Dana BOS Mas Menteri - Peristiwa - www.indonesiana.id
x

Citra Cita

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 Januari 2020

Selasa, 11 Februari 2020 15:27 WIB
  • Peristiwa
  • Berita Utama
  • Dana BOS Mas Menteri

    Dibaca : 191 kali

    Kabar gembira. Bagi dunia pendidikan Indonesia. Lagi-lagi perubahan dari Mendikbud Nadiem Makarim.

    Setelah gebrakan Merdeka Belajar.

    Usai dobrakan Kampus Merdeka.

    Kini diibaratkan Dana Merdeka.

    Untuk sekolah. Apalagi kalau bukan anggaran Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Yang selalu dinantikan pihak sekolah. Dari jenjang SD sampai SMA.

    Menteri Nadiem berkoordinasi dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani menetapkan bila dana BOS langsung ditransfer ke sekolah-sekolah. Tidak lagi 'mampir' di pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan, seperti selama ini berlaku.

    Menteri Nadiem membuka pintu kemerdekaan lagi bagi sekolah agar tidak terhambat menyelenggarakan proses belajar-mengajar. Sekolah dapat dana BOS. Langsung bisa mengelolanya. Tentu saja saja sesuai ketentuan kegunaannya.

    Mungkin hari-hari ke depan tidak lagi bakal terdengar ada sekolah kekurangan perangkat pendidikan. Sebab sekolah sudah tidak perlu lama lagi menunggu turunnya dana BOS dari Pemda yang terlalu birokratis. Sangat lama. Proses adminstratifnya panjang. Padahal belajar-mengajar mendesak terus harus berlangsung.

    Bisa saja hari-hari ke depan, sudah hening keluhan soal beban biaya murid bersekolah harus bertambah. Tak lagi pusing mengakali kebutuhan operasional belajar-mengajar dari tambahan biaya yang harus dikeluarkan. Sebab dana BOS cepat diterima. Langsung ke sekolah. Bukan lagi kewenangan Pemda yang kadang terlalu lama penyalurannya. Entah untuk apa.

    Mungkin hari-hari selanjutnya, semua Guru di Indonesia setiap awal bulan tersenyum bahagia. Gajinya tepat waktu. Tidak lagi paceklik. Gara-gara sekolah tempatnya mengajar kekurangan dana. Sudah habis menutupi biaya penyelenggaraan pendidikan.

    Dana BOS dari Menteri Nadiem yang langsung disalurkan ke sekolah --tidak lagi pakai pihak ketiga-- rasanya bakal membuat Guru tidak lagi ketar-ketir. Sekolahnya jelas punya hak langsung memegang dana. Sudah tak perlu repot-repot urus administrasi ke Pemda. Memerlukan waktu lama lagi. Yang entah kapan cairnya dana BOS.

    Hebatnya, dana BOS naik dibandingkan tahun lalu. Saat ini Menteri Nadiem dan Menteri Sri Mulyani menetapkan jumlahnya sebanyak Rp 54,32 triliun. Artinya, sekolah lebih besar juga menerima alokasi anggaran. Sekolah bisa lebih bisa menambah pemanfaatan dana BOS diterima untuk penyelenggaran pendidikan yang belum terlaksana.

    Penyaluran dana BOS langsung ke sekolah telah ditetapkan mulai 10 Februari 2020. Sekitar sepekan setelah masa kerja 100 hari Kabinet Indonesia Maju.*


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: iin anggryani

    2 hari lalu

    Kerakusan Manusia untuk Kekuasaan

    Dibaca : 452 kali

    Salam.. Manusia adalah salah satu makhluk yang di ciptakan Allah yang diberi kesempurnaan berupa kelengkapan akal dan nafsu sehingga beda dengan makhluk lainnya. Bumi adalah tempat hidupnya manusia. Manusia adalah makhluk yang paling unik juga na’if. Manusia pada dasarnya adalah makhluk bersosial, bermasyarakat dan berkelompok. Manusia diciptakan dengan dua jenis yaitu laki-laki dan perempuan. Sedangkan kekuasaan adalah kewenangan yang didapatkan atau di berikan kepada salah satu manusia atau kelompok yang dianggap mampu mengemban tugas tersebut. Manusia berlaku sebagai subjek sekaligus objek dalam kekuasaan atau jabatan. Manusia era sekarang ini berlomba-lomba untuk menduduki wewenang kekuasaan, segala cara mereka lakukan agar bisa mendapatkan posisi itu. Yah karena menurut mereka dengan mampu menduduki wilayah kekuasaan itu merupakan sebuah keistimewaan, kebnaggaan bagi mereka. Mereka tidak tahu berani naik dan berada di posisi itu adalah sebuah tanggungjawab besar yang kelak mereka harus memenuhinya, yang banyak manusia lain bertumpu dan beradu nasib padanya. Tapi kita lihat saja koledornya sekarang ini, banyak manusia yang berada di jabatan sebagai pemimpin daerah, desa bahkan Negara yang lupa akan tugas utamanya, menaungi masyarakat sehingga dengan itu banyak sekali kita lihat sekarang ini pemimpin banyak yang dzolim. Banyak sekarang ini terjadi perang saudara, saling bacok membacok, anak membunuh ayah, kakak membuh adek itu tidak lain motifnya karena berebutan kekuasaan. Memang tidak heran lagi banyak orang bilang dari dulu sampai sekarang kekuasaan dan kedudukan selalu saja menjadi objek yang menarik manusia untuk merebutnya. Banyak sekali kita lihat manusia yang menjadi gila karena haus akan kekuasaan, sehingga apapun cara rela dilakukan demi meraihnya. Kekuasaan memang membuat kita lupa diri dan membutakan hati nurani kita. Kekuasaan terlihat seperti madu dari jauh oleh mata manusia yang haus akannya, yang seketika akan berubah jadi racun apabila kita mendekati dan ada didalamnya. Karena ketika kita berada dalam kekuasaan jelas sekali agama dan ajaran moral, etika akan disingkirkan. Harus kejam itulah senjatanya. Ketika berada dalam kekuasaan, orang yang benar dan luruspun bisa menjadi tersesat, apalagi yang sebelumnya tidak benar. Orang bijak pernah mengatakan “bila ingin hidup dalam kebenaran, maka hindarilah untuk masuk dalam kekuasaan”. Orang-orang yang sudah terpedaya dan sangat haus akan kekuasaan akan rela melakukan apa saja dan mengejarnya bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun bahkan rela mengorbankan segala hal. Machiavelli mengatakan pada dasarnya, selalu ada manusia didunia ini yang memiliki ambisi besar untuk berkuasa, dan merealisasikan ambisinya itu dengan berbagai cara. Manusia harusnya dengan kekuasaan itu harus memberikan manfaat dan pelayanan yang baik bagi rakyatnya. Kekuasaan biasanya tergantung dari manusia mana yang memegangnya, kalau orang baik yang memegangnya maka kekuasaan akan digunakan untuk melayani masyarakat sehingga terciptanya kemakmuran, kedamaian, dan keteraturan. Dan sebaliknya kalau orang salah, gila jabatan dan haus akan kekuasaan maka tidak heran lahir semua kehancuran, banyak permusuhan, saling benci dan lain sebagainya. Manusia ketika mendapati sebuah kekuasaan banyak berubahnya, menganggap dirinya yang paling tinggi dari manusia lainnya dan seenaknya memperlalukan yang lainnya. Manggekompo, 18 Januari 2020 I’in Khairudin