Kok Gak Ada Politikus dan Parpol yang Bagi-bagi Masker, ya? - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Petugas Ditkrimum dna beberapa artis membagiukan masker gratis dan cairan pemberish tangan kepada warga di Tanah abangm Jakarta, Kamis, 19 Maret 2020. Tempo/Muhammad Hidayat

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Minggu, 22 Maret 2020 07:43 WIB
  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Kok Gak Ada Politikus dan Parpol yang Bagi-bagi Masker, ya?

    Dibaca : 1.186 kali


    Siapapun in syaa Allah masih ingat perilaku para politikus dan partai politik dalam pemilihan legislatif maupun pemilihan presiden yang lalu. Masa kampanye dan tahun politik itu belum lama berlalu. Para politikus dan partai politik sanggup menggelontorkan duit berkarung-karung agar terpilih jadi anggota parlemen dan partai politiknya jadi pemenang pilpres.

    Mereka jor-joran membagi kaos bergambar capres-cawapres, kaos bergambar logo partai, mereka pasang spanduk dan bendera partai di mana-mana. Begitu gegap gempita. Penuh semangat demi membujuk rakyat. Jika di musim kampanye, semua politikus dan partai politik sibuk mengerahkan sumber daya untuk merebut hati rakyat agar memberikan suaranya untuk mereka, mengapa kali ini sepi?

    Hari-hari ini, ketika rakyat butuh masker dan alat kesehatan lain, tidak satupun inisiatif muncul dari elite politik, politikus yang bukan elite, maupun organisasi parpol. Sunyi dan sepi. Padahal rakyat, baik yang sehat maupun yang sakit, berebut masker sehingga harganya melambung. Ketika masker malah diekspor ke negara lain, tak ada politikus yang protes atas nama rakyat. Para politikus sepi dan sunyi dari prakarsa untuk meringankan kesulitan rakyat maupun para tenaga medis dan rumah sakit untuk mendapatkan alat-alat kesehatan.

    Ketika tenaga medis maupun non-medis sibuk mengurus warga yang diduga terpapar Corona maupun yang sudah positif, para politikus dan partai sunyi dari inisiatif. Mengapa tugas mereka tidak diringankan dengan menyediakan peralatan atau apapun yang diperlukan, misalnya makanan selama mereka bertugas? Apa lagi memikirkan para pengojek, sopir angkot, atau pedagang kaki lima, maupun pekerja mandiri lainnya yang mulai kekurangan penghasilan.

    Kemana perginya gegap gempita yang kita jumpai di masa pileg dan pilpres ketika mereka membagi-bagi kaos dan lain-lain untuk merayu rakyat? Di saat rakyat sangat membutuhkan masker, alat pembersih tangan, thermo gun, pakaian untuk perawatan medis, maupun obat-obatan, mengapa suara para politikus dan partai tidak segegap gempita masa kampanye? Di masa pemilihan umum, mereka menggelontorkan uang seakan tidak habis-habis, buat belanja iklan, bayar lembaga survei dan konsultan politik, menyewa analis dan penulis pidato, dan sebagainya; mengapa sekarang sunyi?

    Di masa pemilu, politikus dan partai bagi-bagi kaos meskipun rakyat tidak membutuhkan kaos. Saat ini, ketika rakyat memerlukan obat dan masker, politikus dan partai tidak tampak turun membagi obat dan masker. Apakah karena di masa pemilu, pembagian kaos itu ada pamrihnya? Mau menjawab tidak, ya susah, sebab faktanya sekarang tidak ada politikus dan partai politik yang turun membagi masker dan obat. Masa kampanye memang sudah berlalu, sedangkan musim pilkada belum juga tiba. >>


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.