Menjadi Abu Hurairah di Zaman Milineal - Analisa - www.indonesiana.id
x

milneal yang terdepan

saepul rijal

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 21 Januari 2020

Selasa, 11 Februari 2020 09:16 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Menjadi Abu Hurairah di Zaman Milineal

    Dibaca : 177 kali

    Menjadi Abu Hurairah Di Zaman Milineal

    Kekurangan bukan suatu penghambat dalam Jadilah Abu Hurairah di zaman milineal zaman yang penuh dengan fitnah. Dulu Abu Hurairah terlambat masuk Islam tetapi ia termasuk sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadist Nabi SAW. Dan begitu juga kita masuk sekolah penuh dengan kekurangan tapi ketika lulus harus menjadi siswa yang terdepan.

    Meraih kesuksesan dan perlu kita ketahui bahwa kekurangan adalah nikmat yang Allah berikan kepada manusia untuk melipat gandakan pahalanya ketika ia bersabar dan berusaha utuk menutupi kekurangan tersebut. Dan kekurangan bukanlah suatu masalah karna setiap manusia memiliki kekurangan dan yang menjadi masalah ketika seseorang tersebut tidak mau berusaha untuk menutupi kekurangannya.

    Kita semua mungkin  pernah merasa minder ketika pertama kali masuk sekolah  dan diantara teman-teman kita ada yang sudah memiliki besik baik dari segi bacaan Al-qur’an, bahasa Arab, dan lain lain sebagainya. Bahkan ketika di kelas kita pernah di tertawakan karna tidak bisa menjawab pertanyaan dengan tepat.

    Tapi ingat sahabatku, rasa minder dapat berbuah positif jika hal tersebut mendorong kita untuk lebih semangat dalam belajar dan yakinlah ketika ketika kita belajar dengan sungguh-sungguh dengan izin Allah kita bisa unggul dari mereka dan ini bukan suatu yang mustahil asalkan ada niat dan tekat yang kuat di dalam diri kita.

                Jadilah Abu Hurairah di zaman milineal zaman yang penuh dengan fitnah. Dulu Abu Hurairah terlambat masuk islam tetapi ia termasuk sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadist nabi saw. Dan begitu juga kita masuk sekolah penuh dengan kekurangan tapi ketika lulus harus menjadi siswa yang terdepan.

    Di sisi lain sungguh disayangkan banyak dari teman-teman kita yang sudah memiliki besik baik dari segi kemampuan ataupun dari segi kecerdasan tapi ia malah berleha-leha dan menyepelekan pelajaran karena ia menganggap saya sudah pernah belajar tinggal santai-santai saja. Seharusnya kalau ia seorang siswa yang memiki cita-cita yang tinggi pasti ia akan lebih semangat dalam mengembakan ilmu yang telah ia pelajari.

                Sahabatku, perlu kita ingat bahwa kepintaran di tangan Allah bukan karna kita belajar kita bisa pintar melainkan itu hanyalah sebab untuk meraih kepintaran. Di samping kita belajar mari kita perbaiki hubungan kita dengan Allah dengan memperbanyak amal kebaikan dan semoga hal tersebut dapat memudahkan kita untuk  meraih kesuksesan di dunia dan akhirat amin.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.