Wacana Belajar di Rumah Sampai Akhir Tahun - Analisis - www.indonesiana.id
x

Budi Susanto

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 Januari 2020

Selasa, 28 April 2020 10:29 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Wacana Belajar di Rumah Sampai Akhir Tahun


    Dibaca : 1.867 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Jangan langsung buru-buru berpikir pendek. Menganalisis dangkal. Ada perbedaan antara rencana persiapan dan penetapan. Ini soal wacana kerja Mendikbud Nadiem Makarim bakal memperpanjang masa belajar dari rumah hingga akhir tahun 2020. Tapi --ada tapinya-- kalau situasi krisis pandemi wabah virus Covid-19 masih 'bertahan' di Indonesia sampai akhir tahun.

    Namun, tetap terus berdoa wabah virus Covid-19 segera berakhir di Indonesia. Sambil tetap di rumah saja --patuhi semua protokol kesehatan dianjurkan pemerintah. Insyaallah, semoga, kita bakal selamat serta selalu aman, sehat-sehat saja.

    Lalu soal belajar dari rumah yang tadi bakal diterapkan kementeriannya Nadiem, juga jangan dikhawatirkan. Dilarang juga gerutu. Nadiem dan jajarannya juga tidak ingin itu terjadi. Artinya: jadi doa supaya wabah virus Covid-19 selesai.

    Belum jadi keputusan sah Nadiem. Menteri Nadiem belum terbitkan regulasinya. Tidak juga sudah 'ketuk palu' terhadap skenario belajar dari rumah sampai akhir tahun 2020. Santai saja. Tidak perlu harus 'misuh-misuh'.

    Sementara ini --sesuai yang telah terlaksana-- tetap lakukan saja pola belajar dari rumah. Supaya kegiatan belajar-mengajar tidak berhenti di tengah situasi sulit sekarang.

    Memang tidak nyaman. Mungkin juga tidak terbiasa. Tapi ini harus dilakukan sekarang. Supaya tidak berisiko tertular virus Covid-19 di luar sana.

    Belajar dari rumah bukan formalitas. Apa yang diputuskan bahwa kegiatan pendidikan ke murid dilakukan dari rumah, itu sama saja seperti belajar di sekolah.

    Hanya kebiasaannya yang beda. Biasanya murid datang ke sekolah, bertemu teman-temannya, ada guru di kelas. Sementara sekarang tidak begitu. Belajarnya jarak jauh. Dari rumah saja.

    Namun prinsipnya sama: ada materi belajar, guru tetap memantau dan mengarahkan, ada tugas pelajaran, ada penilaian. Belajar dari rumah juga punya pengaruh ke bobot menjaga kadar pengetahuan murid.

    Dan tetap dinilai mutunya si murid oleh guru --meskipun belajar jarak jauh.

    Wadah materi belajar dari rumah juga disiapkan Nadiem. Bisa mengakses media belajar online milik Kemendikbud atau boleh berlangganan platform edukasi digital --yang biayanya bisa diambil dari dana BOS.

    Atau yang lagi naik daun, program belajar dari rumah kerja sama dengan TVRI, yang siarannya setiap hari. Tinggal pilih saja sesuai kebutuhan dan kemampuan sekolah, terutama gurunya.

    Sudah paham, kan? Kondisi belajar dari rumah yang kini dilakukan atas kebijakan Nadiem bukanlah formalitas.

    Masih ada juga yang mengeluh kebijakan belajar dari rumah membuat tidak dapat berpikir dan susah memahami? Ah, kalau itu alasannya, itu dasarnya saja memang karakter murid pemalas.

    Jangan-jangan, belajar di sekolah pun juga tidak paham apa-apa. Ketika gurunya menerangkan, mungkin si murid sedang mengkhayal main games Mobile Legend.*

    Ikuti tulisan menarik Budi Susanto lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.