#SeninCoaching: Menjaga Diri Tetap Waras di Tengah Krisis - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Adegan aria nesunn dorma Pavaroti

Mohamad Cholid

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 5 Mei 2020 18:58 WIB
  • Pilihan
  • Berita Utama
  • #SeninCoaching: Menjaga Diri Tetap Waras di Tengah Krisis

    Dibaca : 1.612 kali

    #Leadership Growth: Climb Up, Let No One Sleep

     

    Mohamad Cholid, Practicing Certified Executive and Leadership Coach

     

    Berpakaian jas lengkap, Hauser menjinjing cello ke tengah lapangan kering Arena Pula. Satu dari enam amphitheatre sisa kekaisaran Roma yang masih kelihatan bentuknya itu, gagah dalam ketuannya -- sebagian sisinya sudah rontok. Sebelum duduk di satu-satunya kursi di sana, Hauser membungkuk hormat ke arah lingkaran tempat duduk kosong. Siang itu tidak ada seorang pun penonton melingkari arena.

    Hauser, pemain cello asal Pula, Croatia, bukan tengah gladi resik. Hari itu, 23 April, Hauser tampil tunggal untuk memberikan penghargaan kepada orang-orang biasa yang bekerja luar biasa -- para petugas lapangan, tenaga medis di seluruh dunia -- dan mereka yang harus bertahan dalam ketidakpastian di rumah masing-masing akibat wabah covid-19. 

    Konser tunggal Hauser dimulai dengan Benedictus (Karl Jenkins), disusul Air on G the G String (J.S. Bach), Intermezzo Cavalleria Rusticana (Pietro Mascagni), Caruso (Lucio Dalla), dan diakhiri Nessun dorma (G. Puccini). Sungguh mengesankan.

    Ketika diunggah ke YouTube 27 April, tayangan Alone, Together from Arena Pula tersebut dalam seminggu menyedot satu juta orang lebih penonton.

    Sajian terakhirnya, "Nessun dorma" atau "Let no one sleep", dengan gambar-gambar para petugas di garda depan yang mulai melepaskan masker, ibu yang sudah tersenyum di balik jendela, seperti memberi pesan, kita tidak boleh lengah, tertidur.

    Memang kita sebaiknya selalu (berupaya agar batin) terjaga dalam situasi genting. Menjaga kewarasan jiwa dan keseimbangan pikiran sama pentingnya dengan memelihara kesehatan fisik, utamanya bulan-bulan ini.

    Krisis akibat pandemi, menimbulkan tekanan ekonomi, sosial, dan perilaku kepemimpinan di bisnis, lembaga nonprofit, dan di pemerintahan sekarang ini sesungguhnya proses yang dari perspektif spiritual sangat indah. Ini bisa jadi merupakan salah satu cara Tuhan membangunkan kita dari “tidur batin” berkepanjangan.

    Menurut pengamatan Anda bagaimana, bukankah sebagian dari kita selama ini menjalani hidup seperti dalam keadaan tertidur, abai pada lingkungan, tersedot oleh pelbagai kesibukan tanpa arah, mengejar bayangan peluang-peluang yang malah bisa jadi jebakan bisnis, sampai lupa mengurus diri, mengolah batin, dan bahkan melalaikan keluarga?

    Sebagian mengaku, bekerja keras demi anak-anak. Saat ditanya, dalam satu pekan berapa jam menyediakan waktu yang intensif berbincang dengan anak-anak, umumnya menjawab belum tentu bisa dua jam. Bahkan ada yang hampir tidak pernah, kecuali ketemu sepintas saat sarapan sambil buru-buru mau berangkat kerja.

    Di lingkungan organisasi, kondisi batin yang tertidur tersebut sesungguhnya gawat. Hari-hari ini terdengar ada beberapa pejabat publik setingkat mentri masih bekerja dalam pola tindak business as usual, tidak memperlihatkan sikap sense of crisis. Kalau bukan denial, perilaku kepemimpinan seperti itu memperlihatkan tidak responsible. Bagaimana bisa accountable kalau perilaku mereka begitu?

    Indikasi batin yang tertidur bisa pula terbaca dari perilaku yang sering memperlihatkan “parade ego dan keunggulan diri”. Golongan ini, karena jabatan dan posisi, sering berbicara atau bertindak merendahkan pihak lain untuk mengerek dirinya agar tampak pintar atau bahkan paling benar.

    Bukankah sering kita lihat orang-orang berperilaku seperti itu, di masyarakat atau pun di lingkungan korporasi?

    Perilaku kepemimpinan semacam itu sangat mencemaskan, karena bisa merusak hubungan antar personal dan lebih utama sangat merugikan diri sendiri. Karena mereka seperti berhenti tumbuh, menutup diri terhadap peluang menjadi pribadi-pribadi lebih baik lagi.

    Menurut perspektif agama, Tuhan memberikan manusia ketakwaan dan kedurhakaan. Manusia yang bertakwa selalu terbuka untuk berubah jadi lebih baik, setiap hari. Sedangkan menutup diri, menolak perspektif-perspektif baru dalam memaknai hidup -- atau, kata Prof. Dr. Quraish Shihab, orang yang memendam anugerah Tuhan berupa potensi positif diri mereka -- bisa masuk kategori bertindak durhaka.

    Parade ego dan keunggulan diri, menolak perspektif baru dan upaya peningkatan kompetensi agar menjadi lebih baik, menurut saya, sama seperti secara sepihak mengagalkan perjanjian ruh kita dengan Pencipta Alam Semesta.

    Jadi, Anda setuju kan kalau kita selalu merawat batin agar tetap terjaga?

    Apalagi bagi yang sudah mulai mengepalai keluarga, atau memimpin tim, atau menjadi eksekutif dengan puluhan direct reports dan ratusan bawahan – lebih lagi jika Anda pemimpin organisasi dengan ribuan karyawan.

    Meningkatkan kompetensi agar lebih mampu selalu membuat batin terjaga, waspada, memang merupakan jalan pendakian. Menolong orang, menjaga agar manusia-manusia lain terhindar dari bahaya (wabah dan bencana), mengangkat derajat manusia, adalah bentuk-bentuk pendakian juga.

    Para petugas di garda depan dan anggota masyarakat di kota dan desa-desa yang berupaya memotong jalur penularan wabah, antara lain dengan menyediakan fasilitas karantina di kantor-kantor desa atau rumah pinjaman (termasuk menyediakan makanan) untuk tetangga-tetangga mereka yang baru datang dari Jakarta atau kota besar lain -- sebagian karena kena PHK, sebagian karena bos mereka work from home sehingga tidak perlu diantar setiap hari -- adalah orang-orang yang telah melakukan pendakian itu. Dengan tindakan nyata, mereka merawat batin masing-masing selalu terjaga.

    Bagi Anda para eksekutif di kota-kota besar, kondisi krisis sekarang ini sesungguhnya merupakan peluang terbaik untuk memperkuat diri, mengasah pikiran, membangun clarity, agar sebagai profesional re-entry ke dalam realitas baru (pasca wabah) dalam kondisi mentally fit, spiritually enriched.

    Anda adalah lokomotif bagi sederet gerbong yang sepatutnya memilih rel terbaik. Nessun dorma.

     

    Mohamad Cholid  adalah Head Coach di Next Stage Coaching.

    • Certified Executive Coach at Marshall Goldsmith Stakeholder Centered Coaching
    • Certified Marshall Goldsmith Global Leadership Assessment

    Alumnus The International Academy for Leadership, Jerman

    (http://id.linkedin.com/in/mohamad-cholid-694b1528)

    (https://sccoaching.com/coach/mcholid1)

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.