Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Jawa Tengah - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

cover buku Sejarah Kebangkitan Nasional Dareah Jawa Tengah

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 25 Maret 2020 14:41 WIB
  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Jawa Tengah

    Dibaca : 2.329 kali

    Judul: Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Jawa Tengah

    Penulis: Dirjen Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

    Tahun Terbit: 1978

    Penerbit: Balai Pustaka                                                                                          

    Tebal: vi +188

    ISBN:

    Saya membaca buku ini adalah dalam rangka mengumpulkan bahan-bahan yang berhubungan dengan sejarah Kabupaten Grobogan. Saya harus mengakui bahwa Kabupaten Grobogan memang tidak banyak disebut dalam buku Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Jawa Tengah ini. Hanya satu kali saja Grobogan disebut, yaitu tentang kelaparan yang terjadi akibat kebijakan Tanam Paksa.

    Buku ini di halaman 12 menyebutkan bahwa Grobogan dan Demak pernah mengalami kelaparan hebat pada tahun 1848-1849 karena penerapan Tanam Paksa. Penderitaan dan kemiskinan rakyat ini menarik perhatian kaum humanis Belanda. Dr. Wolter van Hoevell, seorang pendeta pernah mengadakan perjalanan keliling Jawa-Madura dan Bali untuk mengetahui lebih dekat penderitaan rakyat akibat tanam paksa. Ia menuntut perbaikan kehidupan rakyat. Mr. Conrad Theodro van Deventer, seorang ahli hukum dan pernah menjadi pengacara di Semarang, terkenal karena tulisannya yang berjudul “Een Eereschuld” artinya “kewajiban suci” mengemukakan pandangannya terhadap politik penghisapan yang dilakukan oleh pemerintah jajahan di Indonesia. Begitu pun Brooshooft pemimpin redaksi harian De Locomotief di Semarang menentang peraturan tanam paksa.

    Namun sayang sekali elaborasi terhadap sejauh mana peristiwa kelaparan hebat ini digunakan sebagai argumen pentingnya Pemerintah Belanda mengubah kebijakannya, tidak terlalu ada. Peristiwa-peristiwa yang terjadi di Jawa Tengah, seperti perkebunan tebu di Pekalongan juga tidak banyak dielaborasi sebagai salah satu pemicu politik etis. Buku ini lebih membahas alasan-alasan umum tentang argumen munculnya politik etis yang sudah sering dikemukakan oleh buku-buku lainnya. Kedua alasan tersebut yaitu perlunya melakukan balas budi dan pentingnya desentralisasi.

    Melihat bahwa ada dua kelompok di Parlemen Belanda yang mengupayakan perubahan kebijakan saat itu, yaitu para kaum humanis dan para pemilik modal, saya berasumsi bahwa kaum humanislah yang tentu banyak mengungkap akibat buruk dari sistem tanam paksa yang diterapkan di Jawa tersebut.

    Saya menjadi sangat ingin tahu yang sesungguhnya terjadi. Apakah Dr. Wolter van Hoevell yang dinyatakan melakukan perjalanan keliling Jawa dan Madura sebelum dideportasi ke Belanda juga mengunjungi daerah Demak dan Grobogan yang saat itu mengalami kelaparan? Bukankah ada kelompok zending yang berpusat di Salatiga dan membuka cabangnya di Kedungjati? Bahkan di Kedungjati dibuka rumah sakit untuk mengobati orang-orang yang sakit di masa itu.

    Jika Dr. Wolter van Hoevell memang berkunjung ke Grobogan dan Demak, sejauh mana data tersebut dipakainya di debat-debat Parlemen Belanda? Sejauh mana argumen kelaparan dan kematian massal penduduk Grobogan berhasil mempengaruhi keputusan Parlemen Belanda untuk mengubah kebijakannya di Hindia Belanda?

    Sayang sekali pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas tidak terjawab melalui buku ini.

    Saya harus menghargai buku ini karena memuat cukup seimbang peran berbagai pihak di masa pergerakan. Tidak seperti buku-buku yang dicetak setelah masa Nugroho Notosusanto menjadi Menteri P&K, buku ini masih memuat peran Partai Komunis Indonesia dalam perjuangan Kebangkitan Nasional. Peran orang-orang kiri tersebut diuraikan dengan cukup detail bersama dengan peran orang-orang nasionalis dan tokoh-tokoh Islam.

    Namun sekali lagi saya harus kecewa karena saya tidak menemukan kata Grobogan atau Purwodadi disebut dalam pembahasan-pembahasan para pelaku Pergerakan Nasional tersebut. Nama-nama Semarang, Surakarta, Blora, Kudus, Pemalang, Banyumas, Purwokerto, Magelang, Rembang, Lasem ada di sebut. Nama-nama kota tersebut muncul secara sporadis karena dipakai sebagai tempat pertemuan atau lahirnya organisasi yang berperan dalam Pergerakan Nasional. Namun nama Grobogan atau Purwodadi sama sekali tidak muncul.

    Saya punya keyakinan bahwa Grobogan sebenarnya mempunyai andil yang cukup besar dalam proses Kebangkitan Nasional di Jawa Tengah. Meski tidak menjadi tempat rapat penting atau tempat lahirnya sebuah organisasi yang berperan dalam Kebangkitan Nasional, Grobogan pasti mempunyai tokoh-tokoh yang mempunyai reputasi nasional. Sayang sekali asal-usul para tokoh ini juga tidak terekam dengan baik.

    Sangat penting untuk dicari dan digambarkan di sini peran orang-orang di Grobogan dalam pergerakan Kebangkitan Nasional. Saya yakin bahwa ada tokoh-tokoh nasionalis, Islam maupun kiri dari Grobogan yang mempunyai andil dalam pergerakan Kebangkitan Nasional. Mengapa Musso dan Amir Sjarifuddin berkunjung ke Purwodadi dalam perjalanan keliling untuk mempropagandakan PKI pada tahun 1948? Mengapa Amir Sjarifuddin memilih untuk menuju Grobogan (Wirosari dan kemudian Klambu) saat melarikan diri dari Madiun dan gagal ke Surakarta? Mengapa Sukarno memilih Grobogan sebagai tempat pengasingan Burhanuddin Harahap (Tokoh Sjarekat Islam yang ditangkap karena pemberontakan PRRI) di Grobogan? Dan mengapa Grobogan menjadi target Operasi Kikis pada tahun 1966-1968 paska G30S? Mustahil kejadian-kejadian di atas adalah hanya sebuah kebetulan. Pastilah Grobogan punya tokoh yang mumpuni sehingga kejadian-kejadian di atas terjadi di Grobogan.

    Terlepas dari peran PKI dalam peristiwa G30S, saya rasa penting untuk menggali peran orang-orang Grobogan dari golongan manapun yang telah berperan dalam Pergerakan Nasional. Karena bagaimana pun mereka ikut menyumbang kepada upaya memerdekakan bangsa ini dari kolonialisme.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.