Filosofi "Ngariung" Kaum Milenial - Peristiwa - www.indonesiana.id
x

Syarifudin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 April 2019

Senin, 10 Februari 2020 15:20 WIB

  • Peristiwa
  • Berita Utama
  • Filosofi "Ngariung" Kaum Milenial

    Ngariung itu bukan hanya ngumpul tanpa manfaat. Ngariung untuk melepas edo dan menebar manfaat untuk orang lain. Filosofi "ngariung" di mata kaum milenial.

    Dibaca : 963 kali

    Zaman now, semua orang ingin bahagia. Itu pasti. Anak orok juga mau bahagia bila bisa bicara. Tapi zaman now suka lupa, bahagia itu ada saat ngariung, ketika bisa kumpul bersama dalam balutan aksi sosial. Ngariung untuk berbuat yang manfaat bagi sesama. Jadi, bila mau hidup lebih bahagia, ngariung-lah dalam hidup. Karena ngariung itu menyehatkan.

    Kata pepatah Sunda Bengkung ngariung bongok ngaronyok, Tidak ada yang sulit bila dihadapi bersama-sama.

    Spirit ngariung inilah yang jadi salah satu budaya di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di Kaki Gunung Salak. Ngariung sambil menikmati hidangan nasi liwet khas taman bacaan, plus ikan asin cuek, tahu dan tempe goreng, lalapan daun singkong dan sedikit sambal. "Ngariung Sareng TBM Lentera Pustaka". Ngariung bukan terletak pada kemewahan menu atau tempatnya. Tapi suasana dan kelapangan hati untuk mengabdi kepada masyarakat. Ngariung kepedulian sosial, istilahnya.

    Ngariung itu bukan orang banyak yang kumpul di tempat mewah, lalu membahas negara. Bukan pula kongkow-kongkow untuk menghabiskan waktu dengan sia-sia. Bahkan ngariung bukan pula, ketika dua hati bercampur dan saling sibuk mencari kesalahan orang lain. Tapi ngariung adalah menelan ego lalu rela bersama mengabdi secara sosial. Tanpa pandang status, pangkat, jabatan apalagi tampang.

    Ngariung itu berkumpul. Orang-orang yang berkumpul sambil ditemani "kulubkuluban” atau rebus-rebusan atau nasi liwet serta teman-temannya. Dalam tradisi Sunda, ngariung bukan duduk bareng. Tapi ada silaturahmi, ada obrolan, ada yang berbicara dan ada yang mendengarkan. Dam yang terpenting, ada hidangan yang bisavdinikmati. Lagi-lagi bukan karena mewahnya. Tapi kerelaan hati untuk berbuat baik sambil meredam edo. Ngariung.

    Ngariung Sareng TBM Lentera Pustaka.

    Seperti itulah yang dilakukan 90-an mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia saat meluncurkan buku kumpulan jurnalisme data berjudul 50% Anak Muda Pilih Jelek Tapi Kaya... sambil aksi sosial kepada 50-an anak pembaca aktif yang terancam putus sekolah di Taman Bacaan Lentera Pustaka di Kaki Gn. Salak Bogor. Anak-anak muda yang memberi motivasi akan pentingnya membaca, bermain games, sedekah kepada anak-anak yatim, berdonasi buku bacaan, sedekah uang, bahkan berbagi makanan bersama anak-anak TBM Lentera Pustaka.

    Ngariung yang tetap tersambung. Tanpa perlu menyinggung apalagi terselubung. Karena ngariung tidak bisa terbendung. Untuk bergabung agar gelembung rundung segera rampung. Hayu ngariung.

    Ngariung sareng TBM Lentera Pustaka.

    Karena hakikatnya, manusia adalah makhluk ngariung. Sateuacan masihan naséhat dina cariosan salira, pasihan maranehanana naséhat ku sikep salira. Maka sebelum memberi nasehat dengan ucapan, berilah mereka nasehat dengan perbuatan. Salam ngariung sareng TBM Lentera Pustaka  #FilosofiNgariung #BacaBukanMaen #TBMLenteraPustaka

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.