankan banyak tokoh di judul sinetron tersebut akan menghiasi alur cerita Ratapan Ibu Tiri. Namun, tak hanya mereka saja yang akan menemani pemirsa sekalian, terdapat nama-nama aktor muda yang masih jarang tampil di layar kaca tetapi sudah mahir berakting. Diantaranya seperti Firman Ferdiansyah (Dhani) dan Khalisa Farah (Nadia) mungkin masih asing ya. Keduanya akan turut serta berakting dengan para seniornya, dengan berperan sebagai anak dari Bayu (Atalarik Syah)

    3. Pengganti Putri Mahkota

    Usainya sinetron Putri Mahkota langsung digantikan dengan sinetron Ratapan Ibu Tiri yang akan tayang perdana mulai malam ini, 27 Januari 2020 pada pukul 18.00. Waktu tayang yang sangat pas dengan usainya melaksanakan kegiatan harian, akan membuat para penonton semakin hanyut dalam kisah Khanza sang ibu tiri yang tersiksa.

    4. Penyesuaian pemeran utama

    Diakui oleh Atalarik, bahwa kehilangan seorang istri dan harus mengurus tiga anak memang membutuhkan sebuah penyesuaian lebih. Meski bukan penyesuaian yang terlalu rumit, tetapi ia begitu menikmati perbedaan umur yang ada dengan Amanda yang berperan sebagai ibu tiri.

    5. Pesan yang disampaikan dalam sinetron

    Lewat sinetron yang sebentar lagi akan tayang ini, terdapat pesan moral yang bisa diambil, bahwa tidak semua ibu tiri memiliki hati yang jahat dan buruk. Bagaimanapun, meski bukan sosok ibu yang melahirkan anak-anak tersebut, tetapi sebagai anak tetap harus menghormatinya sebagaimana para ibu diagungkan.

    Nah bagaimana? Semakin tergugah untuk menyaksikan sinetron Ratapan Ibu Tiri petang nanti? Jangan lupa, ya, Senin sampai dengan Minggu pukul 18.00 hanya di ANTV.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.










    Oleh: iin anggryani

    3 hari lalu

    Kerakusan Manusia untuk Kekuasaan

    Dibaca : 556 kali

    Salam.. Manusia adalah salah satu makhluk yang di ciptakan Allah yang diberi kesempurnaan berupa kelengkapan akal dan nafsu sehingga beda dengan makhluk lainnya. Bumi adalah tempat hidupnya manusia. Manusia adalah makhluk yang paling unik juga na’if. Manusia pada dasarnya adalah makhluk bersosial, bermasyarakat dan berkelompok. Manusia diciptakan dengan dua jenis yaitu laki-laki dan perempuan. Sedangkan kekuasaan adalah kewenangan yang didapatkan atau di berikan kepada salah satu manusia atau kelompok yang dianggap mampu mengemban tugas tersebut. Manusia berlaku sebagai subjek sekaligus objek dalam kekuasaan atau jabatan. Manusia era sekarang ini berlomba-lomba untuk menduduki wewenang kekuasaan, segala cara mereka lakukan agar bisa mendapatkan posisi itu. Yah karena menurut mereka dengan mampu menduduki wilayah kekuasaan itu merupakan sebuah keistimewaan, kebnaggaan bagi mereka. Mereka tidak tahu berani naik dan berada di posisi itu adalah sebuah tanggungjawab besar yang kelak mereka harus memenuhinya, yang banyak manusia lain bertumpu dan beradu nasib padanya. Tapi kita lihat saja koledornya sekarang ini, banyak manusia yang berada di jabatan sebagai pemimpin daerah, desa bahkan Negara yang lupa akan tugas utamanya, menaungi masyarakat sehingga dengan itu banyak sekali kita lihat sekarang ini pemimpin banyak yang dzolim. Banyak sekarang ini terjadi perang saudara, saling bacok membacok, anak membunuh ayah, kakak membuh adek itu tidak lain motifnya karena berebutan kekuasaan. Memang tidak heran lagi banyak orang bilang dari dulu sampai sekarang kekuasaan dan kedudukan selalu saja menjadi objek yang menarik manusia untuk merebutnya. Banyak sekali kita lihat manusia yang menjadi gila karena haus akan kekuasaan, sehingga apapun cara rela dilakukan demi meraihnya. Kekuasaan memang membuat kita lupa diri dan membutakan hati nurani kita. Kekuasaan terlihat seperti madu dari jauh oleh mata manusia yang haus akannya, yang seketika akan berubah jadi racun apabila kita mendekati dan ada didalamnya. Karena ketika kita berada dalam kekuasaan jelas sekali agama dan ajaran moral, etika akan disingkirkan. Harus kejam itulah senjatanya. Ketika berada dalam kekuasaan, orang yang benar dan luruspun bisa menjadi tersesat, apalagi yang sebelumnya tidak benar. Orang bijak pernah mengatakan “bila ingin hidup dalam kebenaran, maka hindarilah untuk masuk dalam kekuasaan”. Orang-orang yang sudah terpedaya dan sangat haus akan kekuasaan akan rela melakukan apa saja dan mengejarnya bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun bahkan rela mengorbankan segala hal. Machiavelli mengatakan pada dasarnya, selalu ada manusia didunia ini yang memiliki ambisi besar untuk berkuasa, dan merealisasikan ambisinya itu dengan berbagai cara. Manusia harusnya dengan kekuasaan itu harus memberikan manfaat dan pelayanan yang baik bagi rakyatnya. Kekuasaan biasanya tergantung dari manusia mana yang memegangnya, kalau orang baik yang memegangnya maka kekuasaan akan digunakan untuk melayani masyarakat sehingga terciptanya kemakmuran, kedamaian, dan keteraturan. Dan sebaliknya kalau orang salah, gila jabatan dan haus akan kekuasaan maka tidak heran lahir semua kehancuran, banyak permusuhan, saling benci dan lain sebagainya. Manusia ketika mendapati sebuah kekuasaan banyak berubahnya, menganggap dirinya yang paling tinggi dari manusia lainnya dan seenaknya memperlalukan yang lainnya. Manggekompo, 18 Januari 2020 I’in Khairudin