Nilai Aren Oloh, Pilar Ekonomi Situbondo - Peristiwa - www.indonesiana.id
x

Tahapan pembuatan gula aren di Dusun Oloh, Patemon, Situbondo.

Kamaruddin Azis

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 25 Maret 2020 13:02 WIB
  • Peristiwa
  • Berita Utama
  • Nilai Aren Oloh, Pilar Ekonomi Situbondo

    Dibaca : 298 kali

    Sementara itu Mat Ali, Kepala Dusun Oloh menyebut bahwa lokasi pengambilan nira warganya berlokasi di Hutan Polaseng. Bisa dtempuh 30 menit dari tepi kampung atau bisa berjam-jam untuk sampai di inti hutan.

    Mat Ali menyebut dari tahun ke tahun, warga Oloh yang mengambil nira kian bertambah. Dia bahkan mengingat nama-nama warganya yang sering ke hutan.

    “Selain suami Husaimah, nama-nama warga yang ke hutan Oloh adalah Firman, Ahmadi, Suyono, Bakir, Meliono, Abdurrahman, Syamsul, Posiana, Jatmo, Faiza, Syamsul, Fauzan hingga Haji Fauzi. Lebih seratusan orang,” kata Mat Ali. “Semua warga Oloh sudah pernah ambil gula aren. Lebih 192 warga adalah pencari dan pengolah gula aren.”

    Sutinah, perempuan yang menemani Husaimah mengaku baru setahun ini aktif mengolah gula aren. “Suami saya setahun lalu 2019 mulai sering ke hutan,” kata Sutinah.

    Potensi

    Penulis mencatat bahwa selama ini, warga jarang menakar hasil perolehan nira dengan literan atau kiloan tetapi mereka menggunakan bambu bumbungan sebagai penanda atau rujukan. “Satu bumbungan ini diperkiran 4 liter kalau penuh,” imbuh Mat Bey, aparat Desa Patemon yang juga datang ke Oloh menyambut rombongan Bupati.

    “Ada warga yang pernah dapat 12 bumbungan. Paling pendeknya 4 liter, jadi kalau 12 bumbungan bisa dapat 48 liter. Ini yang pernah saya lihat,” kata Mat Ali.

    Mat Ali bilang bahwa sekira 1 liter cairan nira bisa menghasilkan 10 biji gula aren. “1 bungkus gula aren yang dijual berisi 10 biji. 1 kilo kadang ada 3 bungkus,” ujar Sutinah menambahkan.

    Warga Oloh bisa mengantongi ratusan ribu dari hasil penjualan gula aren. Mereka menjual ke ibukota kecamatan Patemon atau langsung dikirim ke Situbondo.

    “Tapi lebih banyak yang datang ke sini membeli. Harganya 9 ribu perbungkus. Tadi pagi saya jual 100 biji, dapay uang 900 ribu. Itu hasil penjualan gula aren. Jadi harga perbungkus 9 ribu kadang juga 8 ribu saja,” kata Sutinah. 100 biji setara dengan 3 kilogram lebih gula merah atau kurang lebih 40-45 ribu perkilo.

    Untuk dapat 100 biji tersebut, Sutinah menyebut tergantung kekentalan dan proses pengolahannya. “Kadang dapat 10 biji, kadang pula dapat 15 biji,” imbuhnya.

    Produksi perorang ditaksir antara 10 hingga 20 biji perhari, jadi kalau dihitung kasar, katakanlah perorang bisa produksi 15 biji maka perbulan mencapai 450 biji gula merah, jika ada 192 warga maka total produksi gula aren mencapai 86.400 biji gula merah.

    Jika 1 kilo diperoleh 30 biji gula aren maka mereka produksi 2,88 ton gula aren perbulan atau setara dengan harga Rp. 115,200,000 juta nilai penjualan per bulan dari gula aren di Dusun Oloh.

    Disaksikan Bupati Sutubondo, tangan Husaimah menari di atas potongan bambu kecil sebagai bahan pencetak gula aren. Nira yang sudah mengental di tuang di potongan bambu. Dengan telaten dia menuang dan mengukur hingga penuh. Ini bagian penting dari proses pembuatan gula aren itu, memasak nira, mencetak lalu mendinginkannya.

    Sesekali dia dicandai oleh para tetamu. Dia tertawa dan sesekali membalas dengan aksen Jawa Timuran khas Madura.

    Tantangan

    Sejauh ini, menurut Mat Ali, potensi pemanfaatan hutan aren di Hutan Polaseng cukup besar dan berdampak positif pada kehidupan masyarakat setempat. Ada 15 hektar pohon aren yang menjadi sandaran mata pencaharian warga Oloh.

    “Kami sangat mendukung mata pencaharian ini, bahkan sudah ada Peraturan Desa yang mengatur pemanfaatan hutan aren ini. Warga tidak bisa menjual pohon ke luar kampung (pembeli dari luar). Sudah ada Perdes berarti kami menyadari pentingnya hutan ini,” turut Mat Ali.

    Meski begitu, Mat Ali tidak menampik bahwa jumlah pengolah nira dari tahun ke tahun juga bertambah. Selain mempertahankan luas hutan, dia juga berharap arealnya nira atau aren bisa diperluas pula dengan menanam pohon tambahan.

    Sementara Mat Bey berharap ada dukungan bagi pengambil dan pengolah nira ini.  “Semoga ada dukungan bagi pelaku usaha gula aren agar bisa bisa menambah pendapatan masyarakat Desa Patemon secara luas,” ucap Mat Bey, Kaur Pemerintahan Desa Patemon terkait usaha gula aren warga desanya.

    Bupati Situbondo mengaku bangga atas daya tahan warganya. Menurutnya ini merupakan modal penting menuju apa yang disebutnya sebagai kemandirian.

    “Ini contoh potensi sumberdaya alam Situbondo yang harus dijaga dan dikembangkan. Saran saya ke depan, kita bisa kembangkan produksi ‘gula semut’. Produk yang dapat meningkatkan harga jual gula olahan kita,” kata H,. Dadang Wigiarto menitip pesan ke Kades Patemon, Mudhar yang disaksikan Kadis Pertanian, Sentot dan Kadis Perindustrian Abdul Kadir J.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.