Menilik Kesiapan Wisata Kapal Pesiar yang Berpotensi Tingkatkan Pariwisata Bahari di Indonesia - Analisa - www.indonesiana.id
x

Alanis Angelita

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 16 Desember 2019

Kamis, 9 April 2020 08:02 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Menilik Kesiapan Wisata Kapal Pesiar yang Berpotensi Tingkatkan Pariwisata Bahari di Indonesia

    Dibaca : 257 kali

    Indonesia diakui sebagai negara yang besar untuk menjadi destinasi kapal pesiar terbaik di dunia. Pada tahun 2014 Indonesia masuk dalam 10 negara tujuan paling banyak dikunjungi kapal pesiar di Asia. Hal ini didukung dengan kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan dengan pulau-pulau cantik yang dinilai memiliki daya tarik sendiri.  Hampir semua destinasi di Indonesia bisa dikunjungi melalui akses laut, seperti Pulau Belitung, Pulau Bali, Pulau Weh, Labuan Bajo, hingga Raja Ampat di Papua.

    Sayangnya, walaupun wisata kapal pesiar berpotensi untuk berkontribusi pada pariwsata di Indonesia khususnya pariwisata bahari, tetapi masih banyak tantangan untuk menerapkan wisata bahari yang ada di Indonesia. Ada banyak faktor yang menghambat berkembangnya wisata kapal pesiar di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari banyak aspek.  

    Memang saat Wisata dengan kapal pesiar menjadi tren dunia, tetapi tidak bagi wisatawan Indonesia. Minat wisatawan Indonesia untuk melakukan wisata dengan kapal pesiar masih terbilang minim.  Data menunjukkan bahwa jumlah rata-rata wisatawan Indonesia yang melakukan wisata kapal pesiar kurang dari 1% atau 72.000 orang per tahun. Masyarakat masih menganggap bahwa wisata kapal pesiar itu mahal dan menjenuhkan. Selain itu, faktor keselamatan juga menjadi faktor minimnya minat masyarakat terhadap wisata kapal pesiar.

    Faktor geografis yang ada di Indonesia juga sebenarnya menjadi penghambat untuk mengembangkan wisata kapal pesiar. banyak pulau di Indonesia yang memiliki keunikan tersendiri, tapi sayangnya jarak satu destinasi ke destinasi lain relatif jauh. Misalnya sebuah kapal pesiar yang ingin berlabuh ke Danau Toba harus berlabuh dahulu ke Pelabuhan Belawan di Medan karena di Danau Toba pelabuhannya tidak cukup menampung sebuah kapal pesiar di mana jarak tempuh dari Pelabuhan Belawan ke Danau Toba memakan waktu sekitar 3—4 jam.

    Selain itu, kebijakan yang diterapkan di perairan Indonesia pun mempersulit kapal-kapal yang ingin masuk ke wilayah Indonesia. Untuk memasuki zona laut Indonesia, kapal-kapal asing harus menunggu sampai 21 hari hingga diizinkan masuk ke perairan di Indonesia. selain itu, belum ada kebijakan sebagai standar biaya yang dikenakan bagi kapal asing yang masuk di Indonesia. Sering sekali kapal-kapal yang masuk ke Indonesia dipatok dengan harga yang mahal tanpa standar yang jelas.

    Tidak hanya itu, banyak pelabuhan di Indonesia tidak memungkinkan bagi kapal pesiar untuk bersandar dikarenakan kedalaman kolam pada pelabuhan tidak sesuai dengan kebutuhan kapal pesiar. Setidaknya sebuah pelabuhan harus memiliki kapasitas yang besar dengan kedalaman laut sekitar 18 meter. Selain itu banyak pelabuhan di Indonesia juga belum berstandar Internasional dan juga fasilitas yang ada kurang memadai bagi wisatawan yang singgah di pelabuhan. Di Indonesia juga masih menggunakan peta bawah laut manual yang membuat banyak kapal pesiar bingung menavigasi saat masuk ke perairan Indonesia. Sementara, banyak kapal pesiar yang sudah menjadikan peta bawah laut elektronik yang tersistem dalam navigasi internasional sebagai standar operasional mereka.

    Operator kapal pesiar di Indonesia juga masih kalah saing dengan operator asing. Kapal di Indonesia masih belum kuat karena belum didukung oleh industri penunjang dalam negeri dan ketergantungan akan impor bahan baku yang masih tinggi sehingga daya saing masih relatif rendah. alhasil, industri pelayaran menjadi penyumbang terbesar deficit neraca jasa. Pada tahun 2015 industri ini menyumbang 80% pada defisit neraca jasa.

    Wisata kapal pesiar sangat berpotensi untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan yang datang ke Indonesia. Berarti jika tingkat kunjungan naik, jumlah yang dikontribusikan untuk PDB Indonesia melalui sektor pariwisata juga meningkat. Namun, dari hasil yang telah dipaparkan di atas menunjukkan bahwa Indonesia belum siap untuk mengembangkan wisata kapal pesiar. Untuk menghadapi tantangan ini, perlu adanya langkah dari pemerintah untuk memperbaiki segala infrastruktur transportasi laut seperti memperluas area, memberikan akses transportasi dari pelabuhan ke pusat kota, memperbaiki jalan menuju pelabuhan, dan merevitalisasi fasilitas yang diperlukan di pelabuhan. Apabila pemerintah telah berupaya melakukan pembangunan terhadap infrastrukur dan juga perbaikan terhadap industri penunjang dalam negeri maka pertumbuhan ekonomi akan terdorong dan defisit neraca  jasa akan membaik. Pemerintah juga berperan untuk menciptakan kebijakan maritim yang terintegrasi  sebagai standar semua perairan di Indonesia, seperti memberikan izin yang mudah bagi kapal yang masuk ke perairan Indonesia dan memperkuat perjanjian bilateral dengan negara yang kuat dengan industri pelayarannya, seperti Singapura. Sinergi antar industri pelayaran dalam negerti harus diperkuat untuk menghadapi dominasi operator asing.

    Adanya wisata kapal pesiar ini juga dapat memberikan dampak secara langsung bagi masyarakat. Semakin lama jumlah destinasi yang disinggahi di Indonesia, semakin banyak dan berpotensi mendorong ekonomi lokal. Oleh karena itu, wisata kapal pesiar membuka kesempatan yang tinggi bagi masyarakat untuk terlibat secara langsung dalam industri pariwisata. Selain itu, wisata kapal pesiar ini sebenarnya akan menciptakan lapangan pekerja bagi masyarakat yang tinggal di sekitar pelabuhan. Mereka dapat berkontribusi dengan membuka usaha di sekitaran, menjual kerajinan tangan dan souvenir, atau menawarkan paket wisata di daerah tersebut bagi kapal pesiar yang singgah cukup lama. Mengingat untuk mengembangkan wisata ini tidak mudah, maka diperlukan kerja sama antar semua komponen yang ada baik pemerintah, stakeholder, operator kapal pesiar, dan masyarakat untuk meningkatkan wisata kapal pesiar di Indonesia.

     

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.











    Oleh: Admin

    Minggu, 31 Mei 2020 10:05 WIB

    Digeser Suplayer Telur Kabupaten, Peternak: Pak Bupati, Beri Kami Kesempatan

    Dibaca : 1.140 kali

    Tuban - Belum selesai polemik soal beras berkutu di program BPNT, kini muncul suplayer yang mengatasnamakan diri suplayer kabupaten. Tak ayal, kehadiran suplayer telur kabupaten inipun menggeser peternak lokal. Adalah Sahli, Peternak Ayam Petelur di Desa Pongpongan Kec. Merakurak yang mengeluhkan tak lagi bisa ikut menyuplai telur dalam program BPNT. Pasalnya, e-warong sembako di desanya sudah memiliki suplayer baru yang ditunjuk dari kabupaten. Akibatnya, Sahli kehilangan pangsa pasar terdekat yang ada di desanya. "Katanya sudah ada suplayer baru dari kabupaten yang bertugas menyuplai telur di program BPNT, jadi e-warong sekarang tidak lagi ambil telur dari saya" terang Sahli saat di temuai di kandangnya, Kamis, 21/05/2020. Sahli menuturkan, peternak ayam petelur yang ada di desanya sebenarnya cukup merasakan dampak ekonomi dari program andalan Jokowi ini. Ia dan teman-temannya tidak perlu jauh-jauh mencari pangsa pasar untuk telur yang dihasilkan dari kandangnya. Selain itu, harga jualnya juga relatif setabil dan kompetitif. Namun semenjak kehadiran suplayer kabupaten ini, ia terpaksa harus mencari pangsa pasar baru. "Dulu telur tidak pernah keluar dari desa karena diambil Agen BPNT, sekarang saya terpaksa jual telurnya ke tengkulak meski harganya lebih murah" terang pemuda yang sudah menggeluti peternakan unggas sejak 5 tahun terakhir ini. Terpisah, Aripin, peternak ayam petelur di desa yang sama juga menyayangkan masuknya suplayer baru dari luar desa. Menurutnya, supplier kabupaten ini makin menambah derita peternak ayam petelur yang beberapa bulan terakhir ini mengalami guncangan harga akibat beredarnya telur yang diduga HE. Jika hadirnya suplayer luar di BPNT Desa Pongpongan ini adalah kebijakan Bupati, Arifin meminta agar kebijaka itu dievaluasi. "Mohon Pak Bupati bisa melindungi peternak lokal. Beri kami kesempatan untuk menyuplai telur di desa kami" pinta Arifin. Untuk diketahui, adanya komoditi telur dalam program BPNT ini telah memantik semangat warga desa mencoba peruntungan dalam bidang perunggasan. di Desa Pongpongan sendiri, saat ini terdapat 5 kandang ayam petelur milik warga. Dua diantaranya merupakan kelompok binaan dari PT. Semen Indonesia. Diperkirakan, tahun ini juga akan muncul lagi peternak-peternak baru yang menggeluti peternakan ayam petelur. Hal ini diketahui dari banyaknya usulan peternakan unggas dari kelompok masyarakat yang yang masuk melalui program CSR Semen Indonesia tahun 2020 untuk Desa Pongpongan (tro/id).