Kembali ke Keluarga: Mikrokosmos Penanggulangan Bencana - Analisa - www.indonesiana.id
x

Victor Rembeth

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 7 Februari 2020 08:46 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Kembali ke Keluarga: Mikrokosmos Penanggulangan Bencana

    Dibaca : 728 kali

    Kembali ke Keluarga: Mikrokosmos Penanggulangan Bencana

    Harta yang paling berharga adalah keluarga, Istana yang paling indah adalah keluarga

    Puisi yang paling bermakna adalah keluarga, Mutiara tiada tara adalah keluarga

     (Lirik lagu serial Keluarga Cemara)

     

    Ketika sebuah krisis terjadi maka yang paling merasakan adalah bagian terkecil, atau mikorokosmos dari komunitas apapun di bumi ini, yaitu keluarga. Demikian juga berbagai dampak dari bencana mungkin hanya diungkap sebagai data kerugian dan ataupun kerusakan dalam laporan yang sifatnya angka belaka. Namun bagi keluarga, kehilangan kepemilikan apalagi anggota keluarga bukanlah sekedar angka, tetapi sebuah dampak yang memilukan dari kejadian bencana. Anggota keluargalah yang paling merasakan kehilangan kendati berbagai upaya mengurangi penderitaan sudah diupayakan oleh komunitas lokal, nasional bahkan internasional secara semaksimal mungkin.

    Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pertama di republik ini, Syamsul Maarif, berulangkali menekankan bahwa bencana harus dilihat dari level yang terkecil, yaitu satu nyawa dan atau kerugian yang dialami oleh komunitas terkecil dalam strata sosial kita, yaitu keluarga. Pengalaman dalam melakukan kegiatan penanggulangan bencana telah memberikan pembelajaran bahwa keluarga tidak bisa dianggap sebagai bagian yang bisa diabaikan. Semua tingkatan kebijakan dan implementasi yang dilakukan secara nasional, daerah bahkan internasional tidaklah akan bisa menggantikan titik tekan yang paling strategis, yaitu keluarga. Dari keluargalah harusnya hadir upaya upaya pengurangan risiko bencana.

    Keluarga di tanah air tercinta, Indonesia, notabene adalah jadi unsur terpenting dalam masyarakat secara sosial dan budaya. Apapun latar belakang suku, agama, ras dan golongan, tak akan ada satupun pihak yang dapat menggantikan peran keluarga dalam membangun masyarakat dan bangsa Indonesia. Agama dan keyakinan apapun di tengah bangsa ini meyakini bahwa sebagai institusi pertama yang diciptakan oleh Tuhan, keluarga adalah unsur terpenting dalam membangun generasi bangsa yang menjadi manfaat bagi semua. Hal itu dibuktikan dengan ritual hari-hari raya keagamaan yang sangat kental dengan pergerakan “kembali ke keluarga

    Oleh karena itu, keluarga dilihat bukan saja sebagai kelompok yang rentan yang bisa terdampak oleh bencana, tetapi pada sisi lain diyakini bisa melahirkan ketangguhan dalam mengurangi risiko bencana di negeri rawan bencana ini. Ayah, ibu dan anak dapat menjadi elemen yang melahirkan sebuah kekuatan untuk dapat menghadapi berbagai ancaman bencana yang beragam di negeri ini. Berbagai catatan dalam melakukan respon tanggap darurat bencana menunjukkan bahwa keluarga adalah “first responder” yang bukan saja efektif, tetapi mengenal kondisi lapangan dengan baik dan benar. Bahkan di keluargalah upaya psikososial yang terbaik bisa dilakukan.

    Dalam hal inilah maka upaya-upaya pengurangan risiko bencana BNPB telah melihat keluarga sebagai prioritas yang harus diperkuat ketanngguhannya dalam menghadapi berbagai risiko bencana. Dari 204 juta masyarakat Indonesia tinggal didaerah rawan bencana. Jika dalam 1 keluarga terdapat 4 orang, maka ada +/- 51 juta keluarga tinggal di daerah tersebut. Jika pada program-program sebelumnya BNPB lebih memperkuat aparat pemerintah di daerah dan desa, maka mulai tahun 2020 sasarannya adalah keluarga di daerah rawan bencana. Upaya ini dianggap sangat penting yang oleh karenanya bukan saja mengandalkan sumber daya pemerintah semata, baik pusat, daerah dan desa, tetapi juga melibatkan semua pemangku kepentingan penanggulangan bencana.

    Semua pihak sudah seyogyanya dilibatkan untuk aktif berpartisipasi. Para kepala keluarga, bapak, ibu dan bahkan orangtua tunggal harus memahami risiko bencana yang ada disekitar tempat tinggalnya agar anggota keluarganya dapat dikurangi dari risiko keterpaparan ancaman bencana. Anak-anak sudah tentu tidak bisa juga ditinggalkan menjadi yang seakan tidak tahu apa apa. Anak-anak adalah bagian yang rentan namun juga memiliki kapasitas untuk menjadi pahlawan ketangguhan menghadpi bencana. Pembelajaran tetang kebencanaan bukan saja ditularkan oleh orang tua dalam keluarga, tetapi juga di sekolah dimana bisa saja terjadi bencana di saat jam belajar. Anak-anak bisa menjadi “agent of change” untuk hadirnya keluarga, sekolah dan masyarakat Tangguh bencana.

    Kembali ke keluarga adalah ide brilyan BNPB yang bukan saja mengadopsi budaya dan nilai luhur bangsa Indonesia yang  menekankan perkuatan di titik yang paling prioritas, tetapi juga menunjukkan tanggungjawab negara untuk meghadirkan masyarakat tangguh dalam menghadapi bencana secara apik. Adalah sebuah inovasi manis oleh negara (BNPB) untuk menjadikan upaya upaya penguatan ketangguhan keluarga sebagai yang nomor satu.Kecil tapi efektif dan menjadi unsur utama ketangguhan. Bukanlah berlebihan bila dikatakan bahwa dalam mengelola bencana, dalam mikrokosmos komunitas ini kita dikembalikan kepada jati diri kemanusiaan yang sejati yaitu, untuk apapun ancaman dan bencana yang dihadapi, tak ada Lembaga yang bisa menyaingi indahnya kebersamaan dalam keluarga.

    Untuk itulah program Keluarga Tangguh Bencana atau disingkat KATANA perlu dijadikan laboratorium penguatan masyarakat dan bangsa Indonesia. Menurut Lilik Kurniawan, Deputi Pencegahan BNPB,"Program KATANA merupakan bagian ikhtiar kita untuk menyelamatkan masyarakat Indonesia.”  Dia selanjutnya mengatakan, ”Dalam pelaksanaannya penanggulangan bencana tidak dapat dilakukan hanya oleh pemerintah saja melainkan membutuhkan mitra baik itu dari komunitas, akademisi, lembaga usaha, dan media. Kita semua tidak terkecuali sebisa mungkin mengerahkan sumber daya yang kita miliki, baik sebagai individu, masyarakat, Lembaga usaha dan pemerintah, serta sudah tentu Keluarga, untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang semakin Tangguh dalam menghadapi bencana."

    Marilah kita “kembali ke keluarga”, laki-laki, perempuan, orang tua dan anak-anak dalam penanggulangan bencana. Selamatkan anak-anak sebagai generasi penerus bangsa . Jadikan kepala keluarga dan orangtua bisa memberikan yang terbaik agar tidak lagi terjadi kerugian dan korban jiwa yang seharusnya bisa diatasi bila keluarga dijadikan tangguh menghadapi bencana.

    Dengan KATANA mari kita berpengetahuan, mari juga kita sadar, dan pada ujungnya kita bisa berbudaya yang tepat untuk mengurangi risiko bencana. Keluarga Indonesia Tangguh, memastikan anak anak Indonesia siap untuk selamat dengan hadirnya orang tua yang menjadi alat bagi hadirnya rasa aman bagi semua.

    Ayo jaga Harta yang paling berharga, perkuat Istana yang paling indah dan lantunkan Puisi yang paling bermakna agar Mutiara KELUARGA tetap hadir dalam ancaman bencana apapun. Bersama kita hadirkan KATANA , kembali ke keluarga untuk hadirkan Indonesia Tangguh

     

    Victor Rembeth/Direktur Proyek Pengurangan Risiko Bencana Save The Children Indonesia


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.