Pelajaran Berharga dari Wabah Virus Corona - Analisa - www.indonesiana.id
x

Putu Suasta

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 Juli 2019

Selasa, 28 Januari 2020 11:30 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Pelajaran Berharga dari Wabah Virus Corona

    Dibaca : 815 kali

    *Putu Suasta, Alumnus Fisipol UGM dan Cornell University

     

    Laporan terbaru South China Morning Post menyebutkan bahwa virus baru yang diberi nama corona telah menelan korban jiwa 106 orang dengan jumlah pasien yang terdeteksi positif terinfeksi sebanyak 4559 orang di lebih dari 5 negara. Bahaya virus ini dan kecepatan penyebarannya sungguh mengerikan. Sebagai gambaran, pemerintah China sekarang menerapkan kebijakan karantina (menutup akses keluar-masuk) di Wuhan dan beberapa kota lainnya.

    Sumber: South Morning China Post

    Mengingat kepadatan kota-kota di China dalam kunjungan singkat akhir tahun lalu, tak berlebihan rasanya mengatakan bahwa China menorehkan sejarah baru dengan melakukan karantina terbesar dalam sejarah. Kota-kota metropolit itu dihuni lebih dari 10 juta jiwa dan belum ada satupun negara di dunia pernah melakukan karantina untuk penduduk sebesar itu.

    CNN Internasional memperkirakan sekitar 30 juta penduduk terdampak oleh karantina tersebut dan menguatkan dugaan, inilah karaktina terbesar dalam sejarah. Untuk menyukseskannya, tentu butuh logistik, sumber daya manusia dan biaya sangat besar. Kebijakan tersebut menyadarkan kita betapa serius ancaman wabah baru ini sehingga pemerintah China menempuh langkah yang sangat beresiko dan akan menelan kerugian raksasa.

    Sumber: CNN News

    Di luar ancaman virus tersebut dari segi medis, kegemparan di seluruh dunia yang disebabkannya tak kalah mengerikan dan mesti juga diantisipasi serius. Sangat disayangkan bahwa sejumlah media beradu cepat melaporkan segala hal yang berkaitan dengan wabah tersebut tanpa benar-benar menguji validitas isi berita.

    Tak sedikit media berbahasa Inggris yang turut menyebarkan teori-teori konspirasi yang kemudian diviralkan di media sosial. Sebagian menyebarkan kembali berita dan vidio-vidio lama, baik untuk mendukung teori konspirasi maupun untuk mendiskreditkan RAS tertentu. Indonesia berada di urutan terdepan dalam praktek memalukan ini. Catatan Drone Emprit memperlihatkan bahwa jumlah pembicaraan tentang coronavirus di media-media sosial Indonesia, melebihi jumlah pembicaraan dengan topik serupa di negara manapun. Sebagian besar isi pembicaraan tersebut adalah isu-isu konspirasi dan banyak dibalut dengan sentimen-setimen rasial.

    Data percakapan di media sosial tentang coronavirus (sumber: akun twitter @Ismailfahmi)

    Meningkatkan kewaspadaan tentang penyebaran virus tersebut memang sangat penting, tapi membanjiri ruang publik dengan teori-teori konspirasi dan hoaks dapat memicu kepanikan yang daya rusaknya bisa lebih parah dari virus itu sendiri. Karena itu, sudah saatnya pemerintah mengambil langkah serius untuk melakukan pencerahan kepada publik, termasuk menginformasikan langkah-langkah antisipasi yang harus dilakukan.

    Momentum ini juga perlu digunakan untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya gaya hidup sehat. Betapapun topik ini terdengar klise, kebijakan pemerintah China melarang perdagangan binatang-binatang liar patut ditiru di Indonesia dengan pelaksanaan aturan serupa lebih ketat. Kendati para ahli belum sepakat, dugaan sementara virus tersebut berasal dari salah satu pasar binatang liar di Wuhan.

    China memang telah lama terkenal sebagai pusat kuliner makanan-makanan eksotis seperti ular, kura-kura, tikus, beruang dan berbagai hewan liar lainnya. Praktek ini kemungkinan besar akan segera berakhir dan kita berharap kelestarian alam akan semakin terjaga ke depan.

    Indonesia sebagai salah satu negara paling kaya di dunia dari segi keragaman fauna telah lama dikritisi karena masifnya perburuan hewan-hewan liar yang menjadi santapan para penikmat kuliner eksotik. Maka pemerintah semestinya menggunakan momentum ini untuk lebih serius mensosialisasikan pentingnya kelestarian alam dan memperketat pelarangan perburuan dan perdagangan binantang-binatang liar.

    Masyarakat mesti diberi pecerahan tentang pentingnya budaya hidup sehat dengan mengonsumsi binatang-binatang yang diternakkan dengan benar. Masyarakat yang sehat tentu akan lebih kuat menghadapi serangan penyakit apapun.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.










    Oleh: iin anggryani

    3 hari lalu

    Kerakusan Manusia untuk Kekuasaan

    Dibaca : 555 kali

    Salam.. Manusia adalah salah satu makhluk yang di ciptakan Allah yang diberi kesempurnaan berupa kelengkapan akal dan nafsu sehingga beda dengan makhluk lainnya. Bumi adalah tempat hidupnya manusia. Manusia adalah makhluk yang paling unik juga na’if. Manusia pada dasarnya adalah makhluk bersosial, bermasyarakat dan berkelompok. Manusia diciptakan dengan dua jenis yaitu laki-laki dan perempuan. Sedangkan kekuasaan adalah kewenangan yang didapatkan atau di berikan kepada salah satu manusia atau kelompok yang dianggap mampu mengemban tugas tersebut. Manusia berlaku sebagai subjek sekaligus objek dalam kekuasaan atau jabatan. Manusia era sekarang ini berlomba-lomba untuk menduduki wewenang kekuasaan, segala cara mereka lakukan agar bisa mendapatkan posisi itu. Yah karena menurut mereka dengan mampu menduduki wilayah kekuasaan itu merupakan sebuah keistimewaan, kebnaggaan bagi mereka. Mereka tidak tahu berani naik dan berada di posisi itu adalah sebuah tanggungjawab besar yang kelak mereka harus memenuhinya, yang banyak manusia lain bertumpu dan beradu nasib padanya. Tapi kita lihat saja koledornya sekarang ini, banyak manusia yang berada di jabatan sebagai pemimpin daerah, desa bahkan Negara yang lupa akan tugas utamanya, menaungi masyarakat sehingga dengan itu banyak sekali kita lihat sekarang ini pemimpin banyak yang dzolim. Banyak sekarang ini terjadi perang saudara, saling bacok membacok, anak membunuh ayah, kakak membuh adek itu tidak lain motifnya karena berebutan kekuasaan. Memang tidak heran lagi banyak orang bilang dari dulu sampai sekarang kekuasaan dan kedudukan selalu saja menjadi objek yang menarik manusia untuk merebutnya. Banyak sekali kita lihat manusia yang menjadi gila karena haus akan kekuasaan, sehingga apapun cara rela dilakukan demi meraihnya. Kekuasaan memang membuat kita lupa diri dan membutakan hati nurani kita. Kekuasaan terlihat seperti madu dari jauh oleh mata manusia yang haus akannya, yang seketika akan berubah jadi racun apabila kita mendekati dan ada didalamnya. Karena ketika kita berada dalam kekuasaan jelas sekali agama dan ajaran moral, etika akan disingkirkan. Harus kejam itulah senjatanya. Ketika berada dalam kekuasaan, orang yang benar dan luruspun bisa menjadi tersesat, apalagi yang sebelumnya tidak benar. Orang bijak pernah mengatakan “bila ingin hidup dalam kebenaran, maka hindarilah untuk masuk dalam kekuasaan”. Orang-orang yang sudah terpedaya dan sangat haus akan kekuasaan akan rela melakukan apa saja dan mengejarnya bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun bahkan rela mengorbankan segala hal. Machiavelli mengatakan pada dasarnya, selalu ada manusia didunia ini yang memiliki ambisi besar untuk berkuasa, dan merealisasikan ambisinya itu dengan berbagai cara. Manusia harusnya dengan kekuasaan itu harus memberikan manfaat dan pelayanan yang baik bagi rakyatnya. Kekuasaan biasanya tergantung dari manusia mana yang memegangnya, kalau orang baik yang memegangnya maka kekuasaan akan digunakan untuk melayani masyarakat sehingga terciptanya kemakmuran, kedamaian, dan keteraturan. Dan sebaliknya kalau orang salah, gila jabatan dan haus akan kekuasaan maka tidak heran lahir semua kehancuran, banyak permusuhan, saling benci dan lain sebagainya. Manusia ketika mendapati sebuah kekuasaan banyak berubahnya, menganggap dirinya yang paling tinggi dari manusia lainnya dan seenaknya memperlalukan yang lainnya. Manggekompo, 18 Januari 2020 I’in Khairudin