Filosofi "Nrimo', Pilihan Terbaik Ada Pada Sikap Menerima - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Syarifudin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 April 2019

Kamis, 6 Februari 2020 12:53 WIB
  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Filosofi "Nrimo', Pilihan Terbaik Ada Pada Sikap Menerima

    Dibaca : 450 kali

    Filosofi "Nrimo", Sehebat Apa pun Pikiran Akhirnya Harus Menerima

    Hari ini, makin banyak orang yang sulit menerima keadaan. Obsesinya tinggi, lalu daya tolaknya kuat. Gagal menerima realitas. Ogah nrimo, begitulah kira-kira bahasa orang kampungnya.

    Nrimo, sikap dan perilaku yang kian langka. Apalagi bila dicampur-aduk dengan logika dan emosi, sungguh makin sulit diterima.

    Virus corona itu ada dan mematikan, harus nrimo. Bahwa Monas harus direvitalisasi, kadang harus nrimo. Bahwa WNI eks ISIS mau pulang terus ditolak pun harus nrimo. Lha wong Walikota Surabaya pun nrimo diminta maaf oleh perempuan yang menghinanya, sekalipun tidak dikenalnya. Nrimo alias menerima.

    Karena semua yang terjadi tergantung pada niatnya masing-masing. Dan mereka sendiri yang akan tanggung akibatnya bila salah niat. Saya percaya itu. Karena tidak ada perbuatan sekecil apapun yang tidak ada akibatnya. Positif atau negatif, baik atau buruk; pasti sesuatu dengan niatnya.

    Sikap "nrimo". Artinya "menerima" realitas atau kenyataan. Karena harapan kadang berbeda dengan kenyataan. Nrimo, karena tidak semua yang kita pikir baik, itu baik juga buat orang lain. Bahkan dalam banyak sisi kehidupan, siapapun perlu lebih nrimo, lebih legowo.

    Bila ada yang belum atau tidak "nrimo". Bisa jadi, mereka sedang hidup dalam harapan dan mimpinya. Sulit menerima kenyataan. Karena nrimo hanya dimiliki mereka yang berjiwa besar. Jadi nrimo, level psikologisnya sangat tinggi. Tidak semua orang bisa "nrimo".

    Filosofi nrimofilsafat tentang menerima.

    Nrimo itu ya menerima. Menerima apa yang sudah dianugerahkan-Nya. Nrimo bila Presiden terpilihnya seperti itu. Nrimo Gubernur DKI yang lebih gemar retorika. Nrimo bila kawan kita seperti itu. Dan akhirnya, nrimo bahwa bila tidak mampu sama pun tidak perlu dilarang beda.

    Termasuk nrimo, bila ada orang yang kerjanya menulis. Lalu ada pula yang kerjanya nyeletuk sedikit-sedikit bak nenek-nenek lagi nginang. Kita nrimo saja.

    Nrimo apa ya yang harus diterima?

    Tentu, apa saja nrimo. Bersedia menerima realitas daripada memperkuat daya tolak. Agar energi tidak habis untuk hal-hal yang negatif, apalagi memupuk kebencian yang tidak pernah berakhir.

    Zaman now, kadang aneh. Sekolah makin tinggi tapi makin tidak bisa nrimo. Status sosial makin tinggi tapi makin gebyah uyah sulit menerima. Beda pendapat tidak boleh, beda sudut pandang dimusuhi. Aneh, orang-orang yang sulit nrimo.

    Katanya percaya, hidup manusia itu sudah ada yang atur. Tapi kenapa tidak menrima kenyataan. Hidupnya sendiri sulit diterima, apalagi hidup orang lain. Manusia suka lupa. Asal sudah ikhtiar dan doa, apalagi tugasnya selain "nrimo", menerima dengan lapang dada.

    Nrimo itu bukan kepasrahan.

    Karena nrimo itu harus didahului ikhtiar. Usaha dulu. Apapun hasilnya baru nrimo, dengan penuh rasa syukur. Kalau kata Bahasa Jawa, nrimo ing pandum; menerima dengan legowo. Sikap berserah diri terhadap apa yang dianugerahkan Allah. Soal apapun, untuk apapun.

    Nrimo, seperti cerita tetangga saya. Ia baru saja kehilangan kedua anaknya. Anak pertamanya, meninggal dunia. Akibat sakit yang tidak diketahui sebelumnya. Selang setahun kemudian. Anak keduanya pun dipanggil Illahi karena tertabrak di jalan saat sedang bermain. Sedih banget. Tapi, tetangga saya tetap tegar dan mampu menutupi rasa dukanya, seolah tidak terjadi apa-apa. Nrimo sekali.

    Lapang dada dan menerima kenyataan. Tanpa perlu menyalahkan yang menabrak, apalagi menyalahkan Tuhan. Saat saya ucapkan ikut berduka cita, lalu ia menjawab, "Terima kasih Pak. Anak saya cuma titipan Allah. Kalau diambil sama yang nitip, ya gak apa-apa. Saya nrimo".

    Sungguh buat saya, itu kata-kata yang luar biasa dari mulut seorang ayah. Saya salut dan selalu berdoa yang terbaik untuknya.

    Jadi, nrimo itu bukan pasrah.

    Tapi ada usaha dan ikhtiar keras. Jaga dan mendidik anak. Belajar dan kuliah lagi. Dan hasilnya biarkan Allah yang menentukan, bukan kita. Karena hidup, bukan atas maunya kita bukan pengennya kita. Tapi atas kehendak-Nya.

    Nrimo hari ini penting.

    Karena tanpa sikap nrimo, sulit bergaul dengan realitas. Bahkan sulit untuk berbuat baik kepada orang lain. Akhirnya, kebaikan hanya jadi bahan diskusi. Tanpa perlu dieksekusi dengan nyata. Karena sulit nrimo. Sehingga hidupnya justru ingin seperti orang lain. Bukan jadi dirinya sendiri.

    Jadi, nrimo-lah. Apapun terima.

    Karena anugerah yang dicari itu adanya bukan di seberang sana, bukan di orang lain. Tapi ada dalam diri sendiri. Tidak perlu memaksa yang tidak penting. Apalagi memaksa kehendak pada orang lain.

    Agar kita tidak lupa. Bahwa dari sekian banyak pikiran dan rencana hebat. Pada akhirnya, pilihan terbaik adalah sikap nrimo, menerima apapun yang ada di hadapan kita.

    Lebih baik nrimo daripada nelongso #BudayaLiterasi #TGS

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: iin anggryani

    2 hari lalu

    Kerakusan Manusia untuk Kekuasaan

    Dibaca : 451 kali

    Salam.. Manusia adalah salah satu makhluk yang di ciptakan Allah yang diberi kesempurnaan berupa kelengkapan akal dan nafsu sehingga beda dengan makhluk lainnya. Bumi adalah tempat hidupnya manusia. Manusia adalah makhluk yang paling unik juga na’if. Manusia pada dasarnya adalah makhluk bersosial, bermasyarakat dan berkelompok. Manusia diciptakan dengan dua jenis yaitu laki-laki dan perempuan. Sedangkan kekuasaan adalah kewenangan yang didapatkan atau di berikan kepada salah satu manusia atau kelompok yang dianggap mampu mengemban tugas tersebut. Manusia berlaku sebagai subjek sekaligus objek dalam kekuasaan atau jabatan. Manusia era sekarang ini berlomba-lomba untuk menduduki wewenang kekuasaan, segala cara mereka lakukan agar bisa mendapatkan posisi itu. Yah karena menurut mereka dengan mampu menduduki wilayah kekuasaan itu merupakan sebuah keistimewaan, kebnaggaan bagi mereka. Mereka tidak tahu berani naik dan berada di posisi itu adalah sebuah tanggungjawab besar yang kelak mereka harus memenuhinya, yang banyak manusia lain bertumpu dan beradu nasib padanya. Tapi kita lihat saja koledornya sekarang ini, banyak manusia yang berada di jabatan sebagai pemimpin daerah, desa bahkan Negara yang lupa akan tugas utamanya, menaungi masyarakat sehingga dengan itu banyak sekali kita lihat sekarang ini pemimpin banyak yang dzolim. Banyak sekarang ini terjadi perang saudara, saling bacok membacok, anak membunuh ayah, kakak membuh adek itu tidak lain motifnya karena berebutan kekuasaan. Memang tidak heran lagi banyak orang bilang dari dulu sampai sekarang kekuasaan dan kedudukan selalu saja menjadi objek yang menarik manusia untuk merebutnya. Banyak sekali kita lihat manusia yang menjadi gila karena haus akan kekuasaan, sehingga apapun cara rela dilakukan demi meraihnya. Kekuasaan memang membuat kita lupa diri dan membutakan hati nurani kita. Kekuasaan terlihat seperti madu dari jauh oleh mata manusia yang haus akannya, yang seketika akan berubah jadi racun apabila kita mendekati dan ada didalamnya. Karena ketika kita berada dalam kekuasaan jelas sekali agama dan ajaran moral, etika akan disingkirkan. Harus kejam itulah senjatanya. Ketika berada dalam kekuasaan, orang yang benar dan luruspun bisa menjadi tersesat, apalagi yang sebelumnya tidak benar. Orang bijak pernah mengatakan “bila ingin hidup dalam kebenaran, maka hindarilah untuk masuk dalam kekuasaan”. Orang-orang yang sudah terpedaya dan sangat haus akan kekuasaan akan rela melakukan apa saja dan mengejarnya bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun bahkan rela mengorbankan segala hal. Machiavelli mengatakan pada dasarnya, selalu ada manusia didunia ini yang memiliki ambisi besar untuk berkuasa, dan merealisasikan ambisinya itu dengan berbagai cara. Manusia harusnya dengan kekuasaan itu harus memberikan manfaat dan pelayanan yang baik bagi rakyatnya. Kekuasaan biasanya tergantung dari manusia mana yang memegangnya, kalau orang baik yang memegangnya maka kekuasaan akan digunakan untuk melayani masyarakat sehingga terciptanya kemakmuran, kedamaian, dan keteraturan. Dan sebaliknya kalau orang salah, gila jabatan dan haus akan kekuasaan maka tidak heran lahir semua kehancuran, banyak permusuhan, saling benci dan lain sebagainya. Manusia ketika mendapati sebuah kekuasaan banyak berubahnya, menganggap dirinya yang paling tinggi dari manusia lainnya dan seenaknya memperlalukan yang lainnya. Manggekompo, 18 Januari 2020 I’in Khairudin