Bertambah Masalah, Kini Hadir Virus Mudik - Analisa - www.indonesiana.id
x

mudik

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 27 Maret 2020 14:47 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Bertambah Masalah, Kini Hadir Virus Mudik

    Dibaca : 516 kali

    Belum usai bagaimana caranya menangkal dan mencegah wabah corona agar tidak terus menggerus korban baru, akibat kebijakan penanganan sejak dini yang diangap lambat dan tidak tegas oleh pemerintah pusat. 

    Kini virus baru yang mengiringi pun cukup signifikan di tengah masyarakat. Setelah imbauan berdiam diri di rumah yang secara pelan dan pasti terus berefek pada denyut perekonomian sektor usaha informal, maka virus baru itu bernama virus mudik. 

    Banyaknya warga masyarakat khususnya para pekerja sektor informal di Jabodetabek yang berasal dari daerah lain di pulau Jawa dan pulau lainnya, yang jelas terimbas ekonomi, pun terimbas kepanikan. Pun para Tenaga Kerja Asing (TKI) kita  yang di luar negeri, semua berbondong mudik, seperti TKI dari Malaysia, karena di-lockdown

    Karena pilihan terbaik di benak masyarakat urban ini adalah berkumpul dengan keluarga (bp/ibu/istri/anak) di rumah, maka mereka tak berpikir panjang dan tetap mengabaikan imbuan agar tidak mudik. 

    Ternyata masyarakat urban ini, berjumlah ribuan, kini telah mudik di kampung halamannya. Kepulangan masyarakat urban yang bermaksud baik, berkumpul dengan keluarga dengan pemikiran, di masa sulit akibat corona ini, mangan ora mangan asal ngumpul, makan tidak makan asal berkumpul, bukannya membuat pemerintah daerah dan keluarga lega, namun malah membuat mereka semua tambah repot. 

    Mau tidak mau, para pemudik ini, sesuai prosedur pencegahan harus melapor dan melakukan tes. Namun, banyaknya pemudik yang lolos dari kontrol, kini malah menjadikan daerah-daerah yang warganya mudik jadi sangat kerepotan. 

    Terlebih ribuan pemudik berasal dari zona merah corona. Akibatnya, serangan virus mudik ini, daerah yang tadinya zona hijau, malah sudah ikutan menjadi zona merah. 

    Parahnya, banyak warga pemudik ini yang tidak paham prosedur mudik di saat corona. Sementara yang paham prosedurpun malah banyak yang menghindar dari prosedur. Banyak keluarga di daerah yang terkaget, karena anggota keluarganya tahu-tahu pulang dan sudah di depan pintu, padahal sudah dilarang pulang. 

    Buntutnya keluarga pun jadi panik dan resah. Pemerintah daerah mulai dari RT, RW, Kelurahan juga jadi disibukkan mengurusi warganya yang mudik. Lalu fatalnya lagi, Puskesmas dan Rumah Sakit daerah pun tak dapat menampung warga pemudik yang melakukan tes atau berobat. Orang Dalam Pemantauan (ODP) pun kini terus meningkat. 

    Malah ada pemudik yang hasil tesnya positif corona, selama menunggu hasil tes, yang bersangkutan justru sudah bercengkerama dengan semua keluarganya, tetangganya, temannya, hingga naik angkutan umum, ke warung dll. 

    Ada juga pemudik yang hasil tesnya positif corona, tetapi malah kabur tidak mau diisolasi. Itulah fakta-fakta yang kini terjadi di beberapa daerah yang warganya berbodong mudik. 

    Kisah yang saya ceritakan juga asli dari rekan-rekan di daerah yang tadinya zona hijau, kini menjadi zona merah. Bahkan di layar kaca, Gubernur Jawa Tengah saja sampai mengimbau agar warganya tidak mudik, sebab beliau tahu puluhan bus antar kota telah menurunkan ribuan pemudik di terminal-terminal bus di Jawa Tengah. 

    Dalam situasi seperti ini, keluarga memang diharapkan menjadi ujung tombak yang dapat mengimbau agar anggota keluarga yang merantau tidak mudik. 

    Beberapa pemerintah daerah pun juga sudah langsung turun tangan menjaga daerah perbatasannya, di pintu masuk atau ke luar dalam rangka mencegah dan mengamankan pemudik yang tak mematuhi imbauan. 

    Yang pasti, virus mudik ini, memang wajib menjadi prioritas dan tambahan pekerjaan pemerintah daerah, plus menambah kepanikan keluarga-keluarga pemudik itu sendiri. 

    Daerah zona hijau, kini berubah menjadi zona merah. Para keluarga pemudik kini juga dilanda resah gelisah, karena menunggu hasil tes lab keluarganya yang mudik, apakah positif atau negatif. 

    Warga masyarakat juga resah, karena banyak pemudik yang tidak lapor, pun tidak melakukan tes pencegahan sesuai prosedur. 

    Luar biasa virus mudik ini. Apakah sudah diprediksi sebelumnya akan terjadi? Jawabnya, sudah. Namun, pemerintah pusat maunya hanya dengan senjata imbauan dalam mencegah corona. Kini terbukti, senjata imbauan tak mempan untuk sebagian besar masyarakat Indonesia, dengan "kondisi" yang ada.

    Virus mudikpun menjadikan bertambahnya masalah.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.











    Oleh: Admin

    4 hari lalu

    Digeser Suplayer Telur Kabupaten, Peternak: Pak Bupati, Beri Kami Kesempatan

    Dibaca : 1.042 kali

    Tuban - Belum selesai polemik soal beras berkutu di program BPNT, kini muncul suplayer yang mengatasnamakan diri suplayer kabupaten. Tak ayal, kehadiran suplayer telur kabupaten inipun menggeser peternak lokal. Adalah Sahli, Peternak Ayam Petelur di Desa Pongpongan Kec. Merakurak yang mengeluhkan tak lagi bisa ikut menyuplai telur dalam program BPNT. Pasalnya, e-warong sembako di desanya sudah memiliki suplayer baru yang ditunjuk dari kabupaten. Akibatnya, Sahli kehilangan pangsa pasar terdekat yang ada di desanya. "Katanya sudah ada suplayer baru dari kabupaten yang bertugas menyuplai telur di program BPNT, jadi e-warong sekarang tidak lagi ambil telur dari saya" terang Sahli saat di temuai di kandangnya, Kamis, 21/05/2020. Sahli menuturkan, peternak ayam petelur yang ada di desanya sebenarnya cukup merasakan dampak ekonomi dari program andalan Jokowi ini. Ia dan teman-temannya tidak perlu jauh-jauh mencari pangsa pasar untuk telur yang dihasilkan dari kandangnya. Selain itu, harga jualnya juga relatif setabil dan kompetitif. Namun semenjak kehadiran suplayer kabupaten ini, ia terpaksa harus mencari pangsa pasar baru. "Dulu telur tidak pernah keluar dari desa karena diambil Agen BPNT, sekarang saya terpaksa jual telurnya ke tengkulak meski harganya lebih murah" terang pemuda yang sudah menggeluti peternakan unggas sejak 5 tahun terakhir ini. Terpisah, Aripin, peternak ayam petelur di desa yang sama juga menyayangkan masuknya suplayer baru dari luar desa. Menurutnya, supplier kabupaten ini makin menambah derita peternak ayam petelur yang beberapa bulan terakhir ini mengalami guncangan harga akibat beredarnya telur yang diduga HE. Jika hadirnya suplayer luar di BPNT Desa Pongpongan ini adalah kebijakan Bupati, Arifin meminta agar kebijaka itu dievaluasi. "Mohon Pak Bupati bisa melindungi peternak lokal. Beri kami kesempatan untuk menyuplai telur di desa kami" pinta Arifin. Untuk diketahui, adanya komoditi telur dalam program BPNT ini telah memantik semangat warga desa mencoba peruntungan dalam bidang perunggasan. di Desa Pongpongan sendiri, saat ini terdapat 5 kandang ayam petelur milik warga. Dua diantaranya merupakan kelompok binaan dari PT. Semen Indonesia. Diperkirakan, tahun ini juga akan muncul lagi peternak-peternak baru yang menggeluti peternakan ayam petelur. Hal ini diketahui dari banyaknya usulan peternakan unggas dari kelompok masyarakat yang yang masuk melalui program CSR Semen Indonesia tahun 2020 untuk Desa Pongpongan (tro/id).