AHY Yang "Berbeda" - Analisa - www.indonesiana.id
x

Octaviany Onera

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 17 Februari 2020

Senin, 17 Februari 2020 16:55 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • AHY Yang "Berbeda"

    Dibaca : 287 kali

    Kunjungan Wakil Ketua Umum DPP Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) ke sejumlah daerah untuk menyapa kader dan mulai memanaskan mesin politik Partai Demokrat menjelang Pilkada 2020 cukup menarik untuk dicermati. Kedatangan AHY ini tidak hanya meningkatkan intensitas pertemuannya dengan sel-sel politik Demokrat, tetapi juga mengubah cara pandang kader terhadap figur AHY yang selama ini tidak banyak mereka ketahui.

    Selama ini, penampilan-penampilan AHY di layar kaca saat menyampaikan pidato politik menggambarkan dirinya sebagai pribadi yang santun, cerdas, tegas, namun kurang cair. Persepsi itu kini berubah saat kader berinteraksi langsung dengan AHY. Kecerdasan dan ketegasan sosok AHY itu ternyata juga berbanding lurus dengan kepribadiannya yang terbuka, suka bercanda dan cair dengan sesama.

    Dalam berbagai kesempatan, AHY menujukkan sikapnya yang egaliter. Hal itu ditunjukkan saat dirinya menyapa kader hingga mantan anak buahnya di TNI yang secara tidak sengaja berjumpa di wilayah yang dikunjunginya. AHY menyempatkan diri menyapa dan berdiskusi ringan dengan yang bersangkutan. Tak lupa, AHY juga memberikan semangat dan menitipkan salam kepada teman-teman yang masih bertugas di berbagai daerah. Kepada para kader-kader PD yang tergolong senior, AHY juga membuka diri untuk menerima aspirasi dan masukan berharga. 

    AHY juga tampak menikmati perjalanannya menyapa kader di daerah. Dia tampak begitu cair membicarakan berbagai wacana besar tentang negara dan kebangsaan, sembari menikmati buah durian dan berbagai macam jenis kuliner daerah, dengan diselingi dengan guyonan-guyonan renyah dan cerdas.

    Menyaksikan hal itu, banyak kader kaget melihat perbedaan karakter pemimpinnya itu, karena yang ada di persepsi mereka berbeda dengan realitas yang sebenarnya. 

    Sebagai pemimpin, AHY tak hanya memberikan arahan dan instruksi, tetapi juga bisa menjadi pendengar yang baik. Dalam setiap forum, AHY meminta para jajaran pengurus dan kader di daerah untuk menyampaikan “uneg-uneg”, saran dan masukan konstruktif tentang partai  kepada dirinya.

    Setiap poin masukan tampak ia catat dengan rapi untuk dijadikan sebagai bahan refleksi dalam menata kembali struktur kekuatan partainya di masa depan. Di saat yang sama, AHY juga tampak sabar menjawab setiap pertanyaan kader dan jurnalis. Meskipun kadang muncul pertanyaan sensitif dan “memantik”, AHY tetap sabar menggunakan argumen yang proporsional untuk menjawabnya.

    Semua itu tidak hanya menunjukkan kematangan pribadi AHY, tetapi juga memperlihatkan kapasitas kepemimpinannya di dunia politik. Kepemimpinan yang matang ini sangat penting untuk dimiliki partai politik guna menjaga soliditas kekuatan partai ke depan.

    Banyak partai yang harus terdegradasi karena tidak memiliki modal sosial dan kualitas kepemimpinan yang memadai. Dalam konteks ini, Partai Demokrat termasuk yang beruntung karena memiliki figur AHY. Jika PD memberikan kesempatan kepada AHY untuk mengoptimalkan kapasitasnya, hal itu akan berimbas positif bagi peningkatan popularitas dan elektabilitas PD ke depan.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.