Haluan Baru Dunia Pendidikan Nasional - Analisis - www.indonesiana.id
x

Budi Susanto

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 Januari 2020

Jumat, 24 April 2020 09:52 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Haluan Baru Dunia Pendidikan Nasional


    Dibaca : 1.623 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Butuh waktu mencetak sumber daya manusia (SDM) yang unggul. Tentu saja yang dimaksud di sini dari hasil pendidikan.

    Perlu tahapan, perlu desain sistematik. Tidak bisa berpikir segampang menyapu debu rumah--tinggal mengumpulkan debunya kemudian didorong ke luar untuk dibuang.

    Termasuk pun tidak langsung buru-buru mengecam Mendikbud. Siapapun Menterinya. Sebab --misalnya saja-- dalam masa jabatannya tidak memberikan kualitas hasil pendidikan yang bersaing di kancah internasional.

    Ini juga ke sosok Nadiem Makarim, yYang didapuk Presiden Jokowi sejak Oktober tahun lalu sebagai Mendikbud. Problematika pendidikan nasional telah bertumpuk. Akan jadi PR yang tidak mudah bagi Mendikbud untuk menuntaskannya. Itu harus diakui.

    Begitu pun dengan Nadiem Makarim. Bukan persoalan enteng dihadapinya tentang perjalanan pendidikan di Indonesia. Apalagi menuju SDM yang unggul, cita-cita mulia ditargetkan Presiden Jokowi.

    Namun ada yang berbeda dari Nadiem Makarim. Yang berbeda itu: begitu baru dilantik sebagai Mendikbud, belum genap 100 hari masa jabatannya, Nadiem sudah menggebrak dengan skema Merdeka Belajar.

    Memang ketika baru dilantik, Nadiem pernah menyampaikan pemikirannya untuk memerdekakan pembelajaran di Indonesia. Agar mampu berlari menuju terwujudnya SDM unggul.

    Dan bukan sekadar ucapan. Nadiem membuktikannya.

    Tak lama kemudian, Nadiem kembali mendobrak dengan konsep Kampus Merdeka. Memerdekakan kampus agar lebih dinamis dan bebas berakselarasi., yang penting tidak lari dari ruh pendidikan nasional.

    Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka adalah skema arah modern pendidikan Indonesia.

    Mau dibawa ke mana sistem pendidikan di Tanah Air. Agar sesuai dengan kemanjuan zaman. Tidak monoton dari dulu begitu-begitu saja pola pembelajaran.

    Merdeka Belajar (maupun Kampus Merdeka) tidak lahir dari pemikiran asal. Tapi menjadi antitesa dari model pendidikan di Indonesia yang selama ini kaku. Tidak pernah berubah cara pembelajarannya.

    Memang tidak mudah menerapkannya. Perlu adaptasi. Seperti di awal tadi, perlu tahapan agar terlaksana mulus.

    Namun Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka adalah harapan. Harapan perubahan yang diberikan oleh Nadiem Makarim.

    Model arah dan pelaksanaan pendidikan yang berbeda dari Nadiem Makarim. Yang memang sesuai dengan pergerakan zaman. 

    Ketika masa ke masa terus berubah, maka pendidikan pun seharusnya ikut menyesuaikan dengan konteks zamannya.

    Yang penting, sekali lagi, tetap sesuai landasan tujuan pendidikan nasioanal. Bagaimana metodenya, itu soal teknis saja.

    Dan itu yang sedang dilakukan Nadiem Makarim. Membawa perubahan pendidikan dengan perahu Merdeka Belajar (dan Kampus Merdeka).

    Memang secara tertulis, haluan atau blue print pendidikan Indonesia belum tuntas dikerjakan Nadiem Makarim. Meskipun Nadiem pernah berjanji bakal menyusun dan menyelesaikannya pada tahun 2020 ini.

    Tapi kiranya, ruh blue print pendidikan itu harus diakui telah terasa. Dapat dipahami ke mana dan bagaimana skema pendidikan Indonesia ke depan.

    Dari prinsip Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka.*

    Ikuti tulisan menarik Budi Susanto lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.