HUT 90 Tahun PSSI: Bangunlah dari Mimpi! - Olah Raga - www.indonesiana.id
x

90 th pssi

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 20 April 2020 05:59 WIB

  • Olah Raga
  • Berita Utama
  • HUT 90 Tahun PSSI: Bangunlah dari Mimpi!

    Harapan publik sepak bola nasional agar Timnas Senior Indonesia berprestasi, akan terus dalam utopia, bila setelah usia 90 tahun PSSI, organisasi diampu oleh pengurus yang "nyambi", tak berijazah kepemimpinan organisasi sepak bola.

    Dibaca : 3.245 kali

    Harapan publik sepak bola nasional agar Timnas Senior Indonesia berprestasi, akan terus dalam utopia, bila setelah usia 90 tahun PSSI, organisasi diampu oleh pengurus yang "nyambi", tak berijazah kepemimpinan organisasi sepak bola.

    Dalam dunia pendidikan, bila seorang anak menempuh jenjang pendidikan formal tanpa hambatan, maka saat anak tersebut berusia  30 tahunan-an sudah dapat meraih gelar doktor (S3). 

    Lalu, berikutnya anak tersebut sekurangnya akan mendapat lahan pekerjaan semisal mendapat jabatan profesor, rektor, dekan, direktur, manajer seiring proses dan berjalannya waktu. 

    Bila analogi jenjang pendidikan dan jabatan tersebut dikaitkan dengan waktu 90 tahun PSSI berada di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan PSSI saya ibaratkan sebagai sebuah wadah pendidikan, maka sudah berapa banyak PSSi melahirkan insan sepak bola nasional yang bergelar pendidikan doktor dan menjabat profesor, rektor, dekan, direktur, manajer dll? 

    Sayang, hingga diusia 90 tahun, PSSI yang secara khusus hanya bertugas melahirkan prestasi sepak bola nasional untuk kebanggaan NKRI, dengan Timnas Senior meraih banyak tropi. Berprestasi di Asia Tenggara, Asia, dan Dunia, hanya utopia. Sulit meraih prestasi dan hanya menjanjikan mimpi dan khayalan. 

    Mengapa 90 tahun PSSI hanya ada di alam mimpi untuk mewujudkan Timnas Senior tampil secara obyektif di final Piala Asia dan Piala Dunia? Bukan tampil karena ada keuntungan dan menang bidding FIFA, karena iklan-iklan saja. 

    Bahkan di Asia Tenggara saja, sulit menandingi seteru lain, padahal jumlah penduduk Indonesia adalah posisi empat besar terbanyak di dunia setalah China, India dan Amerika Serikat. 

    Mengapa begitu sulit PSSI memilih dan meramu penduduk Indonesia yang jumlahnya empat besar dunia? Dalam usia PSSI yang ke-90 (19 April 1930-2020), apa yang salah dengan organisasi sepak bola nasional yang semakin renta ini? 

    Tidak usah saya kembali mengungkit sejarah, latar belakang, dan tujuan didirikannya organisasi yang akhirnya paten bernama PSSI, namun dalam usia yang ke-90 ini, evaluasi dan refleksi dari tak kunjungnya PSSI memberikan prestasi untuk NKRI adalah: Organisasi PSSI dan turunannya Asprov, Askab, Askot, klub dan SSB, hanya diisi oleh insan dan publik sepak bola nasional yang hanya sekadar hobi, sekadar "nyambi", sekadar praktisi, dan sekadar-sekadar lainnya. 

    Lalu, ada insan dan publik sepak bola nasional yang serius dan tidak sekadar terjun, namun karena ada motivasi lain, yaitu sebagai kendaraan politik, kepentingan diri, kelompok, dan golongan. Tidak ikhlas untuk sepak bola. 

    Lebih parah, organisasi sepak bola dari PSSI hingga turunannya juga dikelola dengan "asal jalan". Siapa saja insan dan publik sepak bola nasional bisa duduk di dalam organisasi dan cara duduknya juga penuh dengan intrik, taktik, dan politik karena tujuannya hanya untuk "kendaraan". 

    Sudah begitu, prasyarat mutlaknya tidak pernah terpenuhi, yaitu cakap dan mumpuni dalam ilmu manajemen berorganisasi. 

    Selama ini, manajemen yang digunakan adalah manajemen kekeluargaan, manajemen kelompok, dan manajemen politik. 

    Bagaimana dengan kondisi selama 90 tahun organisasi PSSI? Siapa pengurus yang ada di dalamnya? Itulah kunci akar masalah mengapa sepak bola nasional di tangan PSSI terus begini, sebab tidak semua pengurusnya  mengantongi ijazah khusus ilmu manajemen dan organisasi sepak bola secara ilmiah dan profesional, hingga proses dan bergulirnya roda organisasi selalu pincang, sulit berpacu menggapai tujuan, dan banyak tercecer di tengah jalan. 

    Sungguh memilukan, di usia 90 tahun, PSSI masih begini. Mungkin, Kemenpora atau stakeholder terkait segera membentuk lembaga untuk mengader calon-calon pengurus PSSI, buka lowongan secara profesional dan transparan, seleksi para calon dari berbagai bidang, didik, dibina, ditempa, hingga yang lulus perolah Ijazah Pelatihan Kader Pengurus Organisasi Sepak Bola Nasional (PKPSBN). Siapa yang memiliki ijazah PKPSBN, dialah yang layak dipilih menjadi pengurus organisasi sepak bola nasional baik di PSSI, Asprov, Askab, maupun Askot, dan pengurus klub dan SSB. 

    Khusus yang sekarang terlanjur duduk sebagai pengurus PSSI, ikutkan program pelatihan kepemimpinan organisasi. Meski banyak yang sudah profesional di bidangnya, namun organisasi PSSI dalam menjalankan programnya harus satu visi-misi dan tujuan organisasi, bukan kepentingan pribadi, pesanan pihak lain, gerbong lain, atau politik dan kepentingan cukong. 

    Sudah 90 tahun, lahirnya wadah PKPSBN, masih belum terlambat, sebab individu pengurus tak profesioal masih dibiarkan terlibat dalam organisasi sepak bola nasional memang wajib di setop, dicekal. 



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.