Peduli Kesehatan, Mahasiswa KKN UMM Kelompok 09 Lakukan Penanaman Tanaman Obat Keluarga - Peristiwa - www.indonesiana.id
x

Alfian Noor

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 16 Januari 2020

Minggu, 2 Februari 2020 13:06 WIB
  • Peristiwa
  • Berita Utama
  • Peduli Kesehatan, Mahasiswa KKN UMM Kelompok 09 Lakukan Penanaman Tanaman Obat Keluarga

    Dibaca : 450 kali

    Jumat, 31 Januari 2020 KKN UMM Kelompok 09 melakukan penanaman Tanaman Obat Keluarga (TOGA) di Taman RT.01, RW.05 Desa Wonorejo. Kegiatan tersebut dihadiri oleh Kepala Desa Wonorejo, Perangkat Desa Wonorejo, Masyarakat Desa Wonorejo dan Mahasiswa KKN UMM Kelompok 09. Adapun KKN UMM Kelompok 09 menanaman Tanaman Obat Keluarga (TOGA) sebanyak 20 Jenis yaitu: Daun sirih, Lidah buaya, Kunyit, Jahe, Temulawak, Kencur, Seledri, Belimbing Wuluh, Broto Wali Sambiloto, Binahong, Asam Jawa, Cabai Jawa, Cengkeh, Jeruk Nipis, Kapulaga, Cocor Bebek, beluntas, Kumis Kucing dan Pegagan. Tujuan dari adanya penanaman tanaman obat keluarga ditujukan untuk membuat apotek hidup di desa wonerjo yang nantinya dapat dimanfaatkan warga sekitar, selain itu tujuan lain dari adanya penanaman tanaman obat keluarga adalah untuk memenuhi kebutahan keluarga akan obat-obatan.
    Ahmad Ali Afifudin selaku perwakilan dari Divisi Kesehatan dan Lingkungan KKN UMM Kelompok 09 Desa Wonorejo menjelaskan dengan adanya penanaman Tanaman Obat Keluarga (TOGA) merupakan wujud kepedulian dari KKN UMM Kelompok 09 kepada warga Desa Wonorejo, karena dengan adanya tanaman obat keluarga merupakan salah satu cara untuk memenuhi keperluan keluarga akan obat-obatan. Kemudian ia juga berharap bahwa kedepannya Tanaman Obat Keluarga (TOGA) dapat memberikan manfaat yang besar bagi warga Desa Wonorejo. Sementara itu, H. Sokeh selaku Kepala Desa Wonorejo sangat mendukung adanya kegiatan yang dilakukan oleh KKN UMM Kelompok 09, kemudian ia juga berharap nantinya Tanaman Obat Keluarga (TOGA) dapat bermanfaat bagi warga Desa Wonorejo.
    Sementara itu Moh. Jufri selaku Dosen Pembimbing Lapangan mengapresiasi ide KKN 09 UMM yang melakukan penanaman TOGA, Selain untuk memenuhi kebutuhan obat-obatan herbal keluarga. Diharapkan dengan adanya apotik hidup yang ditanam ini akan sangat bermanfaat, baik nantinya digunakan sebagai obat tradisional yang sifatnya mencegah atau mengobati berbagai penyakit akut hingga kronis sekalipun, sebagai bumbu pelengkap masakan atau menambah nilai estetika tersendiri jika tertanam dengan tertata rapi. Selanjutnya jufri menjelaskan bahwa sudah banyak penelitian tentang macam-macam tanaman obat yang tersedia di lingkungan, tanaman obat juga tidak kalah dengan obat yang sudah banyak dijual di toko atau apotik.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: iin anggryani

    2 hari lalu

    Kerakusan Manusia untuk Kekuasaan

    Dibaca : 452 kali

    Salam.. Manusia adalah salah satu makhluk yang di ciptakan Allah yang diberi kesempurnaan berupa kelengkapan akal dan nafsu sehingga beda dengan makhluk lainnya. Bumi adalah tempat hidupnya manusia. Manusia adalah makhluk yang paling unik juga na’if. Manusia pada dasarnya adalah makhluk bersosial, bermasyarakat dan berkelompok. Manusia diciptakan dengan dua jenis yaitu laki-laki dan perempuan. Sedangkan kekuasaan adalah kewenangan yang didapatkan atau di berikan kepada salah satu manusia atau kelompok yang dianggap mampu mengemban tugas tersebut. Manusia berlaku sebagai subjek sekaligus objek dalam kekuasaan atau jabatan. Manusia era sekarang ini berlomba-lomba untuk menduduki wewenang kekuasaan, segala cara mereka lakukan agar bisa mendapatkan posisi itu. Yah karena menurut mereka dengan mampu menduduki wilayah kekuasaan itu merupakan sebuah keistimewaan, kebnaggaan bagi mereka. Mereka tidak tahu berani naik dan berada di posisi itu adalah sebuah tanggungjawab besar yang kelak mereka harus memenuhinya, yang banyak manusia lain bertumpu dan beradu nasib padanya. Tapi kita lihat saja koledornya sekarang ini, banyak manusia yang berada di jabatan sebagai pemimpin daerah, desa bahkan Negara yang lupa akan tugas utamanya, menaungi masyarakat sehingga dengan itu banyak sekali kita lihat sekarang ini pemimpin banyak yang dzolim. Banyak sekarang ini terjadi perang saudara, saling bacok membacok, anak membunuh ayah, kakak membuh adek itu tidak lain motifnya karena berebutan kekuasaan. Memang tidak heran lagi banyak orang bilang dari dulu sampai sekarang kekuasaan dan kedudukan selalu saja menjadi objek yang menarik manusia untuk merebutnya. Banyak sekali kita lihat manusia yang menjadi gila karena haus akan kekuasaan, sehingga apapun cara rela dilakukan demi meraihnya. Kekuasaan memang membuat kita lupa diri dan membutakan hati nurani kita. Kekuasaan terlihat seperti madu dari jauh oleh mata manusia yang haus akannya, yang seketika akan berubah jadi racun apabila kita mendekati dan ada didalamnya. Karena ketika kita berada dalam kekuasaan jelas sekali agama dan ajaran moral, etika akan disingkirkan. Harus kejam itulah senjatanya. Ketika berada dalam kekuasaan, orang yang benar dan luruspun bisa menjadi tersesat, apalagi yang sebelumnya tidak benar. Orang bijak pernah mengatakan “bila ingin hidup dalam kebenaran, maka hindarilah untuk masuk dalam kekuasaan”. Orang-orang yang sudah terpedaya dan sangat haus akan kekuasaan akan rela melakukan apa saja dan mengejarnya bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun bahkan rela mengorbankan segala hal. Machiavelli mengatakan pada dasarnya, selalu ada manusia didunia ini yang memiliki ambisi besar untuk berkuasa, dan merealisasikan ambisinya itu dengan berbagai cara. Manusia harusnya dengan kekuasaan itu harus memberikan manfaat dan pelayanan yang baik bagi rakyatnya. Kekuasaan biasanya tergantung dari manusia mana yang memegangnya, kalau orang baik yang memegangnya maka kekuasaan akan digunakan untuk melayani masyarakat sehingga terciptanya kemakmuran, kedamaian, dan keteraturan. Dan sebaliknya kalau orang salah, gila jabatan dan haus akan kekuasaan maka tidak heran lahir semua kehancuran, banyak permusuhan, saling benci dan lain sebagainya. Manusia ketika mendapati sebuah kekuasaan banyak berubahnya, menganggap dirinya yang paling tinggi dari manusia lainnya dan seenaknya memperlalukan yang lainnya. Manggekompo, 18 Januari 2020 I’in Khairudin