BODY MUN UPH: Ajari Mahasiswa HI Hadapi Isu Global Sejak di Bangku Kuliah - Peristiwa - www.indonesiana.id
x

Aurelia Natasya

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 15 Juli 2019

Selasa, 18 Februari 2020 15:46 WIB
  • Peristiwa
  • Berita Utama
  • BODY MUN UPH: Ajari Mahasiswa HI Hadapi Isu Global Sejak di Bangku Kuliah

    Dibaca : 1.170 kali

    Program studi Hubungan Internasional Universitas Pelita Harapan (HI UPH) selalu memiliki upaya untuk mempersiapkan mahasiswanya agar mampu menghadapi dan menemukan resolusi terkait isu-isu global. Hal ini diwujudkan secara nyata melalui kegiatan Short Diplomatic Course (SDC), dalam bentuk kegiatan BODY MUN (Beginners Only Model United Nation) yang berlangsung pada 7 - 8 Februari 2020, di Kampus UPH Lippo Village, Tangerang.

    SDC merupakan kegiatan simulasi MUN yang wajib diikuti mahasiswa tingkat pertama prodi HI, dan  bagian dari mata kuliah pengantar HI yang berbobot 4 sks. Kegiatan ini memiliki bobot nilai sebanyak 20%. MUN sendiri merupakan kegiatan Himpunan Mahasiswa Prodi HI untuk melatih kemampuan debat. Kolaborasi kegiatan kemahasiswaan ke dalam kurikulum sangat efektif meningkatkan keterampilan mahasiswa.

    “Melalui BODY MUN ini etiap mahasiswa berkesempatan mendalami kondisi politik domestik sebuah negara, dengan cara mengambil peran sebagai pemimpin negara tertentu. Kemampuan analisis, persuasi, membangun argumen, dan tentunya negosiasi dilatih secara intensif. Selain itu, kegiatan ini bertujuan membangun bonding antara sesama mahasiswa, dan juga  antara junior dengan seniornya,” kata Elyzabeth Nasution – Kepala Program Studi HI.

    Tahun ini, BODY MUN mengangkat topik Joint Historical Crisis Council: Arab-Israel Six Days War 1967 untuk membekali mahasiswa keterampilan menghadapi situasi perang yang melibatkan aktor besar dalam politik internasional, seperti Amerika Serikat, negara kawasan Timur Tengah, dan negara-negara Islam. Meskipun sudah terjadi cukup lama, yaitu sejak  1948, konflik Israel-Palestina ini masih relevan dalam studi HI, karena banyak membahas isu seperti, politik, kemanusiaan, agama, dan sosial budaya.

    “Kegiatan ini diawali dengan tiga hari untuk mempelajari konsep dasar MUN serta isu terkait, dan diakhiri dengan BODY MUN selama dua hari untuk mengimplementasikan seluruh konsep dasar yang telah dipelajari selama masa persiapan. Karena tahun ini angkatan barunya ada tiga kelas, jadi kami gabung menjadi satu council, dan satu Negara akan diwaliki oleh dua mahasiswa (double delegates). Selain simulasi MUN, mahasiswa juga dilengkapi dengan seminar tentang prospek profesi lulusan HI dari para alumni,” ujar Selly Angelina – Ketua Acara BODY MUN.

    Selain dengan mengadakan kegiatan BODY MUN secara rutin di setiap tahunnya, HI UPH juga menjalin kerja sama dengan Kementerian Luar Negeri dan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI).

    “Bersama Kementerian Luar Negeri, setiap tahunnya HI UPH diundang untuk mengirimkan mahasiswa menjadi pendamping delegasi pada Multi-Stages Negotiation Simulation (MSNS). HI UPH juga kerap mengirimkan pembicara pada Conference on Indonesian Foreign Policy (CIFP) yang merupakan konferensi mengenai politik luar negeri tersebesar di dunia. Tidak hanya itu, mahasiswa HI UPH juga selalu mengambil bagian dengan menjadi relawan,” ungkap Elyzabeth.

    Berikut testimoni dari para peserta:

    Edward Soewanto – Mahasiswa HI UPH (2019)

    “Sebelumnya saya sudah mengikuti MUN di luar UPH, yaitu Parahyangan Nasional MUN. MUN yang diadakan oleh UPH ini terasa seperti MUN yang sesungguhnya, ini merupakan pengenalan yang baik bagi teman-teman saya yang sebelumnya belum pernah mengikuti MUN. Dengan mengikuti MUN ini saya bisa mengasah kemampuan public speaking dan analisis saya dalam menghadapi isu global, khususnya terkait isu Arab-Israel Six Days War 1967 ini,” kata Edward).

    Brayent – Mahasiswa HI UPH (2019)

    “BODY MUN ini sangat edukatif, karena saya belum pernah mengikuti MUN. Banyak manfaat yang saya peroleh dari kegiatan ini, dan bisa diaplikasikan, seperti kemampuan diplomasi, public speaking, dan negosiasi. Dalam kegiatan ini saya berperan sebagai delegates yang membuat saya belajar bagaimana caranya mempertahankan argumentasi,” aku Brayent.

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.