SIGAP, Program Bupati Sejahterakan Kabupaten Berau - Peristiwa - www.indonesiana.id
x

Muna Laya

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 24 Januari 2020

Selasa, 11 Februari 2020 06:15 WIB
  • Peristiwa
  • Berita Utama
  • SIGAP, Program Bupati Sejahterakan Kabupaten Berau

    Dibaca : 290 kali

    SIGAP Sejahtera adalah program Pemerintah Kabupaten Berau dalam mendampingi masyarakat kampung melakukan penguatan kapasitas untuk mengenal potensi dan perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan dalam pembangunan desa.

    Pembangunan kampung menurut Bupati Kabupaten Berau Muharram harus sejalan dengan program kabupaten. Jika gagasan dari kabupaten dan keinginan desa berbeda, maka tidak akan tercipta sinergi. Hal itu dikatakan Bupati Muharram saat membuka pelatihan perluasan SIGAP menuju kampung sejahtera, unggul, dan berdaya saing.

    Tiga hal yang harus diperhatikan terkait pembangunan yaitu peningkatan tata kelola pemerintah desa, pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dengan adanya SIGAP Sejahtera, yakni aksi inspiratif warga untuk perubahan, maka diharapkan terciptanya Kabupaten Berau yang lebih maju.

    Bupati Muharram melihat potensi pertemuan kali itu bertujuan menyelaraskan komitmen Rencana Pembangunan Daerah Berau baik jangka panjang maupun pendek yang bermakna responsif, cepat, tanggap, dan sikap yang harus dimiliki warga kampung dalam merencanakan, melaksanakan dan mengawasi pembangunan kampung yang sejalan dengan visi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Berau tahun 2016 sampai dengan 2021.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: iin anggryani

    2 hari lalu

    Kerakusan Manusia untuk Kekuasaan

    Dibaca : 450 kali

    Salam.. Manusia adalah salah satu makhluk yang di ciptakan Allah yang diberi kesempurnaan berupa kelengkapan akal dan nafsu sehingga beda dengan makhluk lainnya. Bumi adalah tempat hidupnya manusia. Manusia adalah makhluk yang paling unik juga na’if. Manusia pada dasarnya adalah makhluk bersosial, bermasyarakat dan berkelompok. Manusia diciptakan dengan dua jenis yaitu laki-laki dan perempuan. Sedangkan kekuasaan adalah kewenangan yang didapatkan atau di berikan kepada salah satu manusia atau kelompok yang dianggap mampu mengemban tugas tersebut. Manusia berlaku sebagai subjek sekaligus objek dalam kekuasaan atau jabatan. Manusia era sekarang ini berlomba-lomba untuk menduduki wewenang kekuasaan, segala cara mereka lakukan agar bisa mendapatkan posisi itu. Yah karena menurut mereka dengan mampu menduduki wilayah kekuasaan itu merupakan sebuah keistimewaan, kebnaggaan bagi mereka. Mereka tidak tahu berani naik dan berada di posisi itu adalah sebuah tanggungjawab besar yang kelak mereka harus memenuhinya, yang banyak manusia lain bertumpu dan beradu nasib padanya. Tapi kita lihat saja koledornya sekarang ini, banyak manusia yang berada di jabatan sebagai pemimpin daerah, desa bahkan Negara yang lupa akan tugas utamanya, menaungi masyarakat sehingga dengan itu banyak sekali kita lihat sekarang ini pemimpin banyak yang dzolim. Banyak sekarang ini terjadi perang saudara, saling bacok membacok, anak membunuh ayah, kakak membuh adek itu tidak lain motifnya karena berebutan kekuasaan. Memang tidak heran lagi banyak orang bilang dari dulu sampai sekarang kekuasaan dan kedudukan selalu saja menjadi objek yang menarik manusia untuk merebutnya. Banyak sekali kita lihat manusia yang menjadi gila karena haus akan kekuasaan, sehingga apapun cara rela dilakukan demi meraihnya. Kekuasaan memang membuat kita lupa diri dan membutakan hati nurani kita. Kekuasaan terlihat seperti madu dari jauh oleh mata manusia yang haus akannya, yang seketika akan berubah jadi racun apabila kita mendekati dan ada didalamnya. Karena ketika kita berada dalam kekuasaan jelas sekali agama dan ajaran moral, etika akan disingkirkan. Harus kejam itulah senjatanya. Ketika berada dalam kekuasaan, orang yang benar dan luruspun bisa menjadi tersesat, apalagi yang sebelumnya tidak benar. Orang bijak pernah mengatakan “bila ingin hidup dalam kebenaran, maka hindarilah untuk masuk dalam kekuasaan”. Orang-orang yang sudah terpedaya dan sangat haus akan kekuasaan akan rela melakukan apa saja dan mengejarnya bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun bahkan rela mengorbankan segala hal. Machiavelli mengatakan pada dasarnya, selalu ada manusia didunia ini yang memiliki ambisi besar untuk berkuasa, dan merealisasikan ambisinya itu dengan berbagai cara. Manusia harusnya dengan kekuasaan itu harus memberikan manfaat dan pelayanan yang baik bagi rakyatnya. Kekuasaan biasanya tergantung dari manusia mana yang memegangnya, kalau orang baik yang memegangnya maka kekuasaan akan digunakan untuk melayani masyarakat sehingga terciptanya kemakmuran, kedamaian, dan keteraturan. Dan sebaliknya kalau orang salah, gila jabatan dan haus akan kekuasaan maka tidak heran lahir semua kehancuran, banyak permusuhan, saling benci dan lain sebagainya. Manusia ketika mendapati sebuah kekuasaan banyak berubahnya, menganggap dirinya yang paling tinggi dari manusia lainnya dan seenaknya memperlalukan yang lainnya. Manggekompo, 18 Januari 2020 I’in Khairudin