Tradisi Adat Pesta Meja Panjang di Berau - Travel - www.indonesiana.id
x

Rizki Siahaan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 Januari 2020

Rabu, 29 Januari 2020 06:28 WIB
  • Travel
  • Berita Utama
  • Tradisi Adat Pesta Meja Panjang di Berau

    Dibaca : 667 kali

    Indonesia adalah rumah bagi beragam suku dan kebudayaan. Dimana tiap-tiap suku memliki tradisi tersendiri yang tentunya memiliki ciri khas masing-masing. Namun, pernahkah kamu merasakan pengalaman mengikuti tradisi adat? Khususnya adat suku Dayak? Bila belum mungkin kamu bisa datang ke Berau tepatnya di Kampung Merasa Kabupaten Berau Kalimantan Timur disana kamu bisa merasakan keseruan dan kehangatan tradisi adat Pesta Meja Panjang.

    Tradisi Pesta Meja Panjang sendiri adalah tradisi yang sudah berlangsung secara turun-temurun dimana seluruh warga di Kampung Merasa akan menyajikan makanan di atas meja panjang di depan rumahnya masing-masing, lalu tiap-tiap warga akan saling berkunjung ke rumah tetangga lainnya untuk mencicipi makanan yang ada. Makanan yang disajikan pun bebas dimakan siapa saja.

    Selain mempertahankan tradisi dan budaya Dayak, tradisi Pesta Meja Panjang ini juga menyimpan nilai-nillai luhur seperti semangat kebersamaan, gotong-royong dan juga toleransi. Untuk itu Bupati Berau H. Muharram menginginkan agar tradisi ini bisa berjalan terus di tengah perubahan zaman.

    Dilansir dari laman disbudpar.berau.go.id, Bupati Berau H. Muharram menekankan dukungan Pemerintah Kabupaten Berau terhadap tradisi Pesta Meja Panjang, “Pemkab Berau mendukung tradisi warga masyarakat Dayak agar tradisi ini bisa mendunia.” Tradisi Pesta Meja Panjang sendiri telah masuk kalender wisata tahunan Pemerintah Kabupaten Berau dan Provinsi Kalimantan Timur.

    Jadi bagi kamu yang ingin merasakan keseruan dan kehangatan dan juga pengalaman tradisi adat Dayak, jangan ragu untuk datang ke Berau.

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.







    Oleh: Nabil Irhamsyah

    Rabu, 12 Februari 2020 10:01 WIB

    Surga Bawah Laut Itu Bernama Berau

    Dibaca : 278 kali



    Oleh: Nabil Irhamsyah

    Rabu, 12 Februari 2020 09:59 WIB

    Jalur Trekking Baru di Labuan Cermin

    Dibaca : 294 kali







    Oleh: iin anggryani

    2 hari lalu

    Kerakusan Manusia untuk Kekuasaan

    Dibaca : 453 kali

    Salam.. Manusia adalah salah satu makhluk yang di ciptakan Allah yang diberi kesempurnaan berupa kelengkapan akal dan nafsu sehingga beda dengan makhluk lainnya. Bumi adalah tempat hidupnya manusia. Manusia adalah makhluk yang paling unik juga na’if. Manusia pada dasarnya adalah makhluk bersosial, bermasyarakat dan berkelompok. Manusia diciptakan dengan dua jenis yaitu laki-laki dan perempuan. Sedangkan kekuasaan adalah kewenangan yang didapatkan atau di berikan kepada salah satu manusia atau kelompok yang dianggap mampu mengemban tugas tersebut. Manusia berlaku sebagai subjek sekaligus objek dalam kekuasaan atau jabatan. Manusia era sekarang ini berlomba-lomba untuk menduduki wewenang kekuasaan, segala cara mereka lakukan agar bisa mendapatkan posisi itu. Yah karena menurut mereka dengan mampu menduduki wilayah kekuasaan itu merupakan sebuah keistimewaan, kebnaggaan bagi mereka. Mereka tidak tahu berani naik dan berada di posisi itu adalah sebuah tanggungjawab besar yang kelak mereka harus memenuhinya, yang banyak manusia lain bertumpu dan beradu nasib padanya. Tapi kita lihat saja koledornya sekarang ini, banyak manusia yang berada di jabatan sebagai pemimpin daerah, desa bahkan Negara yang lupa akan tugas utamanya, menaungi masyarakat sehingga dengan itu banyak sekali kita lihat sekarang ini pemimpin banyak yang dzolim. Banyak sekarang ini terjadi perang saudara, saling bacok membacok, anak membunuh ayah, kakak membuh adek itu tidak lain motifnya karena berebutan kekuasaan. Memang tidak heran lagi banyak orang bilang dari dulu sampai sekarang kekuasaan dan kedudukan selalu saja menjadi objek yang menarik manusia untuk merebutnya. Banyak sekali kita lihat manusia yang menjadi gila karena haus akan kekuasaan, sehingga apapun cara rela dilakukan demi meraihnya. Kekuasaan memang membuat kita lupa diri dan membutakan hati nurani kita. Kekuasaan terlihat seperti madu dari jauh oleh mata manusia yang haus akannya, yang seketika akan berubah jadi racun apabila kita mendekati dan ada didalamnya. Karena ketika kita berada dalam kekuasaan jelas sekali agama dan ajaran moral, etika akan disingkirkan. Harus kejam itulah senjatanya. Ketika berada dalam kekuasaan, orang yang benar dan luruspun bisa menjadi tersesat, apalagi yang sebelumnya tidak benar. Orang bijak pernah mengatakan “bila ingin hidup dalam kebenaran, maka hindarilah untuk masuk dalam kekuasaan”. Orang-orang yang sudah terpedaya dan sangat haus akan kekuasaan akan rela melakukan apa saja dan mengejarnya bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun bahkan rela mengorbankan segala hal. Machiavelli mengatakan pada dasarnya, selalu ada manusia didunia ini yang memiliki ambisi besar untuk berkuasa, dan merealisasikan ambisinya itu dengan berbagai cara. Manusia harusnya dengan kekuasaan itu harus memberikan manfaat dan pelayanan yang baik bagi rakyatnya. Kekuasaan biasanya tergantung dari manusia mana yang memegangnya, kalau orang baik yang memegangnya maka kekuasaan akan digunakan untuk melayani masyarakat sehingga terciptanya kemakmuran, kedamaian, dan keteraturan. Dan sebaliknya kalau orang salah, gila jabatan dan haus akan kekuasaan maka tidak heran lahir semua kehancuran, banyak permusuhan, saling benci dan lain sebagainya. Manusia ketika mendapati sebuah kekuasaan banyak berubahnya, menganggap dirinya yang paling tinggi dari manusia lainnya dan seenaknya memperlalukan yang lainnya. Manggekompo, 18 Januari 2020 I’in Khairudin