Ini Daftar Game Petualangan Offline Terbaik - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Game Online

Yusuf Kurnia

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 20 Februari 2020

Jumat, 21 Februari 2020 06:49 WIB
  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Ini Daftar Game Petualangan Offline Terbaik

    Dibaca : 308 kali

    Saat ini game untuk android yang bisa dimainkan secara offline makin beragam. Tidak hanya sebatas game teka-teki saja, tapi juga game perang, game untuk anak perempuan sampai dengan game petualangan offline terbaik yang bisa digunakan oleh semua kalangan. Berikut daftar game petualangan untuk ponsel yang layak dicoba!

     

    Assassin’s Creed Pirates

    Yang masuk dalam daftar pertama game terbaik adalah Assassin’s Creed Pirates. Untuk Anda yang penggemar berat cerita tentang bajak laut, tampaknya layak mencoba game petualang yang bernama Assassin’s Creed Pirates ini. Nantinya Anda sebagai pemain akan menjadi pemeran utama yaitu Alonzo Batilla, si kapten bajak laut.

    Dulunya, untuk memainkan game ini Anda perlu membeli seharga Rp59 ribu tapi kemudian game ini menjadi gratis dan bisa dimainkan secara offline. Tenang, game Assassin’s Creed Pirates ini juga bisa dimainkan oleh Anda pemilik ponsel iOs!

    Game ini menarik karena Anda dapat menjalani adegan yang menegangkan seperti menembak meriam, mengejar musuh, dan menyusun strategi perang. Dan apabila Anda berhasil memenangkan setiap misi, akan diberikan hadiah harta untuk upgrade kapal.

     

    The End of The World

    Berkisah tentang pria kesepian yang baru saja kehilangan orang yang paling dicintainya. Sangat menyedihkan bukan? Walau begitu, justu itu lah hal yang membuat paling menarik pun Anda akan berperan sebagai si lelaki ini dan merasakan bagaimana kehidupan seseorang yang patah hati. Namun, jika kamu belum berusia 16+, sebaiknya harap bersabar dan menunggu sampai usia yang sesuai.

    Terlebih suasana game yang dibuat suram, sungguh menyentuh hati siapapun yang memainkannya. Game ini adalah game petualangan offline terbaik yang menawarkan permainan yang sederhana tapi tetap seru dengan cara yang unik.

     

    Minecraft: Pocket Edition

    Ingin memiliki pengalaman membangun kota dengan cara yang mudah? Coba unduh aplikasi Minecraft: Pocket Edition yang bisa memberikan petualangan seru menjadi arsitek dadakan! Selain itu, Anda bisa membangun rumah sederhana hingga istana mewah dengan efek 3D yang membuat semua terasa sangat nyata seolah Anda membangun sendiri dari 0.

    Faktanya, game Minecraft: Pocket Edition termasuk dalam 50 game terlaris sepanjang masa! Duh, makin penasaran dan tidak sabar ingin mengunduh dan langsung main gamenya, ‘kan?

     

    Syberia

    Setelah puas jadi arsitek yang bebas dan kreatif, kini saatnya Anda menjadi perempuan tangguh yang berprofesi sebagai pengacara. Si perempuan ini akan melakukan petualangan menuju Rusia Timur dan bertemu dengan beragam karakter yang unik di tempat-tempat yang tidak terbayangkan. Game satu ini, sangat pas bagi Anda yang suka menaklukan misi!

    Tenang, game Syberia tidak memerlukan memori besar untuk bisa dimainkan, yaitu 5,5 MB saja. Nah, tidak hanya menaklukan misi, Anda juga akan mendapatkan teka-teki yang harus dipecahkan sehingga bisa upgrade ke level selanjutnya. Anda sudah siap?

     

    Ice Age Advanture

    Nah, jika Anda sedang mencari game petualangan untuk anak-anak, coba untuk unduh aplikasi Ice Age Advanture! Seperti yang Anda ketahui bahwa game ini diadaptasi dari film populer yang berkisah tentang hewan-hewan yang hidup pada masa prasejarah.

    Nantinya, Anda akan berpetualang sambil menjaga dan menolong hewan-hewan lain dari benua es yang bermasalah. Game ini bisa diunduh dengan ponsel Android dan menghasilkan efek 3D yang dijamin akan menyenangkan untuk anak-anak. Namun jika Anda juga tertarik, game ini juga cocok untuk segala usia.

    Melihat banyaknya game petualangan offline terbaik yang sudah disebutkan di atas, pastinya membuat jiwa gamers Anda makin tidak sabar untuk menjajal satu-persatu. Kira-kira, mana yang akan Anda unduh untuk pertama kali?


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.








    Oleh: honing

    1 hari lalu

    Matematika Lokal ala Suku Atoin Meto di NTT

    Dibaca : 243 kali

    Penulis: Honing Alvianto Bana Mari menuju selatan nusantara sejenak dan singgah di salah satu pulau di Nusa Tenggara Timur. Pulau yang terdiri dari dua negara, yaitu negara merdeka Timor Leste dan kawasan Timor Barat, yang merupakan bagian dari Indonesia. Timor Barat adalah wilayah yang mencakup bagian barat Pulau Timor. Secara administratif, Timor Barat merupakan bagian dari Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Salah satu suku yang berdiam di wilayah Timor Barat adalah suku Atoni Meto. Suku ini tersebar hampir di seluruh daratan Pulau Timor yang terletak di bagian selatan provinsi NTT. Atoni Meto terdiri dari dua kata yakni Atoni berarti orang atau manusia, dan Meto yang secara harafiah berarti tanah kering. Pada umumnya orang biasa menyebutkan Atoni Pah Meto yang berarti “orang-orang dari tanah kering” (H.G Schurtle Nordolt,1966, hal.18). Sebetulnya, suku bangsa dan kelompok etnis yang mendiami Timor Barat ini sampai dengan sekarang masih terdapat interpretasi yang berbeda-beda. Orang Belu, menyebutnya dengan orang Dawan. Sementara para pedagang asing dari luar Timor menyebutnya Atoni. Ormeling mempergunakan sebutan The Timorese Proper (orang-orang Timor khusus). Sementara Middelkoop mempergunakan ungkapan: people of the Dry Land (Atoni Pah Meto) yang artinya: penduduk, manusia atau orang dari tanah kering.(Ormeling, 1967). Pada prinsipnya ungkapan yang dipergunakan Middelkoop lebih tepat, aktual dan relevan. Atoni Pah Meto (People of the Dry Land) artinya: penduduk, manusia, atau orang dari tanah kering (Peter Middelkoop,1982,hal.143). Matematika Matematika adalah gerbang ilmu pengetahuan. Mengabaikan matematika akan melukai semua pengetahuan. Seperti itulah kata Roger Bacon, filsuf asal ingris yang lahir pada 1214. Matematika adalah cara berpikir mahluk hidup sejak mula. Seekor ayam akan tahu jumlah telur yang ia tetaskan. Manusia memakai konsep “sedikit” dan “banyak” dalam berebut sumber daya alam untuk memenuhi nafsu atau sekadar bertahan hidup. Matematika adalah dasar pikir mahluk hidup yang memiliki otak. Matematika juga adalah tanda kehidupan sosial. Semakin kompleks konsep matematika, kian kompleks pula hidup kita. Ketika orang Babilonia belum memikirkan dan menemukan angka 0, pikiran manusia hanya soal bertahan hidup. Ketika angka 0 ditemukan di India, arsitektur berkembang sangat pesat. Kini kita mengenal komputer yang super-canggih berkat algoritma. Dalam sebuah buku berjudul A Brief History of Mathematical Thought , Luke Heaton—matematikawan dari Universitas Oxford, Inggris—melacak konsep matematika ke zaman purba, ke sejarah Yunani, Mesir Kuno, hingga Mesopotamia. Dari Heaton kita tahu bahwa konsep bilangan jauh lebih tua ketimbang konsep percakapan. Matematika sama tuanya dengan bahasa manusia. Orang zaman dulu merumuskan konsep perhitungan, jumlah, jarak, atau ukuran ke dalam lambang-lambang. Kita mengenalnya kini sebagai angka. Tapi matematika bukan semata bilangan. Matematika adalah bahasa. Karena itu bukan angka dan hasil yang paling penting. Seperti bahasa, dalam rumus dan konsep matematika yang paling penting adalah argumen. Juga seperti bahasa, matematika adalah pola yang disusun dan ditemukan lalu dikonsepsikan menjadi rumus, menjadi torema. Orang Mesopotamia sudah memakai perhitungan Phitagoras dalam menghitung bidang persegi, ratusan tahun sebelum Phitagoras lahir. Mereka bahkan sudah merumuskan konsep dasar perhitungan sudut dan lingkaran yang kini kita kenal sebagai ilmu trigonometri. Etnomatematika Tiap-tiap kebudayaan punya konsep matematikanya sendiri. Orang Sumeria kuno, misalnya, tak memakai bilangan persepuluh dalam konsep perhitungan, tapi kelipatan 60. Karena itulah kita mengenal sudut 3600 atau satu jam sama dengan 60 menit, dan satu menit adalah 60 detik. Penggunaaan nilai-nilai matematika dalam suatu kebudayaan atau adat istiadat yang ada pada suatu komunitas masyarakat disebut etno-matematika. Istilah 'Ethnomathematics' yang selanjutnya dikenal dengan Etnomatematika adalah “The prefix ethno is today accepted as a very broad term that refers to the socialcultural context and therefore includes language, jargon, and codes of behavior, myths, and symbols. The derivation of mathema is difficult, but tends to mean to explain, to know, to understand, and to do activities such as ciphering. Measuring, classifying, inferring, and modeling. The suffix tics is derived from techné, and has the same root as technique.(D'Ambrosio : 2006) Mengacu pada konteks sosial budaya, etnomatematika termasuk bahasa, jargon, kode perilaku,mitos, dan symbol. Sederhananya, ethnomathematika merupakan bidang penyelidikan yang mempelajari ide-ide matematika dalam konteks kebudayaan-sejarah. Etnomatematika sudah digunakan oleh suku Atoin Meto dalam menjalani kehidupan bermasyarakat sejak zaman dahulu. Hal itu bisa kita telusuri dari para peniliti tentang Timor sejak awal abad ke-15. Misalnya, tulisan Fei Hsin(1436) dan Wang Ch’i-tsung (1618) yang memuat gambaran mengenai ciri khas fisik dan pola kehidupan masyarakat Pulau Timor. Dalam tulisan tersebut digambarkan bahwa mereka (Atoni Pah Meto) menghitung dengan mempergunakan batu-batu ceper dan simpul tali. Informasi seperti ini seharusnya diteliti untuk mendalami alasan-alasan paling fundamental mengapa masyarakat Atoim Meto menggunakan sistem dan cara hitung seperti itu. Selain itu, sangat penting dilakukan catatan lepas untuk mengkaji tradisi-tradisi lisan orang Timor yang masih tercecer di mana-mana. Matematika Atoin Meto Orang zaman dulu merumuskan konsep perhitungan, jumlah, jarak, atau ukuran ke dalam lambang-lambang. Kita mengenalnya kini sebagai angka. Masyarakat Atoin meto pun demikian. Masyarakat Atoin Meto memiliki cara tersendiri untuk menghitung hasil panen, mengukur luas lahan, jumlah orang dan lain-lain. Untuk keperluan itu, akan saya jelaskan satu-persatu. *Menghitung hasil panen Sebagian besar Atoin Meto hidup dari hasil bertani dan berladang. Mereka menanam jagung dari awal bulan november dan memanennya pada sekitar bulan maret dan april. Ketika musim panen tiba, Atoin Meto akan mengumpulkannya hasil panen tersebut disuatu ruangan tersendiri. Setelah itu, jagung dibersihkan, dipilih dan pilah untuk disimpan ditempat tersendiri atau disiapkan sebagai bibit. Sebelum jagung disimpan di ume kbubu (rumah tradisional orang Timor). Masyarakat Atoin Meto terlebih dahulu akan menghitung hasil panen agar kemudian bisa dibandingkan dengan hasil panen pada tahun-tahun sebelumnya. Nah, untuk kebutuhan itu saya perlu kembali ke dasar-dasar pemahaman matematika untuk memudahkan dalam memahami cara Atoin Meto berhitung. Sampai saat ini, saya meyakini bahwa matematika adalah sebuah upaya mengabstraksi kenyataan. Maksud saya begini, jika 1 + 1 = 2, maka itu sebenarnya hanyalah sebuah abstraksi dari, misal, "satu Sapi ditambah dengan satu Sapi" dan "hasilnya adalah dua Sapi". Bilangan 1 adalah abstraksi dari 'satu Sapi' dan bilangan 2 adalah abstraksi dari 'dua Sapi'. Atau, misal yang lain, adalah abstraksi dari "satu ayam ditambah satu ayam" adalah "dua ayam". Dalam cara berhitungnya orang Atoin Meto, mereka menghitungnya dengan membuat pengelompokan yang diberi nama tersendiri. Nama (lambang) tersebut menggambarkan jumlah (biasanya jagung) yang sudah mereka sepakati. Masyarakat Atoin Meto menggunakan nama: satu ikat, satu tali, satu suku, satu liar, dan satu kuda untuk menggambarkan jumlah hasil panen. Penjelasannya, sebagai berikut: *Satu ikat= 8 buler jagung. *Satu tali= 2 Ikat. *Satu suku= 12 tali. *Satu liar= 4 Suku *Satu kuda= 20 ikat atau 10 tali. Pertama, 1 ikat = 8 buler jagung. Artinya, dalam satu ikat terdiri dari delapan buler jagung Kedua, 1 tali = 2 ikat. Artinya, dalam satu tali terdapat dua ikat. Dalam 2 ikat jagung terdapat 16 buler jagung, atau satu ikat (8) + satu ikat (8)= 16 buler jagung. Ketiga, 1 suku = 12 tali. Artinya, dalam satu suku terdapat 12 tali. Dalam 1 suku terdapat 192 buler jagung, atau 16×12= 192. Keempat, 1 liar = 4 suku. Artinya, dalam satu liar terdapat 4 suku. Dalam 1 liar terdapat 768 buler jagung, atau 192×4= 768. Kelima, 1 kuda = 20 ikat atau 10 tali. Dalam 1 kuda terdapat 160 buler jagung. Atau 10×16, atau bisa juga 20×8 =160. * Mengukur jarak dan jumlah jiwa Mengukur umumnya berkaitan dengan pertanyaan "berapa (panjang, lebar, tinggi, lama, dan banyak)". Pada masyarakat Atoin Meto, alat ukur yang digunakan sangat bervariasi baik jenis maupun penggunaannya. Misalnya, untuk mengukur panjang dan lebar suatu lahan, masyaratkat Atoin Meto pada zaman dahulu sering menggunakan 5 jingkal (dari ujung ibu jari sampai ke ujung jari telunjuk) orang dewasa untuk ukuran 1 meter. Awalnya, mereka mengukurnya pada sebatang kayu atau seutas tali. Kemudian, barulah sebatang kayu atau seutas tali itu mereka gunakan untuk mengukur panjang dan lebar sebuah lahan. Berbeda lagi, jika ingin menghitung jumlah orang. Untuk menghitung jumlah orang, mereka menghitung dengan menggunakan batu kerikil atau setumpuk biji jagung. Setiap jiwa (orang) dihitung mewakili satu jiwa. Hal ini masih bisa kita temui pada saat pemilihan kepala desa, maupun saat mengikuti kebaktian (ibadah mingguan) pada beberapa desa di Kabupaten Timor Tengah Selatan. Matematika dan bahasa lokal Menggali kembali matematika lokal perlu untuk terus digalakan. Ini penting karna matematika bukan semata bilangan. Ia adalah bahasa. Karena itu bukan angka dan hasil yang paling penting, tapi argumen. Kebudayaan yang berisi nilai-nilai dan pengetahuan lokal dicipta dan dikostruksi dengan perantara seperangkat bahasa. Dengan demikian, bahasa lokal Atoin Meto dan matematika lokal beserta pengetahuan-pengetahuan lokal lainnya haruslah menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan. Terakhir, catatan ini merupakan sebagian kecil "rekaman" tentang cara masyarakat Atoin Meto dalam berhitung. Tentu, masih terlalu jauh dari apa yang diharapkan. Untuk itu, diharapkan usaha dari generasi muda Atoin Meto dalam mengumpulkan kisah,cerita-cerita, dan berbagai gambaran mengenai kehidupan Masyarakat Atoin Meto pada masa silam. Sumber * Damasius sasi. Perubahan Budaya Kerja Pertanian Lahan Kering Atoni Pah Meto Di Kabupaten Timor Tengah Utara. Paradigma Jurnal Kajian Budaya, Pascasarjana UNDANA, Vol. 6 No. 2 (2016). * Ikhwanudin. Pembelajaran Matematika Berbasis Kearifan Lokal Untuk Membangun Karakter Bangsa. Jurnal Pendidikan Matematika Vol 6 No 1, Maret .2018. * Agusthanto A. Makna Dan Simbol Dalam Kebudayaan. Fakultas Ilmu Dan Budaya ULK, Jurnal Ilmu Budaya, Vol. 8. 1. (2011) * Silab, Konahebi, Bessie. Rumah Tradisional Suku Bangsa Atoni. Depertemen Pendidikan Dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Timur. 1996/1997. * Gregor Neonbasu. Kebudayaan Sebuah Agenda (Dalam Bingkai Pulau Timor dan Sekitarnya). Gramedia Pusustaka Utama. 2012.