Jalur Prestasi - Analisis - www.indonesiana.id
x

Gadis Desa

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 April 2019

Rabu, 1 April 2020 06:39 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Jalur Prestasi


    Dibaca : 2.027 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Ada-ada saja. Kalau isi pikiran sudah membuncah kecurigaan dan rasa selalu ingin menyampaikan yang negatif, maka soal apapun bisa dipelintir.

    Dan ada organisasi perkumpulan guru yang begitu. Yang cuap-cuap di media, menyatakan bahwa sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) jalur prestasi sangat rentan dengan manipulasi nilai rapor.

    Ujung-ujungnya, tetap saja menyasar Mendikbud Nadiem Makarim. Meminta PPDB jalur prestasi (yang kuotanya ditetapkan Nadiem sebanyak 30 persen) supaya dihapus.

    Lucu.

    Begini saja, dari mana bisa terjadi manipulasi nilai rapor? Apa ada 'main mata' oknum sekolah atau guru dengan orang tua murid? Meski dicermati, apa seberani itu sekolah atau guru melakukan manipulasi dengan sanksi hukum ancamannya?

    Anggaplah berani, senekat itukan pada era transparansi sekarang bermain-main dengan nilai rapor? Pasti orang tua murid lainnya menyoroti.

    Mau manipulasi nilai rapor, apa tidak bakal terpantau oleh Komite Sekolah, Dewan Guru, atau apapun struktur lainnya?

    Ah, masih banyak pertanyaan lain buat mengkritisi tudingan sebuah perkumpulan guru tersebut soal manipulasi nilai rapor supaya bisa masuk dalam PPDB jalur prestasi.

    Kemudian, kenapa dari dalih banyaknya terjadi manipulasi rapor terus mengarah menuntut dihapuskannya PPDB jalur prestasi ke Nadiem Makarim?

    Padahal sudah jelas, semua yang bekerja adalah sistem. Ada aturan main dan pengawasan melekat dari murid yang terdaftar dalam PPDB jalur prestasi.

    Dominan era kekinian telah menggunakan rapor digital. Sangat sulit memanipulasinya. Data atau rekam jejak pendidikan si murid sekarang juga tercatat secara digital. Mungkin, sangat kecil potensi manipulasi nilai rapor.

    Kalaupun Nadiem malah memberlakukan PPDB jalur prestasi dengan menaikkan kuotanya, itu lebih bertujuan agar tercipta pemerataan jumlah murid bersekolah.

    Jadi terwujud keadilan pendidikan.

    Yang lainnya, supaya ada kompetisi kecerdasan dari murid. Agar memacu semangat mendapat nilai terbaik sehingga bisa sekolah di pilihan favofitnya.

    Sebab kuota murid diterimanya banyak. Peluangnya sangat besar.

    Jadi, tidak perlulah menyampaikan dalil yang dibuat terkesan ilmiah. Namun motifnya malah sangat tampak kepentingan sepihak.*

    Ikuti tulisan menarik Gadis Desa lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.