Dosen IPB Ciptakan Alat Canggih Pemantau Lingkungan - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Sayyidina Aliudin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 Juli 2019

Selasa, 11 Februari 2020 15:05 WIB
  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Dosen IPB Ciptakan Alat Canggih Pemantau Lingkungan

    Dibaca : 224 kali

    Garut - Bertani dan beternak masa kini, sangat menarik untuk dipelajari. Kaum milenial terus bereksplorasi untuk memperoleh hal-hal baru dengan menggunakan teknologi.

    Itu pula yang dilakukan dua alumnus Institut Pertanian Bogor (IPB University), Daka Putra atau biasa dipanggil Daka dan Sutan Muhammad Saddam. Keduanya mengembangkan sebuah perangkat canggih yang memonitor kondisi lingkungan. "Produk yang kami ciptakan bernama Crop Hero, biasanya alat ini mampu memonitoring lingkungan yang mencakup Green House, lahan pertanian biasa, atau kandang (ternak)," Ucap Sutan, Selasa 11 Februari 2020.

    Jebolan angkatan 50 (2013) jurusan Tehnik Pertanian dan Biosistem IPB ini menjelaskan, cara kerja perangkat temuannya yang bisa diakses melalui website dan aplikasi online.  "Dalam aplikasi mobile (handphone) parameternya bisa dilihat suhu, hummanity, temperatur udara," kata dia.

    Sehingga ketika temperatur udara rendah, setiap petani maupun peternak yang menggunakan aplikasi tersebut mampu melakukan antisipasi dini. Beberapa item aplikasi juga tengah dikembangkan. "Kita sedang kembangkan, kearah kontrol automatisasinya. Apabila terjadi masalah misalkan di kandang (ternak) tinggi, maka tinggal diaktifkan tombol otomatisnya dengan set point tertentu. Jadi kita ga perlu repot lagi mengecek suhu udara."

    Diakuinya seluruh cara pembuatan, eksperimen, hingga produk teknologi pertanian itu muncul setelah Sutan dan Daka mengenyam pendidikan di IPB. "Kami bisa seperti ini, karena kuliah di IPB. Memang basic dari kampusnya adalah Pertanian, namun seluruh ilmu bisa kita pelajari dan di kembangkan tergantung kemauan dari kita mau belajar atau tidak," ujar dia.

    Selain itu Sutan menerangkan banyak prestasi yang telah ditorehkan oleh alumni maupun mahasiswa IPB di level Nasional maupun Internasional.  Dirinya sedikit bercerita, perihal pengalamannya yang sempat masuk Timnas 30 di Pekan Ilmiah Nasional. Dalam acara bergensi itu dia dan rekan-rekannya sesama mahasiswa IPB menorehkan prestasi dengan menyabet juara ke dua.

    "Itu acara bergengsi yang diselenggarakan Dikti, dan kami memperoleh prestasi. Kemudian, bamih banyak lagi prestasi lain yang tidak perlu kami sebutkan (mention). Intinya kami Alhamdullilah masuk IPB, karena ternyata pertanian itu sangat luas sehingga tidak mungkin semua masalah pertanian diurusi masyarakat biasa, oleh karena itu IPB lahir," dia menerangkan.

    Selanjutnya Sutan menuturkan bagi yang kurang mampu dalam hal finansial, IPB University juga membuka peluang beasiswa. Hal itu bisa diperoleh lewat bidik misi, Pemda, Astra, maupun lembaga yang menyiapkan pendidikan secara gratis.

    "Jadi tidak usah takut daftar ke IPB, baik lewat SMBPTN atau SNMPTN yang penting kalian persiapkan diri kalian dengan baik," tutur dia.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: iin anggryani

    2 hari lalu

    Kerakusan Manusia untuk Kekuasaan

    Dibaca : 452 kali

    Salam.. Manusia adalah salah satu makhluk yang di ciptakan Allah yang diberi kesempurnaan berupa kelengkapan akal dan nafsu sehingga beda dengan makhluk lainnya. Bumi adalah tempat hidupnya manusia. Manusia adalah makhluk yang paling unik juga na’if. Manusia pada dasarnya adalah makhluk bersosial, bermasyarakat dan berkelompok. Manusia diciptakan dengan dua jenis yaitu laki-laki dan perempuan. Sedangkan kekuasaan adalah kewenangan yang didapatkan atau di berikan kepada salah satu manusia atau kelompok yang dianggap mampu mengemban tugas tersebut. Manusia berlaku sebagai subjek sekaligus objek dalam kekuasaan atau jabatan. Manusia era sekarang ini berlomba-lomba untuk menduduki wewenang kekuasaan, segala cara mereka lakukan agar bisa mendapatkan posisi itu. Yah karena menurut mereka dengan mampu menduduki wilayah kekuasaan itu merupakan sebuah keistimewaan, kebnaggaan bagi mereka. Mereka tidak tahu berani naik dan berada di posisi itu adalah sebuah tanggungjawab besar yang kelak mereka harus memenuhinya, yang banyak manusia lain bertumpu dan beradu nasib padanya. Tapi kita lihat saja koledornya sekarang ini, banyak manusia yang berada di jabatan sebagai pemimpin daerah, desa bahkan Negara yang lupa akan tugas utamanya, menaungi masyarakat sehingga dengan itu banyak sekali kita lihat sekarang ini pemimpin banyak yang dzolim. Banyak sekarang ini terjadi perang saudara, saling bacok membacok, anak membunuh ayah, kakak membuh adek itu tidak lain motifnya karena berebutan kekuasaan. Memang tidak heran lagi banyak orang bilang dari dulu sampai sekarang kekuasaan dan kedudukan selalu saja menjadi objek yang menarik manusia untuk merebutnya. Banyak sekali kita lihat manusia yang menjadi gila karena haus akan kekuasaan, sehingga apapun cara rela dilakukan demi meraihnya. Kekuasaan memang membuat kita lupa diri dan membutakan hati nurani kita. Kekuasaan terlihat seperti madu dari jauh oleh mata manusia yang haus akannya, yang seketika akan berubah jadi racun apabila kita mendekati dan ada didalamnya. Karena ketika kita berada dalam kekuasaan jelas sekali agama dan ajaran moral, etika akan disingkirkan. Harus kejam itulah senjatanya. Ketika berada dalam kekuasaan, orang yang benar dan luruspun bisa menjadi tersesat, apalagi yang sebelumnya tidak benar. Orang bijak pernah mengatakan “bila ingin hidup dalam kebenaran, maka hindarilah untuk masuk dalam kekuasaan”. Orang-orang yang sudah terpedaya dan sangat haus akan kekuasaan akan rela melakukan apa saja dan mengejarnya bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun bahkan rela mengorbankan segala hal. Machiavelli mengatakan pada dasarnya, selalu ada manusia didunia ini yang memiliki ambisi besar untuk berkuasa, dan merealisasikan ambisinya itu dengan berbagai cara. Manusia harusnya dengan kekuasaan itu harus memberikan manfaat dan pelayanan yang baik bagi rakyatnya. Kekuasaan biasanya tergantung dari manusia mana yang memegangnya, kalau orang baik yang memegangnya maka kekuasaan akan digunakan untuk melayani masyarakat sehingga terciptanya kemakmuran, kedamaian, dan keteraturan. Dan sebaliknya kalau orang salah, gila jabatan dan haus akan kekuasaan maka tidak heran lahir semua kehancuran, banyak permusuhan, saling benci dan lain sebagainya. Manusia ketika mendapati sebuah kekuasaan banyak berubahnya, menganggap dirinya yang paling tinggi dari manusia lainnya dan seenaknya memperlalukan yang lainnya. Manggekompo, 18 Januari 2020 I’in Khairudin