Sinopsis  Little Women, Film  yang Diadaptasi dari Novel Klasik 1869 - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Sinta Nurhikmah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 September 2019

Minggu, 9 Februari 2020 19:40 WIB
  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Sinopsis  Little Women, Film  yang Diadaptasi dari Novel Klasik 1869

    Dibaca : 361 kali

    Ditulis naskahnya oleh Gret Gerwig, yang sekaligus menjadi sang sutradara, Little Women akan hadir di layar lebar minggu ini pada 7 Februari 2020. Mengisahkan tentang empat saudara perempuan dalam keluarga March, yang diperankan oleh Meg (Emma Watson), Jo (Ronan), Amy (Florence Pugh), dan Beth March (Eliza Scanlen) hidup bersama sang ibu, Marmee (Laura Dern) serta sang bibi bernama Aunt Merch (Meryl Streep). 

    Diangkat dari novel klasik tahun 1869 karya Louise May Alcott, berlatar waktu pada abad ke-19 setelah terjadinya perang saudara di Amerika. Seperti kehidupan para perempuan lainnya, yang sibuk untuk bersosialisasi dengan sekitar, mengejar segala impian dan cita-citanya, empat saudara perempuan ini pun mencoba untuk dapat menciptakan hubungan dengan lawan jenisnya. 

    Menurut para pemeran Little Women dalam trailernya, menyebutkan bahwa setiap perempuan memiliki pemikiran dan jiwa yang baik. Di sisi lain, ambisi mereka pun begitu besar yang dibarengi dengan kecantikan luar dan dalam yang tak tertandingi. Namun, mereka merasa sedih, jika hanya kaum perempuan saja yang pantas untuk merasakan cinta. 

    Setelah usainya perang sipil, Jo March yang memutuskan untuk tinggal di New York  mencoba peruntungan dengan menjadi seorang penulis. Amy sendiri sang saudara perempuan lainnya mencoba untuk menjadi pelukis di Paris. Amy yang memiliki perasaan pada kawan kecilnya Theodore, berusaha untuk semakin mendekatkan diri. Meski Theodore sempat melamar sang kakak Jo, tetapi lamaran tersebut ditolak. 

    Hal ini membuat kesempatan Amy untuk kembali dekat dengan pujaannya, yang sudah disukainya semenjak belia bisa semakin dekat. Jo dan Meg pun sempat pergi ke sebuah pesta yang tengah digelar, keduanya pun bertemu dengan Laurie sang cucu lelaki tetangga mereka. Diperankan oleh Timothee Chalamet, Laurie sang tetangga yang ditemui mereka di sebuah pesta memiliki paras yang begitu tampan. 

    Little Women sendiri menjadi film reuni bagi Saoirse Ronan bersama dengan Timothee Chalamet, setelah usainya film Lady Bird yang juga sukses di pasaran. Tak ingin kalah dengan Lady Bird, Little Women pun telah mendapatkan respon dengan skor tertinggi melalui situs Rotten Tomatoes sebesar 95% dan 92%. Hal ini pun membuat film ini memang begitu layak untuk kembali ditayangkan di Indonesia, setelah penayangan pertama tahun 2019 silam di beberapa negara. 

    Akan ditayangkan oleh Sony Pictures di Indonesia pada 7 Februari 2020 mendatang, dengan mewujudkan satu persatu mimpi keempat saudara perempuan ini. Jangan sampai melewatkan kisah mereka yang tak hanya memiliki rupa yang cantik saja, tetapi juga memiliki kecerdasan ini ya. Selamat menonton!


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: iin anggryani

    2 hari lalu

    Kerakusan Manusia untuk Kekuasaan

    Dibaca : 450 kali

    Salam.. Manusia adalah salah satu makhluk yang di ciptakan Allah yang diberi kesempurnaan berupa kelengkapan akal dan nafsu sehingga beda dengan makhluk lainnya. Bumi adalah tempat hidupnya manusia. Manusia adalah makhluk yang paling unik juga na’if. Manusia pada dasarnya adalah makhluk bersosial, bermasyarakat dan berkelompok. Manusia diciptakan dengan dua jenis yaitu laki-laki dan perempuan. Sedangkan kekuasaan adalah kewenangan yang didapatkan atau di berikan kepada salah satu manusia atau kelompok yang dianggap mampu mengemban tugas tersebut. Manusia berlaku sebagai subjek sekaligus objek dalam kekuasaan atau jabatan. Manusia era sekarang ini berlomba-lomba untuk menduduki wewenang kekuasaan, segala cara mereka lakukan agar bisa mendapatkan posisi itu. Yah karena menurut mereka dengan mampu menduduki wilayah kekuasaan itu merupakan sebuah keistimewaan, kebnaggaan bagi mereka. Mereka tidak tahu berani naik dan berada di posisi itu adalah sebuah tanggungjawab besar yang kelak mereka harus memenuhinya, yang banyak manusia lain bertumpu dan beradu nasib padanya. Tapi kita lihat saja koledornya sekarang ini, banyak manusia yang berada di jabatan sebagai pemimpin daerah, desa bahkan Negara yang lupa akan tugas utamanya, menaungi masyarakat sehingga dengan itu banyak sekali kita lihat sekarang ini pemimpin banyak yang dzolim. Banyak sekarang ini terjadi perang saudara, saling bacok membacok, anak membunuh ayah, kakak membuh adek itu tidak lain motifnya karena berebutan kekuasaan. Memang tidak heran lagi banyak orang bilang dari dulu sampai sekarang kekuasaan dan kedudukan selalu saja menjadi objek yang menarik manusia untuk merebutnya. Banyak sekali kita lihat manusia yang menjadi gila karena haus akan kekuasaan, sehingga apapun cara rela dilakukan demi meraihnya. Kekuasaan memang membuat kita lupa diri dan membutakan hati nurani kita. Kekuasaan terlihat seperti madu dari jauh oleh mata manusia yang haus akannya, yang seketika akan berubah jadi racun apabila kita mendekati dan ada didalamnya. Karena ketika kita berada dalam kekuasaan jelas sekali agama dan ajaran moral, etika akan disingkirkan. Harus kejam itulah senjatanya. Ketika berada dalam kekuasaan, orang yang benar dan luruspun bisa menjadi tersesat, apalagi yang sebelumnya tidak benar. Orang bijak pernah mengatakan “bila ingin hidup dalam kebenaran, maka hindarilah untuk masuk dalam kekuasaan”. Orang-orang yang sudah terpedaya dan sangat haus akan kekuasaan akan rela melakukan apa saja dan mengejarnya bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun bahkan rela mengorbankan segala hal. Machiavelli mengatakan pada dasarnya, selalu ada manusia didunia ini yang memiliki ambisi besar untuk berkuasa, dan merealisasikan ambisinya itu dengan berbagai cara. Manusia harusnya dengan kekuasaan itu harus memberikan manfaat dan pelayanan yang baik bagi rakyatnya. Kekuasaan biasanya tergantung dari manusia mana yang memegangnya, kalau orang baik yang memegangnya maka kekuasaan akan digunakan untuk melayani masyarakat sehingga terciptanya kemakmuran, kedamaian, dan keteraturan. Dan sebaliknya kalau orang salah, gila jabatan dan haus akan kekuasaan maka tidak heran lahir semua kehancuran, banyak permusuhan, saling benci dan lain sebagainya. Manusia ketika mendapati sebuah kekuasaan banyak berubahnya, menganggap dirinya yang paling tinggi dari manusia lainnya dan seenaknya memperlalukan yang lainnya. Manggekompo, 18 Januari 2020 I’in Khairudin