Covid-19 Memaksa Kita Ubah Perilaku - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Petugas Dinas Kesehatan Jakarta Selatan memberikan penyuluhan pencegahan virus Corona dalam kegiatan car free day, Jakarta, Ahad, 8 Maret 2020. Petugas memberikan contoh cara mencuci tangan yang benar. Tempo/Imam Hamdi

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 19 Maret 2020 09:09 WIB
  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Covid-19 Memaksa Kita Ubah Perilaku

    Dibaca : 809 kali


    Saling menjabat tangan lazim menjadi isyarat untuk saling mengenal maupun sebagai tanda keakraban bagi yang sudah saling mengenal. Genggaman yang erat ditafsirkan sebagai isyarat kehangatan dan antusiasme. Bila genggamannya enteng-enteng saja atau malah sekedar nempel, ditafsirkan bahwa yang empunya tangan lagi tidak bersemangat. Melalui jabat tangan, suasana psikologis masing-masing orang coba ditafsirkan. Orang juga terbiasa berjabat tangan disusul dengan saling merangkul, yang menandakan persahabatan.

    Tapi sekarang era invasi Covid-19. Orang disarankan menahan diri dari berjabat tangan. Salam dengan mentautkan jari kelingking dan mengadu tangan terkepal juga dihindari. Jika bertemu teman, sebagai tanda keakraban boleh memakai adu siku--ada yang menyebutnya salam siku, ada yang menamainya salam corona. Orang Sunda kembali ke kebiasaan saling menyapa dengan mengatupkan kedua tapak tangan dan menaruhnya di depan dada--namanya salam Sunda. Pendeknya, inilah ikhtiar menghindari kontak langsung dengan orang lain, sebab Covid-19 menunggu momen untuk bisa melompat ke tubuh orang lain melalui kontak semacam itu.

    Wabah dan pandemi ini memang memaksa manusia untuk mengubah kebiasaan yang berpotensi membuat dirinya terpapar virus corona. Bukan hanya soal berjabat tangan. Kekhawatiran terjangkiti virus telah memaksa manusia melakukan apa yang selama ini jarang dilakukan atau dilakukan tapi secara ogah-ogahan atau bahkan tidak pernah dilakukan. Misalnya, mencuci tangan setelah memegang benda-benda yang dipakai bersama, seperti gagang pintu dan tombol lift. Di tempat itu, virus yang tertinggal dan menempel sedang mengintai momen untuk berpindah tempat menuju inang potensialnya. Bahkan, setelah memegang uang pun kita jarang atau malas mencuci tangan dengan sabun.

    Wabah corona juga memaksa kita untuk meningkatkan kebersihan diri maupun lingkungan. Di rumah tiba-tiba tersedia sabun pembersih tangan, lantai rumah dipel beberapa kali seminggu, tempat yang biasanya basah kini diusahakan kering. Banyak hal baik yang menjadi hikmah dari segala kerepotan dan kecemasan menghadapi Covid-19. Malah, sebagian orang mungkin terkesan paranoid dalam menjaga kebersihan benda-benda miliknya, tak boleh dipegang orang lain, tak boleh kotor barang sedikitpun, tidak boleh ditumpuk, tidak boleh dipinjam oleh orang lain.

    Di sisi lain, sebagian orang juga menjadi lebih rentan terhadap informasi palsu alias hoax. Produksi informasi palsu meningkat lantaran niat buruk untuk menyesatkan masyarakat maupun karena usil bermain-main yang tidak bertanggung jawab. Sebagian lainnya menyebarkan informasi yang belum ia pastikan lebih dulu kebenarannya. Kominfo menyebutkan telah menemukan 232 informasi hoax terkait corona. Sebagian besar beredar melalui media sosial. Mereka yang enggan mencari tahu kebenarannya atau telanjur terlampau waspada akan cenderung menelan mentah-mentah informasi palsu semacam itu.

    Contoh mutakhir mengenai informasi yang menyesatkan ialah yang viral di media sosial tentang cairan Dettol antiseptik. Disebut-sebut bahwa cairan Dettol tersebut mampu membunuh virus corona, sebagaimana ditunjukkan pada label yang menempel pada kemasan cairan tersebut. Namun, ada yang luput dari pemahaman sebagian orang mengenai informasi tersebut, yaitu bahwa cairan Dettol tersebut belum pernah diuji efektivitasnya untuk membasmi virus Corona dari jenis 2019 n-CoV, seperti yang muncul di Wuhan, China. Ada banyak jenis virus Corona, dan Covid-19 adalah yang terbaru.

    Dalam menerima informasi mengenai isu Corona, semestinya kita pun berubah menjadi lebih selektif dan melakukan penyaringan terlebih dulu, sekalipun terhadap informasi yang sesuai dengan apa yang kita harapkan atau kita pikirkan, sebab belum tentu itu benar. Banyak perilaku kita yang dipaksa untuk berubah, yang merupakan hikmah dari invasi Covid-19, dan perilaku baik itu layak dipertahankan untuk menjalani hidup selanjutnya. >>


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.