Tips Mengajarkan Kedisiplinan pada Anak - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

ilustr: GitaCinta.com

Suko Waspodo

... an ordinary man ...
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 10 Februari 2020 11:45 WIB
  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Tips Mengajarkan Kedisiplinan pada Anak

    Dibaca : 368 kali

    Perlu diperhatikan oleh orangtua untuk menentukan dan mengajarkan anak-anak tentang hal apa saja yang bisa diterima serta hal apa saja yang tidak dapat diterima. Menetapkan batasan-batasan tapi tetap membuat anak merasa nyaman. Namun seringkali banyak dari orangtua yang tidak konsisten dengan keputusannya, terkadang orangtua membiarkan anaknya melakukan kesalahan tapi di lain waktu menjadi sangat keras dan bahkan berlebihan saat anak melakukan kesalahan yang sama.

    Mengajarkan kedisiplinan pada anak memang pekerjaan yang tidak mudah, namun apabila hal ini berhasil dilakukan maka kepuasan besar akan dirasakan oleh orangtua. Berdasarkan pengalaman, pengamatan dan pendapat beberapa orangtua yang sukses dalam pendidikan anaknya, berikut ini dipaparkan secara singkat beberapa hal yang bisa dilakukan orangtua untuk menerapkan kedisiplinan itu, antara lain:

    Pilihlah Cara yang Tepat

    Buatlah cara yang tepat dengan menerapkan batasan yang jelas serta konsekuensi yang harus diterima anak apabila ia melanggar batasan tersebut.

    Gunakan Kontak Mata

    Apabila anak melakukan suatu kesalahan atau tidak mau menurut, tidak perlu berteriak atau marah-marah. Namun cukup menatap mata anak maka biasanya dengan sendirinya anak pasti sudah mengerti.

    Jangan Mengomel

    Cukup berikan instruksi yang jelas pada anak, jika anak tidak mau menuruti berikan konsekuensi yang telah disepakati bersama.

    Beri Tanda Penghargaan

    Buatlah peraturan apabila anak bisa berlaku disiplin akan mendapatkan penghargaan seperti bintang. Setiap akhir minggu jumlahkan berapa bintang yang telah didapatkan anak dan beri penghargaan yang lebih tinggi lagi.

    Tenangkan Diri

    Apabila orangtua tidak bisa menahan diri, menjauhlah dari anak dan biarkan menenangkan diri terlebih dahulu agar tidak meluapkan kemarahan pada anak dengan mengomel atau berteriak.

    Diskusikan Segala Sesuatu dengan Anak

    Apabila anak sudah cukup mengerti untuk diajak berbicara, maka ajaklah anak untuk terlibat dalam menetapkan segala macam peraturan yang akan dibuat.

    Nah, itulah hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menerapkan kedisiplinan pada anak. Apapun strategi yang akan digunakan dalam menerapkan disiplin pada anak, hal yang paling penting adalah orangtua harus tetap konsisten. Apabila tidak konsisten anak akan menjadi bingung apa yang sebenarnya diinginkan oleh orangtuanya. Selamat mencoba menerapkannya dan menjadi orangtua yang berhasil serta bijaksana.

    ***
    Solo, Senin, 10 Februari 2020. 10:16 am
    'salam hangat penuh cinta'
    Suko Waspodo
    suka idea
    antologi puisi suko


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: iin anggryani

    2 hari lalu

    Kerakusan Manusia untuk Kekuasaan

    Dibaca : 444 kali

    Salam.. Manusia adalah salah satu makhluk yang di ciptakan Allah yang diberi kesempurnaan berupa kelengkapan akal dan nafsu sehingga beda dengan makhluk lainnya. Bumi adalah tempat hidupnya manusia. Manusia adalah makhluk yang paling unik juga na’if. Manusia pada dasarnya adalah makhluk bersosial, bermasyarakat dan berkelompok. Manusia diciptakan dengan dua jenis yaitu laki-laki dan perempuan. Sedangkan kekuasaan adalah kewenangan yang didapatkan atau di berikan kepada salah satu manusia atau kelompok yang dianggap mampu mengemban tugas tersebut. Manusia berlaku sebagai subjek sekaligus objek dalam kekuasaan atau jabatan. Manusia era sekarang ini berlomba-lomba untuk menduduki wewenang kekuasaan, segala cara mereka lakukan agar bisa mendapatkan posisi itu. Yah karena menurut mereka dengan mampu menduduki wilayah kekuasaan itu merupakan sebuah keistimewaan, kebnaggaan bagi mereka. Mereka tidak tahu berani naik dan berada di posisi itu adalah sebuah tanggungjawab besar yang kelak mereka harus memenuhinya, yang banyak manusia lain bertumpu dan beradu nasib padanya. Tapi kita lihat saja koledornya sekarang ini, banyak manusia yang berada di jabatan sebagai pemimpin daerah, desa bahkan Negara yang lupa akan tugas utamanya, menaungi masyarakat sehingga dengan itu banyak sekali kita lihat sekarang ini pemimpin banyak yang dzolim. Banyak sekarang ini terjadi perang saudara, saling bacok membacok, anak membunuh ayah, kakak membuh adek itu tidak lain motifnya karena berebutan kekuasaan. Memang tidak heran lagi banyak orang bilang dari dulu sampai sekarang kekuasaan dan kedudukan selalu saja menjadi objek yang menarik manusia untuk merebutnya. Banyak sekali kita lihat manusia yang menjadi gila karena haus akan kekuasaan, sehingga apapun cara rela dilakukan demi meraihnya. Kekuasaan memang membuat kita lupa diri dan membutakan hati nurani kita. Kekuasaan terlihat seperti madu dari jauh oleh mata manusia yang haus akannya, yang seketika akan berubah jadi racun apabila kita mendekati dan ada didalamnya. Karena ketika kita berada dalam kekuasaan jelas sekali agama dan ajaran moral, etika akan disingkirkan. Harus kejam itulah senjatanya. Ketika berada dalam kekuasaan, orang yang benar dan luruspun bisa menjadi tersesat, apalagi yang sebelumnya tidak benar. Orang bijak pernah mengatakan “bila ingin hidup dalam kebenaran, maka hindarilah untuk masuk dalam kekuasaan”. Orang-orang yang sudah terpedaya dan sangat haus akan kekuasaan akan rela melakukan apa saja dan mengejarnya bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun bahkan rela mengorbankan segala hal. Machiavelli mengatakan pada dasarnya, selalu ada manusia didunia ini yang memiliki ambisi besar untuk berkuasa, dan merealisasikan ambisinya itu dengan berbagai cara. Manusia harusnya dengan kekuasaan itu harus memberikan manfaat dan pelayanan yang baik bagi rakyatnya. Kekuasaan biasanya tergantung dari manusia mana yang memegangnya, kalau orang baik yang memegangnya maka kekuasaan akan digunakan untuk melayani masyarakat sehingga terciptanya kemakmuran, kedamaian, dan keteraturan. Dan sebaliknya kalau orang salah, gila jabatan dan haus akan kekuasaan maka tidak heran lahir semua kehancuran, banyak permusuhan, saling benci dan lain sebagainya. Manusia ketika mendapati sebuah kekuasaan banyak berubahnya, menganggap dirinya yang paling tinggi dari manusia lainnya dan seenaknya memperlalukan yang lainnya. Manggekompo, 18 Januari 2020 I’in Khairudin