Mengajar Jarak Jauh, Kreatif Inovatif Online - Analisis - www.indonesiana.id
x

Budi Susanto

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 Januari 2020

Jumat, 3 April 2020 15:13 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Mengajar Jarak Jauh, Kreatif Inovatif Online


    Dibaca : 1.628 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya


    Belajar jarak jauh. Belajar-mengajar dari rumah. Itu kiranya lebih tepat istilahnya --ketimbang belajar dalam jaringan atau online.

    Untuk kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) saat ini yang harus meliburkan sekolah akibat krisis wabah virus Covid-19 melanda Indonesia.

    Kebijakan untuk kebajikan.

    Tidak mudah memang belajar jarak jauh. Atau belajar online. Entah apapun istilah yang mau digunakan. Toh, memang di Indonesia selama ini jarang yang menerapkannya --bahkan dominan tidak pernah.

    Jadi wajar saja dapat dianggap masih banyak Guru yang bingung. Tergagap. Tidak terbiasa melakukannya.

    Masih ada guru yang melaksanakan pola belajar-mengajar jarak jauh bagaikan manual. Muridnya harus aktif seperti belajar-mengajar tatap muka, dari pagi sampai siang. Hanya berubah saja sekarang pakai komputer dan akses internet

    Ada juga guru yang memberikan beban tugas belajar ke murid setumpuk --yang diakses secara online. Bahkan melebihi tugas saat belajar-mengajar tatap muka.

    Masih banyak begitu. Yang bingung. Harus diakui.

    Namun bukan juga jadi menyerah dengan keadan. Pasrah saja. Perlu perubahan esensial. Yang ciri khas karakternya Mendikbud Nadiem Makarim, tokoh muda perubahan.

    Jelas sudah, Menteri Nadiem telah mengimbau, menjelaskan, tentang pola atau proses belajar-mengajar jarak jauh saat ini. Yang tidak kaku, namun tetap menyentuh sisi substansiya.

    Menteri Nadiem dan jajarannya sudah menjelaskan bahwa sistem belajar-mengajar jarak jauh dapat dilakukan dengan cara-cara kreatif. Tak melulu dengan panduan manual dari buku pelajaran.

    Guru diajak Menteri Nadiem agar mengembangkan aksi inovatif untuk memberikan pengajaran ke murid. Tujuannya tetap: mengasah intelektualitas murid dan merangsang nalarnya.

    Bisa dalam beragam pola diberikan guru ke muridnya dalam belajar-mengajar jarak jauh. Malahan: Menteri Nadiem meminta Guru jangan terlalu banyak memberi tugas ke murid yang monoton bersumber dari buku pelajaran.

    Menteri Nadiem berharap Guru dapat memanfaatkan segala hal --di luar berkutat buku pelajaran saja-- sebagai materi belajar-mengajar jarak jauh ke murid.

    Nah, di situlah Merdeka Belajar. Yang diusung Menteri Nadiem ketika dilantik Presiden Jokowi, Oktober tahun lalu. Dan telah diproklamirkannya selama masa kerjanya hingga kini.

    Lahir SDM (Guru dan murid) yang bebas berkreasi serta inovasi. Muncul SDM yang mampu memahami zaman dan lingkungan sekitar untuk dimanfaatkan sebagai pengembangan proses belajar-mengajar. Tercetaknya SDM yang bernalar; menyadari potensi individualnya.

    Hadir SDM yang ulet dan berani menyampaikan hal-hal baru pada proses pendidikan. Semua bagian cita -cita Merdeka Belajar ala Menteri Nadiem. Kalau masih terkejut dengan format belajar-mengajar jarak jauh, wajar saja.

    Tapi menghakimi bahwa pendidikan kita menyerah dengan situasi, tidak ingin melakukan perubahan, itu juga anggapan keliru.

    Makin keliru bila ada yang menghakimi begitu tapi dengan embel-embel menyisipkan penawaran proyek pendidikan.

    Ikuti tulisan menarik Budi Susanto lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.