Berhenti Menyebarkan Hoax tak Kalah Penting dari Menghentikan Corona - Pilihan - www.indonesiana.id
x

ilustr: CU Management

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 7 April 2020 16:11 WIB
  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Berhenti Menyebarkan Hoax tak Kalah Penting dari Menghentikan Corona

    Dibaca : 1.929 kali


    Di tengah upaya berbagai pihak untuk menghentikan laju penyebaran virus corona serta memulihkan warga yang terpapar, sebagian orang masih saja gatal tangan untuk memproduksi berita bohong (hoax), disinformasi, maupun berita yang tidak akurat ataupun tidak lengkap sehingga menyesatkan. Jalur media sosial dipilih karena inilah cara yang paling mudah untuk membuat kabar bohong menyebar cepat. Netizen yang tidak menyadari kebohongan sebuah berita akan dengan mudah terpicu untuk segera menyebarluaskan hoax.

    Hoax maupun disinformasi sungguh berbahaya di saat kita menghadapi pandemi, terlebih jika itu terkait dengan isu kesehatan. Bahkan, pemahaman yang tanggung atau terbatas sudah mampu menjerumuskan seseorang ke dalam persoalan.

    Di AS, sebagai contoh, seorang warga menjadi korban karena ia minum chloroquine phosphat, padahal ia tidak mengetahui apakah ia memang harus minum obat tersebut maupun berapa dosisnya, sebab ia memperolehnya tanpa resep dokter. Ini terjadi setelah Presiden Donald Trump mengeluarkan pernyataan ihwal keampuhan chloroquine, padahal menurut para dokter, kemanjuran obat tersebut harus melalui pengujian klinis terlebih dulu.

    Dokter lainnya mengatakan chloroquine merupakan obat keras dan tidak boleh sembarang meminumnya. Namun, kepanikan warga bertemu dengan informasi yang tidak akurat telah terbukti memakan korban jiwa. Warga yang ingin segera sembuh dari Covid-19 buru-buru menelan chloroquine phosphat.

    Jadi, dalam situasi kedaruratan kesehatan seperti sekarang, berhenti menyebarkan hoax tidak kalah penting dibandingkan dengan menghentikan penyebaran virus corona. Bagi yang jantungnya tidak sehat 100%, kabar hoax bisa jadi sangat mengejutkan dan bahkan berpotensi menghentikan detak jantungnya. Kemungkinan inilah yang barangkali tidak dipikirkan oleh produsen berita hoax maupun yang menyebarluaskannya melalui media sosial.

    Memproduksi hoax seputar virus corona dan menyebarluaskannya berpotensi menjerumuskan orang lain ke dalam keadaan yang lebih buruk. Sebenarnya bukan hanya hoax, tapi juga informasi yang belum pasti mengenai suatu perkara. Contohnya, perdebatan mengenai jam berapa waktu yang paling baik untuk berjemur. Rupa-rupa informasi telah beredar dan sama-sama meyakinkan; repotnya, tidak mudah memverifikasi mana yang paling tepat dari sekian banyak informasi itu.

    Karena itu, menjadi penting bagi kita untuk tidak mudah meneruskan atau berbagi informasi yang kita belum periksa kebenarannya. Sering terjadi, informasi yang kita terima itu terkesan logis atau masuk akal, tapi sayangnya belum tentu informasi itu benar sekalipun logis. Sering pula terjadi, kita berbagi informasi hanya karena informasi itu sesuai dengan apa yang kita pikirkan, atau cocok dengan apa yang kita harapkan, atau apa yang kita bayangkan.

    Sebelum berbagi kepada anggota grup WA lainnya, penting untuk mencari kebenaran sebuah informasi. Jika ragu akan kebenarannya, jangan pencet tombol share. Sering terjadi, informasi yang tidak benar atau hoax menyebar cepat karena pengguna media sosial kurang berhati-hati dan enggan mencari kebenaran mengenai informasi tersebut. Banyak orang juga gatal memencet tombol share tanpa mau berpikir panjang terlebih dahulu.

    Dalam situasi darurat kesehatan seperti sekarang, menjadi penting bagi kita untuk meningkatkan kesadaran (awareness) mengenai informasi yang datang bertubi-tubi. Informasi datang bertubi-tubi dan lalu-lintas informasi demikian cepat. Siapapun dapat bertindak sebagai produsen, distributor, sekaligus konsumen informasi. Sayangnya, tidak setiap orang memiliki kesadaran untuk memeriksa terlebih dulu kebenaran dan akurasi sebuah informasi sebelum ia menelannya dan kemudian menyebarluaskannya kepada khalayak luas.

    Kegemaran memproduksi dan menyebarluaskan hoax dan disinformasi harus dihentikan demi menjaga kesehatan dan keselamatan jasmani dan ruhani kita bersama. Jika sebuah kabar hoax beredar, mungkin saja akan jatuh korban karena ia mempunyai gangguan fungsi jantung atau hipertensi. Ia terkejut, lalu tumbang dan akhirnya wafat. Bukankah kita akan sedih bila ternyata ia salah satu kerabat dekat kita sendiri. Korban keusilan kita tidak selalu orang lain yang tidak kenal, tapi bisa pula orang dekat yang kita sayang. >>


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.