Antara Nyawa dan Ekonomi, Pemimpin Ragu! - Analisa - www.indonesiana.id
x

ekonomi

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 19 Maret 2020 09:25 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Antara Nyawa dan Ekonomi, Pemimpin Ragu!

    Dibaca : 481 kali

    Menonton tayangan akibat virus corona, di sebuah  televisi swasta nasional, Rabu petang (18/3/2020) di China terjadi penusukan karena berebut membeli masker. Di Australia terjadi keributan karena berebut tisu toilet di swalayan, lalu juga ada orang yang bersifat rasis di moda transportasi KRL/MRT. Masih banyak kejadian lain di luar sana akibat virus Corona. Bagaimana di Indonesia, nantinya? Sebab, pandemi virus Corona boleh dibilang baru dimulai.

    Hari ini, Rabu (18/4/2020) penyebaran virus Corona di Indonesia sudah melewati angka cukup signifikan, yaitu 227 korbaN. Itu pun bila datanya tidak dimanipulasi. 

    Bahkan hanya dalam hitungan satu hari, Selasa-Rabu (17-18/3) korban bertambah hingga angka 55an. Ini sangat luar biasa. Padahal per Senin (16/3/2020) hampir seluruh daerah di Indonesia justru telah meliburkan sekolah dan karyawan. 

    Lalu, bila dihitung sejak, ada korban terdeteksi terpapar virus Corona sejak 2 Maret 2020 di Indonesia, maka perjalanan pandemi virus Corona memang semakin mengkawatirkan. 

    Sudah ada imbauan berdiam diri di rumah, kerja di rumah, belajar di rumah, beribada di rumah, kemudian saat berada di luar rumah juga menjaga jarak (sosial distance). Imbauan untuk masyarakat tidak panik, menjaga kebersihan dan kesehatan, menjaga asupan makanan. 

    Namun, nampaknya semua upaya tak mampu membendung pergerakan penyebaran virus ini hingga korban terus bertambah. Masyarakat semakin was-was hingga pembahasan Indonesia perlu di-lockdown atau tidak, juga terus mengalir baik di medsos, media massa, hingga perdebatan di layar kaca. 

    Khusus untuk masalah lockdown ini, masyarakat juga banyak yang sangat memahami bahwa bila kebijakan ini diambil, ada kesadaran bahwa pemerintah dan rakyat Indonesia sama-sama boleh dikatakan tidak siap. 

    Ini menjadi dilematis, sebab persoalan lockdown akan berimbas benar pada keselamatan rakyat Indonesia, sebaliknya  juga akan berakibat fatal bagi perekonomian rakyat. Mengapa perekonomian rakyat? Bukan perekonomian Indonesia? 

    Rakyat Indonesia yang menggantungkan hidup dari sektor informal, masih mendominasi di negeri ini. Bekerja hari ini, untuk makan hari ini. Bila sampai kebijakan lockdown diberlakukan, maka negeri akan chaos (kacau). 

    Bila tidak di-lockdown, maka sektor pekerja informal inilah juga yang akan menjadi korban terdepan dari serangan atau penyebaran virus corona. Sebagai contoh, melansir dari Kompas.com,  Asosiasi driver ojek online yang tergabung dalam Gabungan Transportasi Roda Dua (Garda) Indonesia menolak kebijakan lockdown.

    Presidium Garda Indonesia Igun Wicaksono mengatakan, kebijakan lockdown akan sangat berdampak buruk terhadap pekerja yang bergerak di sektor informal, sebab, pekerja jenis tersebut pendapatannya bergantung terhadap aktifitas sehari-hari. Igun pun menjelaskan bahwa, "Lockdown jika diberlakukan di Indonesia dampak negatifnya jauh lebih besar dari negara lain, karena banyak yang mencari nafkah di sektor informal," ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (18/3/2020. 

    Apa yang diutarakan Igun tidak salah. Driver ojek online memang merupakan jenis pekerjaan informal. Karenanya bila lockdown diberlakukan, tentu akan merugikan driver ojek online. 

    Terlebih kita ketahui bahwa, ada jutaan ojol yang setiap hari penghasilannya didapatkan secara harian bergantung pada pengguna jasa ojol harian. Selain Ojol, ada buruh harian, ada penjual kuliner harian, ada penjual di pasar tradisional dan tak terhitung rakyat yang bekerja di sektor informal, yang digaransi juga tak memiliki tabungan uang bila harus ada lockdown, sebab untuk makan sehari-hari saja susah. 

    Boleh saja Persiden kita meminta rakyat bekerja di rumah, belajar di rumah, beribadah di rumah. Namun, imbauan itu untuk rakyat kelas apa? 

    Ingat rakyat Indonesia masih teridentifikasi dalam tiga golongan. Kalangan orang kaya (asli dan dari utang), kalangan menengah (asli, juga utang), dan kalangan jelata (asli miskin). Sehingga saat fakta ekonomi rakyat ini dihadapkan dengan kebijakan apapun dalam menyikapi dan mencegah virus Corona, menjadi tidak dapat disama-ratakan. 

    Sejurus dengan hal ini, menurut, Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Piter Abdullah, bila Indonesia pada akhirnya menerapkan lockdown akibat wabah virus corona, maka dampaknya akan buruk bagi perekonomian. Begitupun sektor informal, akan kehilangan penghasilan. Sektor produksi akan terganggu karena banyak produk yang akan berkurang pasokannya. 

    Piter mengatakan, "Termasuk juga merencanakan antisipasi apabila dilakukan lockdown dampaknya bisa dipastikan akan signifikan, perekonomian seperti dimatikan. Karenanya, semua ini harus diantisipasi dan disiapkan solusinya," ujarnya kepada awak media di Jakarta, Senin (16/3/2020). 

    Barangkali inilah yang selama ini menjadi perhitungan sangat mendasar dan mendetail dari Jokowi maupun pemerintahannya. Memang simalakama. Pilih menyelamatkan nyawa atau ekonomi? 

    Melakukan kebijakan lockdown, juga sudah terbayang akibatnya, rakyat bisa kasar dan rusuh karena kelaparan, pun malah dapat menimbukkan banyak korban terpapar virus corona, karena bisa saja rakyat malah sulit dikendalikan. 

    Setali tiga uang, tidak ada lockdown, korban terus bertambah dan semakin tak dapat dikendalikan pun ditambah oleh banyaknya perusahaan swasta yang tetap kukuh tak meliburkan karyawannya, meski karyawan (baca: bisa bp/ibu/anak) yang bekerja di perusahaan bersangkutan, semakin hari, semakin membikin gelisah keluarganya. 

    Sebagian keluarga lain sudah berdiam di rumah, namun masih ada anggota keluarga yang masuk kerja.

    Ayo pemerintah, jangan ragu untuk mengambil tindakan drastis dan kebijakan tak populer dengan fokus mencegah virus corona terus menyebar dan menangani korban dengan benar, pun tetap ada upaya menyelamatkan perekonomian. Susah, ya?


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.