Bisa Apa Anak-anak (perempuan) Kita? - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Victor Rembeth

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 11 Februari 2020 15:07 WIB
  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Bisa Apa Anak-anak (perempuan) Kita?

    Dibaca : 2.235 kali

    Bisa apa anak anak (perempuan) kita?

    I intend to make my own way in the world.” Jo March

     

    Kisah celoteh anak-anak dan harapan untuk masa depan mereka tidak pernah habis dari pergumulan di dunia ini. Film Holywood yang mengangkat kisah 4 anak perempuan dari novel Louisa May Alcott yang berjudul The  Little Women adalah salah satu kisah fiksi yang mendekati kenyataan dunia anak-anak. Selama kurun waktu 135 menit tayangannya, kita dibuat menjadi murid-murid yang harus memulai lagi pembelajaran perihal, “siapa anak anak, dan bisa apa anak-anak kita?” Proses un-learning dan re-learning dikemas secara apik membuat kita harus belajar tentang anak anak (perempuan) sadar ataupun tidak.

    Adalah empat anak perempuan dari keluarga March  di film The Little Women, yaitu Meg, Jo, Amy dan Beth telah menjadi guru kehidupan kita untuk apa yang sering terlupakan atau sengaja dilupakan dalam sistem sosial. Anak-anak, apalagi perempuan dalam kurun dan kultur waktu apapun sering dianggap tak berguna. Apalagi dalam kultur misoginis, yang sering berbalut agama, perempuan dan anak-anak bukan hanya dipandang sebelah mata, tetapi bahkan dianggap bagian “pariah” dalam masyarakat. Bukan saja tidak berharga, tetapi selalu diposisikan sebagai yang lemah dan mudah dieksploitasi

    Penulis novel Louisa Alcott menjadi perempuan berani pada masanya. Kalau dilihat penulisan novel ini di tahun 1868 di masa yang merupakan dimulainya upaya untuk melakukan dekonstruksi terhadap cara pandang kultur Amerika Serikat yang mendegradasikan perempuan dan apalagi anak perempuan. Tidaklah berlebihan spirit jaman atau “Zeitgeist” yang terjadi waktu itu masih hangat dengan perjuangan kaum perempuan di Amerika Serikat yang mengorganisasikan diri dalam perjuangan woman suffrage movement dan mengadakan kongresnya, yaitu National Woman's Rights Convention  di tahun 1860. Perempuan perempuan kecil (The Little Women) adalah sebuahbentuk upaya perlawanan kultural sastra melawan hegemoni maskulinitas yang berlebihan pada saat itu.

    Ya, The Little Women adalah para perempuan, dan merekapun kecil. Apa sih bisanya mereka dalam kehidupan yang semuanya seakan diatur oleh para penguasa laki-laki?  Keempat anak perempuan yang diceritakan novel dan film itu menjadi “guru” bagi para pembaca novel dan penonton film. Mereka tiba-tiba memberi inpsirasi bahwa kaum perempuan dan anak-anak perempuan bukanlah mahluk lemah yang bisa sembarangan dieksploitasi atau bahkan dimanipulasi oleh siapapun. Meg, Jo, Amy dan Beth March adalah sosok yang menunjukkan bahwa dalam keceriaan anak-anak dan ritus kehidupannya menjadi perempuan dewasa, ada terlalu banyak nilai dan aksi yang harus kita adopsi agar bumi menjadi tempat yang lebih baik untuk dihidupi bersama.

    Yang pertama kisah perempuan perempuan kecil ini adalah cerita indahnya keunikan setiap anak manusia yang dilahirkan di muka bumi. Mereka adalah perempuan yang tidak sama dan tidak mau dipaksakan sama atau seragam. Ketika si Sulung Meg merasa bahwa ia pas dengan minatnya menjadi pemain drama pertunjukkan, maka ketiga adik perempuannya tidak serta merta harus ikut apa yang dilakukan kakak Sulungnya. Jo meminati dan menekuni bakatnya sebagai penulis, Amy begitu luar biasa mendalami hasratnya sebagai pelukis, dan si bungsu Beth mampu menunjukkan bahwa pilihannya sebagai pianis adalah sah dan terbaik. Ketika kita cenderung ingin menyeragamkan anak-anak, mereka  adalah perempuan perempuan kecil yang mengajarkan indahnya perbedaan dan pilihan

    Juga ketika masuk dalam kehidupan asmara, para perempuan kecil ini tidak serta merta mengikuti paksaan dan menjadi anak-anak yang harus pasif. Dalam pencarian akan kehidupan yang lebih baik untuk masa depan mereka, tidak satupun mengambil keputusan hanya karena kepentingan ekonomi, paksaan orang tua, dan apalagi sentiment kultural psikologis yang berbau agama. Kendati digambarkan sebagai keluarga yang memiliki spiritualitas yang baik, “pemberontakan santun” anak-anak perempuan ini tidak mau menerima takdir “hanya” sebagai perempuan yang tidak bisa memilih. Pastinya mereka tidak ingin hanya menjadi “konco wingking” alias teman belakang saja yang “swargo nunut neroko katut”. Mereka memilih dengan hati, memutuskan dengan logika yang jernih dan menjalani dengan kemauan yang tidak asal-asalan . Mereka adalah anak anak (perempuan) yang bermartabat dan tidak menyerah dipaksa oleh keadaan.

    Sebagaimana adanya, tidak ada satupun keluarga yang sempurna di dunia ini.  Didalamnya, ada konflik, tangisan, pengkhianatan dan bahkan ketidakpercayaan. Anak anak perempuan ini menjalani kehidupan keluaraga yang bukan dalam kondisi taman bunga mendekati surga yang tanpa masalah. Mereka marah, mereka benci, merekapun merasa tidak berharga dan bahkan mereka pernah merasa tidak lagi mau hidup dalam keluarga. Sebuah kenyataan yang apa adanya namun dalam konsep ketahanan keluarga semuanya bisa dicarikan solusi dalam cinta kasih. Cinta  persaudaraan yang harus menghadapi pahitnya hubungan, dan bahkan harus merelakan kematian Beth. Dalam cinta kasih ada ketangguhan dan anak-anak perempuan ini tidak mau kalah terhadap konflik dan rasa kehilangan menyebabkan kehancuran. Mereka adalah anak-anak perempuan tangguh karena ada cinta dan kasih.

    Dalam dunia yang sulit ramah terhadap kaum yang dianggap lemah, dalam hal ini anak-anak dan perempuan, narasi besar yang dibangun oleh anak-anak perempuan keluarga March dalam The Little Women adalah narasi kuatnya anak-anak yang mampu mengubah dunia. Mereka tidak mau kalah, mereka keluar jadi pemenang dalam ketangguhan untuk memilih, merancang masa depan dan menunjukkan kekuatan dalam cinta kasih yang Tangguh. Benar kata Egglantyne Jebb, pendiri organisasi anak Internasional, Save The Children, Humanity owes the child the best it has to give”. Kita berhutang pada anak-anak, apalagi anak anak perempuan, untuk hal-hal terbaik yang mereka dapat berikan kepada kita.

    Keempat anak keluarga March, telah memberikan nasihat terbaik bagi kita bahwa apapun harus kita lakukan yang terbaik untuk tumbuh kembang anak-anak agar dapat mengisi dunia ini dengan kebaikan. Adalah Jo March, anak kedua yang berprofesi sebagai penulis mengatakan kutipan diatas, “I intend to make my own way in the world”. Biarkan anak-anak memilih dan memastikan pilihan dan jalannya untuk menjadikan dunianya dan dunia sekitarnya indah. Biarkan mereka bermain musik kehidupan, tetaplah mereka melukis dunia, doronglah mereka bermain drama kemanusiaan terbaik, dan jadikanlah mereka penulis-penulis kisah yang menjadikan dunia terbaik.

    Bisa apakah anak anak (perempuan)kita? Mereka bisa, sudah dan sedang menjadikan dunia kita menjadi tempat yang lebih baik untuk dihidupi bersama, dalam keunikan, pilihan dan ketangguhan karena cinta kasih.  Terima kasih anak-anak perempuan yang hebat.

    Untuk Dea, Keilana, Janis, Jeinan, Aisha, Emi dan Dewi yang tak kalah hebat dari  Greta dan Nina.

     

    Victor Rembeth, Direktur Proyek Pengurangan Risiko Bencana, Save The Children Indonesia


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.











    Oleh: Admin

    5 hari lalu

    Digeser Suplayer Telur Kabupaten, Peternak: Pak Bupati, Beri Kami Kesempatan

    Dibaca : 1.080 kali

    Tuban - Belum selesai polemik soal beras berkutu di program BPNT, kini muncul suplayer yang mengatasnamakan diri suplayer kabupaten. Tak ayal, kehadiran suplayer telur kabupaten inipun menggeser peternak lokal. Adalah Sahli, Peternak Ayam Petelur di Desa Pongpongan Kec. Merakurak yang mengeluhkan tak lagi bisa ikut menyuplai telur dalam program BPNT. Pasalnya, e-warong sembako di desanya sudah memiliki suplayer baru yang ditunjuk dari kabupaten. Akibatnya, Sahli kehilangan pangsa pasar terdekat yang ada di desanya. "Katanya sudah ada suplayer baru dari kabupaten yang bertugas menyuplai telur di program BPNT, jadi e-warong sekarang tidak lagi ambil telur dari saya" terang Sahli saat di temuai di kandangnya, Kamis, 21/05/2020. Sahli menuturkan, peternak ayam petelur yang ada di desanya sebenarnya cukup merasakan dampak ekonomi dari program andalan Jokowi ini. Ia dan teman-temannya tidak perlu jauh-jauh mencari pangsa pasar untuk telur yang dihasilkan dari kandangnya. Selain itu, harga jualnya juga relatif setabil dan kompetitif. Namun semenjak kehadiran suplayer kabupaten ini, ia terpaksa harus mencari pangsa pasar baru. "Dulu telur tidak pernah keluar dari desa karena diambil Agen BPNT, sekarang saya terpaksa jual telurnya ke tengkulak meski harganya lebih murah" terang pemuda yang sudah menggeluti peternakan unggas sejak 5 tahun terakhir ini. Terpisah, Aripin, peternak ayam petelur di desa yang sama juga menyayangkan masuknya suplayer baru dari luar desa. Menurutnya, supplier kabupaten ini makin menambah derita peternak ayam petelur yang beberapa bulan terakhir ini mengalami guncangan harga akibat beredarnya telur yang diduga HE. Jika hadirnya suplayer luar di BPNT Desa Pongpongan ini adalah kebijakan Bupati, Arifin meminta agar kebijaka itu dievaluasi. "Mohon Pak Bupati bisa melindungi peternak lokal. Beri kami kesempatan untuk menyuplai telur di desa kami" pinta Arifin. Untuk diketahui, adanya komoditi telur dalam program BPNT ini telah memantik semangat warga desa mencoba peruntungan dalam bidang perunggasan. di Desa Pongpongan sendiri, saat ini terdapat 5 kandang ayam petelur milik warga. Dua diantaranya merupakan kelompok binaan dari PT. Semen Indonesia. Diperkirakan, tahun ini juga akan muncul lagi peternak-peternak baru yang menggeluti peternakan ayam petelur. Hal ini diketahui dari banyaknya usulan peternakan unggas dari kelompok masyarakat yang yang masuk melalui program CSR Semen Indonesia tahun 2020 untuk Desa Pongpongan (tro/id).