Mas Menteri, Merdekakan Siswa dari Perundungan - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi Persekusi / Bullying. shutterstock.com

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 15 Februari 2020 17:40 WIB
  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Mas Menteri, Merdekakan Siswa dari Perundungan

    Dibaca : 1.969 kali


    Bullying atau perundungan sejak dulu tidak kunjung lenyap dari sekolah. Memang aneh, sekolah adalah tempat anak dididik agar berbudi pekerti baik dan berpengetahuan baik. Namun, justru di sekolah perundungan kerap terjadi. Orang tua yang menitipkan anaknya ke sekolah-sekolah dirundung kekhawatiran bahwa ia justru menyerahkan anaknya ke tempat yang tidak aman dan nyaman.

    Di dunia internet dan media sosial seperti sekarang, perundungan itu dengan cepat menjadi viral. Mungkinkah yang tidak diketahui masyarakat lebih banyak lagi? Bukan hanya di Kabupaten Purworejo maupun di Kota Malang, tapi juga di tempat-tempat lain? Apakah perundungan di kedua tempat itu hanya fenomena gunung es: sedikit yang terlihat dan lebih banyak lagi yang tidak diketahui?

    Perundungan bukan terbatas pada ucapan--misalnya mengata-katai teman dengan julukan yang tidak pada tempatnya, tapi perundungan kian disertai tindakan fisik pula. Di Malang, korban perundungan diangkat lalu dibanting ke tanah oleh dua temannya, hingga kemudian dua ruas jarinya harus diamputasi. Jelas, ini bukan perundungan kata-kata, tapi sudah tergolong penganiayaan. Hilangnya ruas jari akan menghantui masa depan korban bila korban tidak memperoleh terapi yang tepat, yang mampu meredam trauma yang ia alami.

    Di Purworejo, seorang pelajar SMP dipukuli oleh teman-temannya. Ini juga bukan perundungan dengan kata-kata, melainkan juga sudah tergolong penyiksaan. Terungkap bahwa perundungan itu sebenarnya sudah berlangsung empat bulan, tetapi korban dan keluarga tidak mengambil tindakan apapun. Setelah video yang berisi kejadian terbaru menyebar melalui media sosial, barulah keluarga melapor kepada kepolisian.

    Dari kedua kasus ini tampaknya ada beberapa pelajaran yang dapat diambil. Pertama, perundungan mungkin saja telah berlangsung beberapa kali. Korban tidak mau mengungkapkan siapa pelaku perundungan karena mungkin khawatir akan tindakan balasan yang lebih kejam. Ketakutan korban, di sisi lain, membuat pelaku perundungan kian leluasa menjalankan aksinya.

    Kedua, pelaku perundungan biasanya tidak satu orang, melainkan beberapa orang, sebab dibutuhkan keberanian untuk melakukannya. Hanya dengan berkelompok, remaja-remaja ini memiliki nyali untuk melakukan perundungan. Bahkan, pada kasus di Purworejo, korbannya siswi putri, sedangkan pelaku perundungan tiga murid laki-laki.

    Ketiga, murid-murid yang lain mungkin saja mengetahui adanya perundungan tersebut, tapi memilih diam saja. Masing-masing mungkin takut akan menjadi sasaran berikutnya jika membuka mulut.

    Keempat, lingkungan keluarga kadang-kadang kurang peka dalam melihat perubahan yang terjadi pada anak. Misalnya, sekembali dari sekolah lantas cenderung menyendiri dan diam padahal biasanya ceria, atau anak pulang ke rumah dan beberapa kali mengeluh sakit--seperti terjadi di Purworejo. Keterlambatan pengungkapan menjadikan perundungan berlangsung lebih lama.

    Kelima, pihak otoritas lokal--guru, kepala sekolah--dalam hal tertentu memilih untuk menutupi kasus perundungan agar tidak diketahui pihak luar. Hal ini terjadi pada kasus di Malang, sehingga kepala sekolah dicopot. Kasus yang ditutup-tutupi mempersulit pengungkapan dan perundungan bisa berlangsung lebih lama.

    Peristiwa perundungan yang memakan korban dan terungkap ke publik ini sangat layak memperoleh perhatian mas Menteri Nadiem Makarim. Jajarannya perlu dan penting memikirkan bagaimana memerdekakan sekolah dari aksi-aksi perundungan agar sekolah menjadi tempat belajar yang nyaman dan menyenangkan, bukan lingkungan yang menakutkan dan mencekam.

    Satu lagi yang menjadi pertanyaan: mengapa anak-anak kita begitu ringan tangan untuk memukul dan menganiaya teman sendiri? Apakah aksi pemukulan seperti yang dilakukan guru di sebuah sekolah di Bekasi sebenarnya terjadi juga di tempat-tempat lain dan diteladani oleh para murid yang kemudian menjadikan kawan sekolahnya sendiri sebagai target? Ataukah peniruan itu berasal dari rumah, dari layar televisi, atau bagaimana penjelasannya? >>


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.