Masihkah Jurnalis Diperlukan? - Analisa - www.indonesiana.id
x

Majalah dan koran Tempo. Dok Tempo

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 10 Februari 2020 16:19 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Masihkah Jurnalis Diperlukan?

    Dibaca : 2.164 kali

     
    Di tengah perubahan cepat teknologi yang mengubah kehidupan masyarakat, apakah kerja para jurnalis masih diperlukan? Bukankah setiap warga yang mampu mengakses internet dan media sosial dapat memproduksi 'berita'? Bukankah setiap warga yang mampu menulis dapat menghasilkan informasi? Bukankah warga yang mampu membuat infografis, meme, kartun, sketsa, komik, hingga narasi ringkas ala twitter kini juga bisa memproduksi informasi?

    Bukankah setiap orang dapat membuat blog, vlog, kanal youtube, instagram, laman pinterest, hingga twitter untuk mempublikasikan informasi hasil produksinya, kapan saja dan dari mana saja? Tanpa batasan geografi, tanpa batasan waktu. Bahkan tanpa dibekali pengetahuan tentang syarat-syarat informasi yang layak untuk dipublikasikan kepada masyarakat. Misalnya saja, bagaimana menguji sebuah informasi palsu/bohong atau benar, apakah data yang dipublikasikan bukan hasil manipulasi?
     
    Berita bohong (fake news, hoax), disinformasi, fakta yang diplintir atau diputarbalikkan, sumber informasi yang tak bisa diandalkan dan tidak berimbang, hingga data yang tidak akurat membanjiri jagat media. Kemudahan produksi, kecepatan distribusi dan penerimaan informasi, keluasan jangkauan, dan ketersediaan peranti teknologi menjadikan setiap konsumen informasi dapat sekaligus berperan sebagai produsen informasi.

    Keprigelan dalam memakai fasilitas editing materi audiovisual, umpamanya, mampu menjadikan foto atau video yang dipublikasikan di media memang benar seperti itu faktanya. Foto atau video hasil manipulasi ini mampu memengaruhi persepsi khalayak yang menontonnya tentang suatu peristiwa dan figur yang ada di dalamnya.
     
    Persoalan bertambah pelik karena masyarakat pada umumnya tidak memiliki cukup bekal bagaimana cara menyaring informasi. Melalui media sosial, informasi yang belum teruji kebenarannya dengan mudah dan cepat tersebar luas karena pengguna media sosial langsung meneruskan informasi yang mereka terima tanpa menyaringnya terlebih dulu. Warga ini cenderung mudah menerima informasi yang mereka terima sebagai benar tanpa memeriksa lebih dulu dengan menggunakan kriteria tertentu. Warga semacam ini biasanya juga terjebak oleh persepsi terdahulu yang sudah mereka miliki dan meneruskan informasi yang sesuai dengan persepsi tersebut.
     
    Kriteria untuk menguji kebenaran sebuah informasi itu antara lain keandalan sumbernya, apakah dapat dipercaya penuh atau diragukan atau malah sulit dipercaya. Bahkan, sumber yang dapat dipercaya pun perlu dikonfirmasi dari sumber lain sebagai pembanding, karena bisa saja sumber informasi itu punya kecondongan tertentu atau informasinya mengandung bias. Perlu dicek pula, apakah datanya akurat, apakah dikutip secara benar dari sumber yang juga dapat dipercaya, dan seterusnya.
     
    Sayangnya, masyarakat umumnya enggan melakukan konfirmasi semacam itu karena memerlukan ikhtiar tertentu. Masyarakat merasa tidak punya cukup waktu untuk mencari informasi mengenai isu serupa dari sumber-sumber lain, padahal tidak selalu memakan waktu lama. Masyarakat begitu ringan tangan untuk segera meneruskan (forward) sebuah informasi meskipun belum tahu (atau tidak peduli) apakah informasi itu benar atau salah.
     
    Sumber informasi seringkali juga bersifat tunggal tanpa sumber lain yang dapat dan layak dijadikan pembanding. Hal ini menjadikan cek dan ricek menjadi semakin diperlukan. Sebagian warga percaya begitu saja sebuah berita karena sumbernya 'resmi' [lho, yang mengatakan menteri ini, masak gak percaya?]. Mungkin saja warga tidak memercayai sebuah sumber informasi namun tidak ada sumber lain yang dapat dijadikan rujukan. Betapa mudah masyarakat terjebak oleh derasnya arus informasi yang menyesatkan.
     
    Situasi semacam ini menjadi tantangan serius bagi jurnalis pada masa sekarang. Ketika warga mampu memproduksi dan menyebarluaskan informasi secara mudah namun di dalamnya terkadung kelemahan-kelemahan yang merugikan masyarakat umum, para jurnalis dapat berperan penting: menjadikan kembali media arus utama sebagai rujukan yang andal bagi masyarakat. Apabila beredar suatu informasi yang belum jelas kebenarannya, media arus utama harus dapat menjadi tempat masyarakat menemukan kebenaran informasi tersebut.
     
    Para jurnalis media arus utama harus mengambil alih kepemimpinan dalam produksi dan penyebarluasan informasi dari media sosial. Prinsip-prinsip dan etika jurnalistik penting untuk ditegakkan kembali dan menjadi pedoman jurnalis dalam bekerja. Para jurnalis jangan ikut terseret oleh arus informasi di media sosial, yang seringkali memang terkesan bombastis dan mengundang rasa ingin tahu warga. Para jurnalis juga jangan terjebak ke dalam keberpihakan politis kepada siapapun, sebab itu merugikan masyarakat luas. Kecondongan politis memengaruhi informasi apa yang diproduksi dan didistribusikan dan juga memengaruhi seperti apa informasi itu dikemas oleh jurnalis.
     
    Ketika media sosial dibanjiri oleh informasi yang tidak benar, masyarakat berharap para jurnalis media arus utama dapat diandalkan untuk menghadirkan informasi yang jernih, jujur, berimbang dan adil, tidak bias, dan sungguh-sungguh berusaha menghadirkan kebenaran. Ruang kerja redaksi (newsroom) harus benar-benar menjadi clearing house of information, bukan sekedar ruang produksi dan distribusi informasi tapi miskin cek dan cek ulang serta masih mengandung bias kepentingan pihak tertentu tapi bukan masyarakat luas. Para jurnalis mesti punya rasa tanggungjawab untuk menyediakan informasi yang dapat diandalkan oleh masyarakat dan tidak puas hanya membuat berita berdasarkan satu sumber saja dengan alasan adu cepat tayang.
     
    Dalam konteks Hari Pers, 9 Februari 2020, para jurnalis seyogyanya memikirkan kembali perannya di tengah masyarakat yang berubah cepat. Apakah para jurnalis hanya akan mengikuti arus perubahan yang serba cepat dan pragmatis, atau kembali kepada prinsip dan etika jurnalistik yang menuntut para jurnalis agar bertanggungjawab menghadirkan informasi yang jujur, adil, benar, dan mendukung kemaslahatan masyarakat luas. Dalam situasi ketika berita bohong, disinformasi, dan lain-lain semakin membanjir, kerja para jurnalis yang konsisten berpegang pada prinsip, etika, dan kaidah kerja jurnalistik semakin penting. >>>


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.