Nasib Usaha Sektor Informal di Tengah Badai Corona - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Seorang bakul jamu di kota Yogyakarta. Tempo/Tulus Wijanarko

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 21 Maret 2020 07:44 WIB
  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Nasib Usaha Sektor Informal di Tengah Badai Corona

    Dibaca : 885 kali

    Sektor informal menjadi salah satu pemikiran utama mengapa pemerintah tidak buru-buru mengambil lockdown Indonesia? Sebab, sektor informallah yang hingga kini masih lebih dominan membikin rakyat Indonesia bisa makan.  Yah, usaha atau pekerjaan di sektor informallah yang hingga sekian puluh tahun Indonesia merdeka masih menjadi pegangan mata pencaharian rakyat Indonesia.

    Tak kenal dan tak memahami apa itu mata pencaharian atau lebih tepatnya usaha sektor informal, maka dalam kasus virus corona yang kini melanda Indonesia, masyarakat enak saja saling nyinyir menyoal penanganan kasus corona oleh pemerintah. 

    Apa itu usaha informal? Usaha informal adalah bentuk dari usaha yang sangat banyak sekali kita temukan di dalam masyarakat Indonesia. Biasanya dikelola oleh seorang pengusaha dan biasanya juga hanya membutuhkan modal yang minim dan biasa dilakukan oleh masyarakat golongan bawah. 

    Sebab, untuk menjalankan usaha ini, tidak memerlukan pendidikan khusus. Nah, sektor usaha informal ini memiliki ruang lingkup luas dan terbuka lebar untuk siapa saja yang ingin menghasilkan uang dan berusaha di bidang informal tersebut. 

    Sektor usaha ini merupakan salah satu bentuk usaha yang sangat mudah di dirikan hingga sangat tidak terhitung lagi jumlah pelaku usahanya. Akibatnya,  menyebabkan begitu luasnya lapangan kerja di sektor usaha ini, dan dapat membantu mengurangi pengangguran. 

    Lebih spesifiknya, usaha di sektor informal, tetap menjadi pilihan masyarakat Indonesia meski kini sudah zaman Revolusi Industri 4.0. dan zaman digital karena usaha di sektor ini hanya butuh ruang lingkup yang sempit dan terbatas. Usaha ini hanya butuh modal minim yang bahkan tidak terlalu memberatkan pelaku usaha. 

    Di samping itu,  usaha yang mereka kembangkan termasuk usaha yang tidak memerlukan pelatihan dan pengetahuan secara khusus. Itulah mengapa sektor usaha ini menjadi pilihan terakhir karena terbuka bagi siapa saja. 

    Malah tidak jarang pengusaha informal akan meminjam barang dan jasa dari para pengusaha besar lainnya. Mengapa usaha ini menjadi gantungan hidup sebagian besar rakyat Indonesia, sebab tidak memerlukan peralatan canggih dan cukup dengan modal kecil. 

    Pun tidak menuntut adanya pendidikan maupun keahlian khusus tertentu agar usaha tersebut bisa berjalan dan berkembang. Meski demikian, akibat berbagai krisis dan pemutusan hubungan kerja (PHK) di Indonesia, sektor usaha ini juga tak pelak digeruduk oleh mereka yang sejatinya telah memiliki pendidikan dan keahlian khusus. 

    Kini menjadi tidak terhitung pelaku usaha informal yang  berasal dari kalangan orang yang berpendidikan dan memiliki skill tertentu namun karena usaha informal amat mudah dan tidak rumit, maka banyak yang menyukainya. Apa saja usaha di sektor informal yang kini menjadi tautan hidup masyarakat kita? 

    Di antaranya: pedagang kaki lima, pedagang keliling, pedagang dadakan di sebuah acara, pedagang asongan, pedagang bensin eceran. Berikutnya ada petani, buruh harian, buruh lepas, peternak, nelayan, usaha kecil semacam bengkel dll, tukang jahit, ojek online, ojek biasa, supir angkutan umum, tukang bangunan, tukang kebersihan, usaha katering, usaha jasa, dan masih banyak lagi termasuk usaha pengemis dan pengamen ondel-ondel yang tetap marak.

    Dari fakta yang ada, agar lebih dapat dijadikan pemahaman, maka bila saya kutip dari databoks yang terbit pada (21/10/2019), Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, sektor informal mendominasi pekerjaan di Indonesia. 

    Berdasarkan catatan BPS,  pada Februari 2019, tercatat penduduk yang berusia 15 tahun ke atas yang bekerja di sektor informal sebanyak 74 juta jiwa. Sementara penduduk yang bekerja di sektor formal hanya 55,3 juta jiwa. 

    Bagaimana kondisi saat ini, Maret 2020, bersamaan hadirnya virus corona? Bila BPS mengupdate data lagi, dapat dipastikan, bahwa sektor informal akan tetap lebih mendominasi. 

    Terlebih saat catatan tahun 2019, BPS juga menyebutkan bahwa perkembangan sektor informal terjadi karena ada dua faktor, yaitu karena perkembangan ekonomi digital dan teknologi memacu tumbuhnya wiraswasta secara online dan mandiri. 

    Selain itu, adanya pengaruh karakteristik kaum milennial yang cenderung memilih jam kerja fleksibel. Pengaruh lain yang dominan, disebabkan karena usaha informal adalah alternatif terakhir untuk sekadar mendapatkan pekerjaan karena pembangunan dan kemajuan yang tidak merata di seluruh Indonesia. 

    Itulah fakta, bahwa perekonomian sektor informal masih menjadi urat nadi mata pencaharian masyarakat Indonesia, maka terkait dengan virus corona, sektor ini sangat rawan. 

    Rawan dari ancaman terdampak virus, dan sangat rawan matinya pencaharian masyarakat. Istilahnya, maju kena, mundur juga kena! Yah. Itulah usaha sektor informal di tengah badai corona.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.