Guru Penggerak di Abad "Cendol Dawet" - Analisa - www.indonesiana.id
x

guru nautika smkn 1 giritontro

Hajar Budi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 28 Januari 2020

Rabu, 29 Januari 2020 10:08 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Guru Penggerak di Abad "Cendol Dawet"

    Dibaca : 392 kali

    Pidato mentri Pendidikan dan Kebudayaan pada Kabinet Indonesia maju tepat pada hari Ulang Tahun Guru Republik Indonesia memberi harapan bagi kalangan guru di seluruh pelosok tanah air.  Ini benar–benar ungkapan hati  seorang guru diwakili sekaligus dirasakan dan di dengar langsung oleh  Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Mengapa demikian?

    Sebab Keberadaan fungsi dan peran guru dalam dunia pendidikan merupakan salah satu faktor yang berpengaruh secara signifikan dan bersentuhan langsung dengan peserta didik.  Sebab guru merupakan kurikulum tersembunyi bagian terpenting dalam proses belajar mengajar, baik di jalur pendidikan formal, informal maupun nonformal.

    Dalam setiap upaya peningkatan kualitas pendidikan, guru tidak dapat dilepaskan dari berbagai hal yang berkaitan dengan eksistensinya sebagai guru. Sebab tugas utama seorang guru adalah mengajar dan mendidik. Sebuah Kalimat serupa tapi berbeda makna. Mendidik  merupakan panggilan jiwa yang unik dalam pribadi dan pengabdian yang lahir dari hati nurani yang bobotnya adalah pembentukan sikap mental/kepribadian bagi anak didik bukan sekadar profesi apalagi semata–mata hanya mengharapkan gaji. Sedangkan mengajar bobotnya penguasaan pengetahuan, ketrampilan dan keahlian tertentu yang berlangsung bagi semua manusia pada semua usia.

    Lantas seperti apa pemahaman terhadap guru? Guru memiliki posisi sebagai intelektual akademisi sekaligus sebagai pesuruh. Alih-alih mengadopsi makna civil servant (pelayan masyarakat), guru di masa kini lebih terlihat sebagai pesuruh pemerintah yang menjalankan segala tuntutan kurikulum dengan kaku yang selalu bergonta-ganti. Sehingga guru acapkali meninggalkan siswanya belajar mandiri di kelas, sebab guru disibukkan oleh urusan-urusan lain, entah urusan itu berkaitan langsung dengan pengajaran maupun urusan pekerjaan kedua di luar mengajar di kelas. Bahkan ini sudah menjadi “tradisi” dalam dunia pendidikan.

    Frekuensi kemangkiran guru di dalam ruang kelas bukan tidak ada sebabnya. Seiring tingginya tuntutan pemerintah yang mewajibkan guru mulai harus mengikuti Pendidikaan Profesi Guru dalam Jabatan (PPGj) baik secara online maupun tatap muka. Guru wajib memenuhi administrasi kurikulum, personal, administrasi siswa, tata laksana, administrasi saran dan kegiatan hubungan sekolah-masyarakat yang meliputi akreditasi sekolah, Internasional standar organesasi (ISO), penilaian Kinerja Kepala Sekolah (PKKS) sehingga membuat para guru mengalami kelelahan fisik dan mental yang berimbas banyaknya kelas yang kosong pada saat jam kegiatan belajar mengajar (KBM) berlangsung yang “ditinggalkan ” karena kesibukan guru. Tapi apapun alasannya, guru meninggalkan kewajiban mengajar di kelas tidak bisa dibenarkan. 

    Tapi Bagaimana tidak, seorang guru sudah harus berada di lingkungan sekolah sebelum pukul 07.00 wib dan baru pulang sekolah paling cepat pukul 17.00 wib setiap hari. Tentu saja harus memiliki stamina tubuh yang sehat dan kuat agar tetap bisa menyampaikan materi pelajaran dengan kualitas sama baiknya dan sama primanya kepada peserta didik.

    Belum lagi mendidik dan membimbing karakter anak yang berbeda latar belakang serta mengondisikan anak-anak juga tak kalah penting dibutuhkan  energy yang luar biasa. Kelelahan fisik ini masih pula ditambah beban pikiran yang harus mereka hadapi dirumah mengurus keluarga.

    Akibat dari sibuknya guru diluar tugas utamanya mengajar dan mendidik, guru juga lupa dengan tugas lain seperti harus senantiasa meng-upgrade diri dengan membaca, melatih diri tentang metode dan model pembelajaran yang menarik sehingga dalam penyampaian pembelajaran cenderung  tidak variatif, tidak kreatif dan tidak inovatif  serta  monoton.  Dampaknya yang parah adalah siswa menjadi korbannya, tidak bisa menguasai kompetensi keahlian sesuai tuntutan jaman yang selalu berubah dengan cepat dan  korban terbesar adalah masyarakat sebagai pengguna purna pendidikan sebab  siswa yang dihasilkan tidak memenuhi harapan.

    Namun apa yang terjadi saat ini? Bahwa fenomena saat ini banyak hal yang disukai siswa pada saat jam pelajaran tidak ada gurunya alias zonk, guru tidak memberi tugas apapun saat mangkir dari kelas tapi memberi nilai bagus di rapotnya, soal ulangan yang diberikan sudah dibocorkan seminggu sebelumnya dalam bentuk kisi-kisi, model semacam ini banyak ditemui baik di jenjang pendidikan dasar, menengah bahkan pendidikan tinggi sekalipun.

    Ada banyak ketidakberesan di sana sini. Ada banyak kecurangan yang terjadi. Seakan semua sudah maklum dengan hal ini. Seakan ini bukan lagi dinilai dosa bagi si pelakunya. Hal ini terjadi tak hanya di kota-kota  besar, pelosok pedesaan Bahkan  juga terjadi disekolah “pinggiran”yang jauh dari peradaban. Hal inilah yang mendorong guru  dalam mendidik siswa “tanpa busana”(tanpa punya rasa malu) dalam memberikan penilaian kepada peserta didik.

    Tulisan ini ungkapan hati penulis  yang sangat miris melihat peristiwa dalam dunia pendidikan dewasa ini yang dialami kebanyakan guru yang sering meninggalkan pada saat jam kegiatan belajar mengajar (KBM) berlangsung dikelas dengan alasan tuntutan kurikulum, sebab apapun alasannya peran seorang guru tidak bisa tergantikan dalam proses pendidikan demi terbentuknya karakter bangsa yang tercermin dalam sikap, sifat, perilaku, tindakan, gaya nalar, gaya merespons dan corak pengambilan keputusan peserta didik atas suatu perkara.

    Sebagai renungan bersama, mari senantiasa berusaha menjadi guru profesional sekaligus menjadi pahlawan cendikia dalam melaksanakan tugas utama dan meningkatkan nilai diri agar siswa menjadi terdidik dan bisa meneruskan cita-cita mulia negeri tercinta tanpa “noda” akademik untuk  menuju Indonesia MAJU.

     

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.










    Oleh: iin anggryani

    3 hari lalu

    Kerakusan Manusia untuk Kekuasaan

    Dibaca : 555 kali

    Salam.. Manusia adalah salah satu makhluk yang di ciptakan Allah yang diberi kesempurnaan berupa kelengkapan akal dan nafsu sehingga beda dengan makhluk lainnya. Bumi adalah tempat hidupnya manusia. Manusia adalah makhluk yang paling unik juga na’if. Manusia pada dasarnya adalah makhluk bersosial, bermasyarakat dan berkelompok. Manusia diciptakan dengan dua jenis yaitu laki-laki dan perempuan. Sedangkan kekuasaan adalah kewenangan yang didapatkan atau di berikan kepada salah satu manusia atau kelompok yang dianggap mampu mengemban tugas tersebut. Manusia berlaku sebagai subjek sekaligus objek dalam kekuasaan atau jabatan. Manusia era sekarang ini berlomba-lomba untuk menduduki wewenang kekuasaan, segala cara mereka lakukan agar bisa mendapatkan posisi itu. Yah karena menurut mereka dengan mampu menduduki wilayah kekuasaan itu merupakan sebuah keistimewaan, kebnaggaan bagi mereka. Mereka tidak tahu berani naik dan berada di posisi itu adalah sebuah tanggungjawab besar yang kelak mereka harus memenuhinya, yang banyak manusia lain bertumpu dan beradu nasib padanya. Tapi kita lihat saja koledornya sekarang ini, banyak manusia yang berada di jabatan sebagai pemimpin daerah, desa bahkan Negara yang lupa akan tugas utamanya, menaungi masyarakat sehingga dengan itu banyak sekali kita lihat sekarang ini pemimpin banyak yang dzolim. Banyak sekarang ini terjadi perang saudara, saling bacok membacok, anak membunuh ayah, kakak membuh adek itu tidak lain motifnya karena berebutan kekuasaan. Memang tidak heran lagi banyak orang bilang dari dulu sampai sekarang kekuasaan dan kedudukan selalu saja menjadi objek yang menarik manusia untuk merebutnya. Banyak sekali kita lihat manusia yang menjadi gila karena haus akan kekuasaan, sehingga apapun cara rela dilakukan demi meraihnya. Kekuasaan memang membuat kita lupa diri dan membutakan hati nurani kita. Kekuasaan terlihat seperti madu dari jauh oleh mata manusia yang haus akannya, yang seketika akan berubah jadi racun apabila kita mendekati dan ada didalamnya. Karena ketika kita berada dalam kekuasaan jelas sekali agama dan ajaran moral, etika akan disingkirkan. Harus kejam itulah senjatanya. Ketika berada dalam kekuasaan, orang yang benar dan luruspun bisa menjadi tersesat, apalagi yang sebelumnya tidak benar. Orang bijak pernah mengatakan “bila ingin hidup dalam kebenaran, maka hindarilah untuk masuk dalam kekuasaan”. Orang-orang yang sudah terpedaya dan sangat haus akan kekuasaan akan rela melakukan apa saja dan mengejarnya bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun bahkan rela mengorbankan segala hal. Machiavelli mengatakan pada dasarnya, selalu ada manusia didunia ini yang memiliki ambisi besar untuk berkuasa, dan merealisasikan ambisinya itu dengan berbagai cara. Manusia harusnya dengan kekuasaan itu harus memberikan manfaat dan pelayanan yang baik bagi rakyatnya. Kekuasaan biasanya tergantung dari manusia mana yang memegangnya, kalau orang baik yang memegangnya maka kekuasaan akan digunakan untuk melayani masyarakat sehingga terciptanya kemakmuran, kedamaian, dan keteraturan. Dan sebaliknya kalau orang salah, gila jabatan dan haus akan kekuasaan maka tidak heran lahir semua kehancuran, banyak permusuhan, saling benci dan lain sebagainya. Manusia ketika mendapati sebuah kekuasaan banyak berubahnya, menganggap dirinya yang paling tinggi dari manusia lainnya dan seenaknya memperlalukan yang lainnya. Manggekompo, 18 Januari 2020 I’in Khairudin