Cacing Nyale Jelmaan Putri Mandalika, Legenda Rakyat Lombok - Travel - www.indonesiana.id
x

Cacing nyale? Putri Mandalika? Pernah dengar, kan? Iya, itu legenda rakyat Lombok, Nusa Tenggara Barat. Cerita rakyat yang, sekalipun belum ditemukan tulisan lontarnya, tapi dikenal dan dipercaya masyarakat Lombok. Pulau Lombok sendiri merupakan sebuah pulau yang keindahan alamnya sekarang ini mulai dikenal dunia.

Diasmanto

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 10 Februari 2020

Selasa, 11 Februari 2020 07:02 WIB

  • Travel
  • Berita Utama
  • Cacing Nyale Jelmaan Putri Mandalika, Legenda Rakyat Lombok

    Ini adalah tradisi masyarakat Sasak, Pulau Lombok; Bau Nyale. Diperingati sebagai tradisi dan upacara adat tahunan yang dilaksanakan sekitar bulan Januari atau Februari, atau saat hujan kali pertama turun setelah kemarau. Upacara adat ini untuk mengenang pengorbanan Mandalika, seorang putri raja dari Lombok Tengah berparas cantik yang menginginkan ketenteraman tetap ada di negerinya.

    Dibaca : 1.462 kali

    Cacing Nyale, Lombok Tengah

    Cacing nyale? Putri Mandalika? Pernah dengar, kan? Iya, itu legenda rakyat Lombok, Nusa Tenggara Barat. Cerita rakyat yang, sekalipun belum ditemukan tulisan lontarnya, tapi dikenal dan dipercaya masyarakat Lombok. Pulau Lombok sendiri merupakan sebuah pulau yang keindahan alamnya sekarang ini mulai dikenal dunia.

    Tidak cuma cerita tentang keelokan tiga gili; Gili Trawangan, Gili Air, dan Gili Meno, di utara Lombok. Atau keunikan pantai Pink di sudut pelosok timur Lombok. Atau pantai Senggigi, yang lebih dulu jadi ikon pariwisata pulau ini. Yang ini, cacing nyale dan Putri Mandalika, legenda rakyat tentang sosok cantik perempuan Sasak, bernama Putri Mandalika dari Lombok Tengah.

    Begini ceritanya:

    Dulu, ada sebuah kerajaan di Lombok Tengah. Rajanya adil dan bijaksana. Kerajaannya tenteram, rakyatnya juga makmur.

    Sang raja mempunyai anak yang sangat cantik. Mandalika, namanya. Tak hanya cantik, Mandalika juga berkepribadian baik; sopan, tutur bahasanya lembut, dan ramah ke semua orang. Hingga kondanglah kecantikan dan kebaikan Sang Putri ke seantero negeri dan membuat banyak pemuda, juga pangeran dari kerajaan lain, tergerak hati menjadikannya istri.

    Para pemuda dan pangeran itu pun memperebutkan Mandalika. Mereka datang ke Kerajaan Lombok Tengah untuk melamar sang putri. Siapa sih yang tidak kepincut perempuan berparas dan berkepribadian cantik?

    Saking banyaknya pelamar, Mandalika tidak bisa membuat keputusan. Sang Putripun izin kepada raja untuk bersemedi, meminta petunjuk agar mendapatkan kebaikan.

    Hasil persemediannya, Mandalika mengundang para pemuda dan pangeran pelamarnya pada tanggal ke-20 bulan ke-10 penanggalan Suku Sasak. Undangan itu mengharuskan semuanya berkumpul di pantai Seger, pada pagi buta sebelum adzan subuh berkumandang.

    Para pangeran dan pelamar Mandalika bahkan rakyat kerajaan tersebut ikut datang ke pantai Seger. Saat matahari mulai terbit, Mandalika beserta Raja, Ratu, dan para pengawalnya, menemui seluruh undangan mengenakan kain sutra yang sangat indah.

    Bersama para pengawalnya, Mandalika naik ke puncak Bukit Seger dan mengucapkan beberapa patah kata kepada semua orang yang menghadiri undangannya.

    Seperti ini pesan Mandalika: Bahwa sebagai putri raja, Mandalika ingin melihat ketenteraman dan kedamaian di negeri ayahnya. Tidak perlu ada perpecahan, tidak perlu ada kerusuhan, cuma gara-gara memperebutkan seorang perempuan, seperti dirinya.

    Sang Putri menyadari, jika dia menerima satu saja lamaran, dari para pemuda dan pangeran itu, maka akan sangat bisa terjadi kekacauan di negeri itu. Sehingga Sang Putri pun memutuskan "menerima" semua lamaran yang ditujukan padanya.

    Semua yang hadir bingung. Seketika itu, tanpa dinyana siapapun termasuk pengawalnya, Mandalika menjatuhkan diri ke laut.

    Para pengawal, rakyat, para pemuda dan pangeran, semua yang hadir saat itu, berlari dan berusaha menolong menyelamatkan sang Putri. Tapi, jasad Mandalikatidak pernah ditemukan.

    Tak lama setelah Mandalika menceburkan diri ke laut, muncullah binatang lembut, rapuh, panjang, kecil, dan bening, yang sangat banyak jumlahnya, di sepanjang Pantai Seger; Cacing Laut . Cacing itu kemudian dinamai Nyale . Dipercaya oleh masyarakat bahwa cacing itu adalah jelmaan putri Mandalika.

    Hingga saat ini, masyarakat menggelar Upacara Adat Bau Nyale, mengenang Putri Mandalika. Menjadi tradisi masyarakat Lombok menjelang Februari atau Maret, saat hujan pertama sesudah kemarau, ditempat cacing nyale itu muncul, di setiap penanggalan itu saja.

    Mau tau rupa nyale? Atau mau merasakan nikmatnya nyale? Datang ke Pantai Seger, Lombok Tengah. Sekarang lebih poluler dikenal sebagai Pantai Kute, Lombok Tengah. Jaraknya sekitar 15 menit dari Bandara Internasional Lombok Praya - LOP). Suk, di kawasan itu, dibangun tempat-tempat peristirahatan dan Sirkuit Internasional motoGP.

    [diaspraya] #ceritarakyat #lomboktengah #nyale #mandalika



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.