Cerpen: Nona Mince - Urban - www.indonesiana.id
x

ilustrasi

honing

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 8 Maret 2020

Rabu, 6 Mei 2020 15:52 WIB

  • Urban
  • Topik Utama
  • Cerpen: Nona Mince

    "Minceee?" suara ayahnya memanggil dari ruang tamu. "Iya?" Mince menjawab dari dalam kamar. Ia kemudia berjalan menuju ruang tamu yang sudah penuh dengan keluarga besarnya. "Coba telpon Melky dulu. Kesepakatan untuk kesini jam 3, tapi sudah jam begini keluarga Melky belum juga datang," Ayahnya mulai kesal. Sebetulnya mereka berniat melamarmu ataukah tidak?" lanjut ayahnya dengan wajah cemberut. Beberapa orang keluarganya pun tampak mulai gelisah. Mince kemudian menelepon Melky. Tapi nomernya tak aktif. Ia terus menelpon berulang kali. Tapi hasiknya tetap sama. Tak ada jawaban. Sesekali ia melihat kearah dinding diruang tamu itu. Jarum jam sudah menunjukan pukul 4 sore. Ia pun mulai gelisah. Perasaanya tak enak. Detak jantungnya terasa berdegup lebih cepat ...cepat sekali. Ia merasakan ada sesuatu yang berbeda dari biasanya. Sore itu ia kenakan kain sarung peninggalan ibunya, serta baju merah tua yang baru ia beli pada hari sabtu kemarin. Ia keliahatan lebih manis dari biasanya. Tapi..tapi detak jantungnya semakin keras, sampai telapak tangannya pun ikut berkeringat. Sesekali ia usapkan tangannya ke kain sarung yang sudah beberapa jam membalut tubuhnya. Ia tak tahu kenapa detaknya semakin keras. Kenapa semua terasa begitu sepi? Kenapa? Ia bertanya dalam hati. Ia tetap duduk menanti. Apakah semua janji yang pernah diucapkan Melky akan tertunai hari ini? Entahlah. Ia hanya menunduk sambil sesekali memainkan ujung sarungnya. Matanya sayu. Telinganya dipenuhi detak memaksa. Suara perbincangan keluarga besarnya diruang tamu tak lagi ia hiraukan, detak itu saja yang tak henti menemani. Tiba-tiba,..... tiba-tiba kerumunan orang mendekati rumahnya. Mendekati dari arah jalan setapak itu. Ia hanya menoleh dan bertanya dalam hati. Apa yang terjadi? Kenapa wajah orang-orang itu seperti ketakutan? Kenapa ada orang menangis? Detak jantungnya semakin keras terdengar. Entah berapa kali ia usapkan tangannya yang basah. Ujung sarung itu pun lusu dan basah. Baju merah tua yang ia kenakan itu pun semakin kusut. Apa yang didengarnya, apa yang disaksikannya membuat semuanya terasa gelap. Gelap gulita. Tanpa cahaya. Ia tergolek lemah dipangkuan ayahnya. Melky, kekasihnya yang paling ia cintai...yang sore ini akan datang melamarnya, akhirnya pergi untuk selamanya! *** Rumah biru, Mey 2020.

    Dibaca : 1.200 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Ketika Melky ingin melamar Mince, dua ekor sapi, satu ekor babi, enam karung beras, lima lembar kain tenun serta uang tujuh juta rupiah sudah ia siapkan. Ia pikir itu sudah cukup membuat keluarga Mince menerimanya. Ternyata ia salah. Keluarga Mince yang adalah keluarga pejabat dan keturunan bangsawan merasa itu tidak cukup.

    “Awalnya saya pikir dia orang kaya, ternyata hanya tukang ojek. Masa melamar Mince hanya dengan beberapa ekor sapi? Berapa harga satu ekor sapi? Bikin malu-malu saja!” Bisik-bisik keluarga Mince yang sedang menunggu keluarga Melky di ruang tamu.

    “Sial sekali Mince, wajahnya yang manis dan lulusan terbaik dari Stikes Karya Husada Kediri hanya dilamar dengan beberapa ekor sapi.” Kembali suara kasak­-kusuk itu menusuk gendang telinga Mince. Sakit sekali mendengarnya. Namun sesungguhnya, di hatinya jauh lebih sakit. Pedih.

    Bagaimana bisa mereka membandingkan dan mengukur seorang laki-laki hanya dari pekerjaan dan hewan bawaan saat proses melamar? Kalau memang seperti itu, bisa jadi laki-laki yang memiliki banyak kekayaan bisa membeli tubuh perempuan sesuka hati. Itu justru merendahkan tubuh perempuan. Protes Mince dalam hati.

    Ia kemudian mengingat kembali pesan Neneknya. Nenek Toly, Nenek dari garis keturunan ibu-nya yang telah meninggal beberapa tahun lalu. 

    ***

    “Mince, ingat baik-baik pesan ini! Kalau suatu saat kau ingin menikah. Kau tidak boleh memilih laki-laki yang hanya bisa berkata: saya mencintaimu, tapi menolak untuk bertanggung jawab," kata Neneknya disuatu sore. 

    "Kau juga tak boleh memilih laki-laki hanya karna ia punya banyak uang. Atau hanya karna berasal dari keluarga bangsawan. Kau tau, lelaki seperti itu biasanya bermental feodal," Neneknya berbicara sambil memasukan sebuah pinang ke mulutnya. 

    "Kau tau Om Faifui yang DPR itu?" lanjut Neneknya sambil menaruh kapur di telapak tangannya. Mince mengangguk. "Dia keturunan bangsawan. Dia juga berasal dari keluarga berada. Tapi dia tak tahu bagaimana menjadi seorang ayah yang baik," Neneknya berhenti sejenak, meludah ke tanah, lalu kembali melanjutkan.

    "Dia suka memukul istri dan anak-anaknya. Dia juga suka main perempuan," Neneknya berbicara dengan nada sedikit merendah. Ia melihat ke kiri dan kanan, lalu kembali melanjutkan. "Istrinya pernah di opname dua malam di rumah sakit umum Soe karna dipukul dengan kayu sebesar ini," Neneknya lalu menunjuk tangannya sebagai ukuran. Mince mendengar cerita Nenek-nya dengan seksama. Sesekali ia menarik napas panjang sambil menggelengkan kepala.

    "Mnu kit pena neu dapur (Coba kau lihat jagung di dapur )," Nenek Toly menyuruh Mince memeriksa masakan diatas tungku dalam bahasa Dawan. Mince sedikit memahami beberapa kalimat dalam bahasa Dawan. Ibunya pernah mengajarinya sebelum meninggal 7 tahun lalu. Ia memahami bahasa itu. Hanya saja, ia tak bisa membalas. Itu sebabnya ia sering membalas menggunakan bahasa Indonesia.  

    Mince berlari ke dapur, dilihatnya jagung didalam periuk, lalu kembali ke tempat semula.

    "Fe kah masak (belum masak)," Mince menjawab sambil duduk di sebuh kursi plastik di depan Neneknya.

    "Fe kah namtas," Neneknya meluruskan bahasa Dawan-nya yang belepotan.  

    "Fe kah namtas,' Mince mengulangi kalimat itu. Neneknya mengangguk.

    "Mince, kau pernah mendengar kasus pemukulan Pastor di Kuanfatu dari seorang anggota DPR?" Neneknya kembali melanjutkan percakapan sebelumnya.

    "Iya. saya pernah mendengar cerita itu dari Susi Mina," jawab Mince.

    "Keturunan bangsawan dan orang yang berada sering kali seperti itu. Mereka selalu merasa superior. Mereka suka memperlakukan orang lain sesuka hati. Mereka juga bermental feodal. Sudah begitu, patriarki lagi," Neneknya kembali meludah ketanah. "Puuuuih", seekor anjing yang sejak tadi tertidur ditiris dapur tiba-tiba terkejut ketika ludah merah itu jatuh tepat di depannya.

    Sejak saat itu, Mince selalu berhati-hati saat berpacaran dengan laki-laki mana pun. Ia sangat membenci patriarki. Juga sangat membenci orang-orang yang merasa superior hanya karna berdarah biru, atau karna kebetulan punya banyak uang. Ia sudah pernah mendiskusikan perihal itu bersama kekasihnya, Melky.

    Sebetulnya, Melky juga membenci orang-orang seperti itu. Ia punya pengalaman masa kecil yang sangat buruk. Ia pernah dijauhi oleh teman-temannya hanya karna satu hal: Ia berasal dari keluarga yang miskin.

    Mereka berdua akhirnya bertekad untuk mengubah hal itu. Cara mereka mengubahnya tak muluk-muluk. Mereka hanya ingin mengubah hal itu dari pola asuh dalam keluarga. Mereka bertekad jika suatu saat mereka selesai menikah, lalu dipercayakan memiliki anak, maka mereka tak akan mendidik anak-anak mereka menjadi anak yang sok jagoan. Yang merasa lebih hebat sampai-sampai suka merendahkan anak-anak dari keluarga miskin, atau merendahkan anak-anak dari kampung.  

    Melky juga punya mimpi dan cara  sederhana dalam hal mendidik anak. Sebenarnya, ia sudah lama memendam hal itu. Ia pernah menyampaikan hal itu kepada Mince di suatu malam, ketika mereka pulang menonton pertandingan bola volly di Lapangan Puspenmas. Waktu itu, mereka berjalan sambil bergandengan tangan. Mereka memang lebih suka  berjalan paling terakhir agar mereka tak diganggu. Selain itu, mereka juga bebas mengatur langkah kaki. 

    Saat itu jalanan sudah mulai sepi. Tak ada lagi orang dijalan. Kecuali beberapa orang penjual jagung bakar yang masih sibuk membereskan sisa jualan mereka.

    Mince masih ingat ucapan Melky pada waktu itu. Tepat dibawah lampu jalan yang suram-suram, Melky berkata, jika suatu saat ia memiliki anak laki-laki, ia tak akan mendidik anaknya menjadi anak yang sok berkuasa. Yang suka mengatur atau memukul saudara perempuannya. Menurutnya, cara menghilangkan mental feodal dan sistem patriarki harus dimulai dengan cara mendidik anak laki-laki. 

    Mince hanya tersenyum, ia  senang mendengar hal itu. Sejak saat itu, ia sadar bahwa Melky adalah laki-laki yang sesuai kriterianya. Ia lalu bersumpah dalam hati untuk terus bersama Melky sampai ajal menjemput. 

    ***

    Mince berdarah campuran Timor-Sabu. Timor dari garis keturunan ibunya, dan Sabu dari ayahnya. Kata orang, perkawinan silang antara Timor dan Sabu selalu menghasilkan bibit unggul. Banyak orang tak sepakat akan hal itu, tapi Mince adalah bukti yang tak terbantahkan. Mungkin sebab itulah, Mince manis sekali. Parasnya seperti orang India. Matanya indah seperti mata merpati. Saat tersenyum, selalu saja muncul dua buah cekungan di pipi-nya. Sebetulnya, dua buah cekungan itu adalah alasan kenapa Melky langsung jatuh hati, saat pertama kali melihat Mince. 

    Mince memang berambut ikal. Tapi ia juga tak pernah berniat meluruskan rambut. Itu hal bodoh menurutnya. Ia punya standar sendiri diluar standart kecantikan pada umumnya. Menurutnya, menggunakan standar kecantikan dengan meluruskan rambut hanya akan menghasilkan ketergantungan. Itulah kenapa ia tak mau standar kecantikannya tergantung pada produk-produk kecantikan semacam itu. Ia lebih memilih mensyukuri apa yang diberikan alam kepadanya. 

    Mungkin sebab itulah, ia terlihat unik. Parasanya yang manis dan rambut ikal-nya sering mendapatkan banyak pujian dari beberapa laki-laki. Salah satunya Enos, temannya Melky. Enos  suka sekali menikung. Ia  juga punya satu keahlian terpendam, yaitu menggombal.  Enos pernah berkata bahwa jiwa-nya sering  ikut berombak saat melihat rambutnya Mince yang ikal itu. 

    Memiliki paras yang cantik, tentu menjadi incaran banyak laki-laki. Tak heran, Mince pernah didekati oleh beberapa pegawai Bank, PNS, hingga seorang anggota DPR. Meski begitu, tak satu pun dari mereka yang ia terima. Ia lebih memilih Melky, seorang tukang ojek dari Oenasi.

    Melky adalah laki-laki yang setiap hari berprofesi sebagai tukang ojek. Ia berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya adalah tukang bangunan, sedangkan ibunya seorang ibu rumah tangga. Itulah kenapa ia tak melanjutkan kuliah. Ia lebih memilih membantu keluarganya ketimbang melanjutkan kuliah.

    Sebetulnya, Mince dan Melky sudah cukup lama membangun hubungan asmara. Mereka berpacaran sejak masih duduk dibangku SMA. Jatuh-bangun dalam mempertahankan hubungan sudah berulang kali mereka lalui. Mereka pernah putus beberapa kali, hanya saja, tak berlangsung lama. Biasanya hanya beberapa minggu, setelah itu mereka akan saling memaafkan, lalu berjanji untuk kembali saling mencintai. Memaafkan dan berjanji adalah cantu. Begitu seterusnya.

    Penyebab mereka beberapa kali putus adalah hal sepeleh, yaitu masalah jarak. Hal itu sering terjadi sejak Mince memilih melanjutkan kuliahnya di Kediri. Mince memang bercita-cita menjadi perawat. Alasannya tak muluk-muluk seperti para aktifis yang suka banyak omong itu. Ia hanya suka menggunakan pakian berwarna putih. Itu saja.

    Sebetulnya, masalah jarak bisa diatasi dengan alat komunikasi seperti HP. Tapi teknologi secanggih apa pun hanya mampu menambal rindu untuk sementara. Ia tak bisa memberikan kehangatan.

    Menjalin hubuangan jarak jauh memang tak mudah, selalu saja ada banyak masalah. Meski begitu, masalah tak selamanya bermakna negatif. Ia punya sisi yang lain: sisi positif. Dengan terpaan masalah seperti itu, mereka bisa saling mengenal watak dan karakter masing-masing. Mereka akhirnya berubah dari pasangan yang labil menjadi pasang yang sangat dewasa.

    Dua tahun terkahir sebelum Mince lulus, hubungan mereka semakin membaik. Jarang sekali ada masalah diantara mereka. Beberapa orang pernah menjadikan  Mince dan Melky sebagai pasangan ideal lataran tak pernah berkelahi. Mince dan Melky akhirnya percaya bahwa cinta mampu menaklukan jarak, tapi tidak dengan waktu. Itulah mengapa Mince sering pulang setiap libur semester.

    ***

    "Minceee?" suara ayahnya memanggil dari ruang tamu.

    "Iya?"  Mince menjawab dari dalam kamar. Ia kemudia berjalan menuju ruang tamu yang sudah penuh dengan keluarga besarnya.

    "Coba telpon Melky dulu. Kesepakatan untuk kesini jam 3,  tapi sudah jam begini keluarga Melky belum juga datang," Ayahnya mulai kesal.

    Sebetulnya Melky berniat melamarmu atau tidak?" lanjut ayahnya dengan wajah cemberut. Beberapa orang keluarganya pun tampak mulai gelisah. Mince kemudian menelepon Melky. Tapi nomernya tak aktif. Ia terus menelpon berulang kali. Tapi hasilnya tetap sama, tak aktif. Ia terus menekan gawai-nya, lalu mendekatkannya ketelinga.  Sesekali ia melihat kearah dinding. Jarum jam sudah menunjukan pukul 4 sore.

    Mince mulai gelisah. Perasaanya tak enak. Detak jantungnya terasa berdegup lebih cepat ...cepat sekali. Ia merasakan seperti ada sesuatu yang berbeda dari biasanya.

    Sore itu ia kenakan kain sarung peninggalan ibunya, serta baju merah tua yang baru ia beli pada hari sabtu kemarin. Ia keliahatan lebih manis dari biasanya. Tapi.., tapi detak jantungnya semakin keras, sampai telapak tangannya pun ikut berkeringat. Sesekali ia usapkan tangannya ke kain sarung yang sudah beberapa jam membalut tubuhnya. Ia tak tahu kenapa detaknya semakin keras. Kenapa semua terasa begitu sepi? Kenapa? Ia bertanya dalam hati.

    Ia tetap duduk menanti. Apakah semua janji yang pernah diucapkan Melky akan tertunai hari ini? Entahlah.  Ia hanya menunduk  sambil sesekali memainkan ujung sarungnya. Matanya sayu. Telinganya dipenuhi detak memaksa. Suara perbincangan keluarga besarnya  tak lagi ia hiraukan, detak itu saja yang tak henti menemani.

    Tiba-tiba,..... tiba-tiba kerumunan orang mendekati rumahnya. Mendekati dari arah jalan setapak itu. Ia hanya menoleh dan bertanya dalam hati. Apa yang terjadi? Kenapa wajah orang-orang itu seperti ketakutan? Kenapa ada orang menangis?

    Detak jantungnya semakin keras terdengar. Entah berapa kali ia usapkan tangannya yang basah. Ujung sarung itu pun mulai lusu dan basah. Baju merah tua yang ia kenakan itu pun semakin kusut.

    Apa yang didengarnya, apa yang disaksikannya membuat semuanya terasa gelap. Gelap gulita. Tanpa cahaya. Ia tergolek lemah dipangkuan ayahnya.

    Melky, kekasihnya yang paling ia cintai...yang sore ini akan datang melamarnya, akhirnya pergi untuk selamanya!

    ***

    Rumah biru, Mey 2020.

    Honing Alvianto Bana, Lahir di KOta Soe - Nusa Tenggara Timur. Suka membaca dan menulis. Ia juga suka melamun.

    Ikuti tulisan menarik honing lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.