Studi Harvard soal Corona, dan Perhitungan Dampak Ekonomi bagi Indonesia - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Suasana hari pertama di lokasi observasi WNI yang dievakuasi dari Wuhan, Cina di sebuah hanggar di Lanud Raden Sadjad, Natuna dalam foto yang diunggah pada Senin, 3 Februari 2020. Sebanyak 238 WNI menjalani masa karantina selama 14 hari untuk memastikan tidak tertular virus corona. Twitter/@Kemenkes

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 11 Februari 2020 06:25 WIB
  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Studi Harvard soal Corona, dan Perhitungan Dampak Ekonomi bagi Indonesia

    Dibaca : 2.043 kali


    Beberapa media arus utama memberitakan hasil studi oleh sejumlah peneliti Harvard T.H. Chan School of Public Health yang menyebutkan seharusnya sudah ditemukan kasus infeksi virus corona di Indonesia. Namun, hingga hampir satu bulan setelah kasus pertama di luar Cina dikonfirmasi di Thailand pada 13 Januari lalu, Indonesia dinyatakan masih bebas dari infeksi virus yang penyebarannya amat cepat itu. Tentu saja, bebas dari infeksi memang kabar yang bagus, namun hasil studi Harvard itu barangkali juga layak dipelajari untuk meningkatkan kewaspadaan.

    Studi Harvard tersebut bertumpu pada model yang antara lain memasukkan variabel terkait, di antaranya jumlah rata-rata penumpang penerbangan dari Wuhan, Cina, ke Indonesia. Dalam epidemiologi, pemodelan statistik memang lazim digunakan oleh para ahli untuk memperoleh gambaran kemungkinan penyebaran suatu penyakit dan membuat prediksi kejadian. Dari model inilah, para ahli Harvard tersebut memperkirakan bahwa semestinya sudah ditemukan kasus infeksi virus Corona di Indonesia.

    Studi ini, yang laporannya ditulis oleh Pablo M De Salazar, Marc Lipsitch, dan tiga penulis lainnya serta diposting di website medrxiv.org pada 5 Februari 2020, adalah versi preprint dan belum menjalani proses review oleh ahli lainnya. Sejumlah media Indonesia mengutip publikasi ini serta komentar Lipsitch.

    Muncul pertanyaan mengapa belum ada kasus yang diumumkan? Sejumlah media nasional mencari pendapat dari para ahli dan terdapat tiga kemungkinan jawaban. Pertama, kasus infeksi belum ada karena virus Corona 'mandul' di tengah iklim tropis dengan temperatur yang relatif tinggi. Kedua, kasus infeksi belum ada karena kekebalan tubuh manusia Indonesia tangguh menghadap keganasan virus ini. Ketiga, kasus infeksi belum ada karena sistem pemeriksaan kesehatan di Indonesia belum mampu mendeteksi kehadiran virus ini.

    Dua jawaban pertama belum terverifikasi secara ilmiah. Sedangkan jawaban ketiga terkait dugaan ketidakkompetenan dalam mendeteksi virus Corona telah dibantah oleh otoritas yang menyebutkan bahwa Indonesia sudah memiliki sarana deteksi untuk mengenali virus Corona.

    Pernyataan konfirmatif, seandainya suatu saat dipublikasikan, bahwa di Indonesia telah ditemukan kasus infeksi virus Corona memang berisiko tinggi. Di tengah pertumbuhan ekonomi yang berjalan tidak seperti yang diharapkan, pernyataan semacam itu--sekali lagi, andaikan ada nanti--diduga berpotensi memperburuk situasi ekonomi Indonesia yang tengah berusaha keras meningkatkan investasi dan pertumbuhan ekonomi. Misalnya saja, tingkat kunjungan warga asing ke Indonesia dapat menurun, baik untuk urusan bisnis, wisata, dinas, maupun konferensi internasional. Dampaknya mungkin signifikan bagi ekonomi Indonesia.

    Cina, dengan Wuhan sebagai episentrum pandemik, telah mengalami dampak ekonomi dari penyebaran virus Corona. Singapura diberitakan meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman virus ini dari status kuning ke status oranye, sementara pembatalan perjalanan ke negeri Singa disebut-sebut mulai memperlihatkan gejalanya.

    Media arus utama juga memberitakan bahwa Jepang termasuk di antara negara yang diwaspadai oleh calon wisatawan luar negeri. Arus perjalanan antar negara tampaknya akan cenderung menurun mengingat banyak pemerintah yang telah mengeluarkan peringatan perjalanan.

    Menjadi krusial bagi pemerintah Indonesia untuk secara transparan dan tegas menyatakan bahwa Indonesia sejauh ini memang masih bebas dari kasus infeksi virus Corona dan terus berusaha agar tidak terjadi kasus. Meskipun dilematis mengingat potensi dampak negatif ekonominya, keterbukaan informasi mengenai perkembangan penanganan para warga yang pernah mengunjungi atau menetap di Cina dan pulang ke Indonesia, termasuk di daerah-daerah, serta upaya-upaya lain untuk mencegah masuknya virus maupun potensi penyebarannya di tanah air akan meningkatkan kewaspadaan bersama. >>


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.