Corona dan Tumpulnya Nilai Kemuliaan Kemanusiaan Kita - Analisis - www.indonesiana.id
x

Rusmin Sopian

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 8 Mei 2020 05:31 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Corona dan Tumpulnya Nilai Kemuliaan Kemanusiaan Kita

    Tulisan tentang masih adanya penolakan terhadap pemakaman korban Covid-19

    Dibaca : 2.049 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Wabah virus corona yang kini menjadi pendemi di dunia saat ini, melahirkan sejumlah persoalan kemanusiaan. Bukan hanya tentang tata cara penanganannya berikut obat yang bisa menahan laju penyebaran virus ini semata. Pendemi ini mempinakkan banyak momentum yang membuat nilai kemanusiaan kita sebagai manusia yang beradab mesti berkontemplasi diri. Nilai kemanusian kita seolah memudar dalam menghadapi virus corona ini.

    Bagaimana tidak berkontemplasi diri, kalau kita baca di berbagai media, betapa mirisnya kita melihat penderita atau orang terkena virus ini, yang bukan hanya harus menelan pil dan obat dari para tenaga medis, namun mereka harus menerima pil pahit dari sekitarnya yang menganggap mereka yang terpapar virus ini sebagai sebuah aib. Perlakuan yang mereka terima dari lingkungan sekitarnya pun, tak akan pernah para koruptor terima. Padahal sudah sangat jelas para koruptor itu memiskinkan kita sebagai manusia. Padahal sudah dengan gamblang, koruptor itu membuat ekonomi kita terpuruk. Pertanyaannya, pernahkah kita menolak penguburan seorang koruptor di tanah Ibu pertiwi ini?

    Tak heran, bila beberapa penolakan terhadap pemakaman korban virus ini membuat kegaduhan dan hiruk pikuk di publik. Bahkan yang amat mengagetkan kita sebagai manusia yang paling tinggi derajatnya di planet bumi ini, harus memberi stigma buruk kepada para tenaga medis yang menjadi garda terdepan. Mereka pun harus menerima stigma negatif dari sekitarnya. Padahal, mereka adalah orang yang berjuang paling depan dalam misi kemanusian ini, sebagai penolong orang yang terkena virus Covid-19 ini. Para tenaga medis ini pun harus berjibaku menyelamat jiwa sesama manusia. Walaupun terkadang nyawa mereka yang harus menjadi taruhannya. Tapi, kontradiksi dengan perlakuan yang mereka terima di publik.

    Fenomena ini memfaktakan kepada kita bahwa nilai kemanusian kita mulai tumpul. Mulai terkikis dengan narasi zaman yang berorientasi kepada apologi, bahkan cenderung mengaksikan pembenaran atas nama kelompok. Fenomena ini memfaktakan kepada kita sebagai bangsa bahwa nilai-nilai kemanusiaan kita sebagai manusia beradab mulai terdistorsi.

    (Almarhum) Munir, aktifis HMI dan aktivis Kontras, pernah menjelaskan bahwa humanisme bukan hanya bicara tentang kemanusiaan semata, namun juga mengenai keadilan dalam tatanan masyarakat kecil khususnya. Dalam hal ini, Cak Nurcholish Madjid memandang kemanusian lebih dari segi kesetaraan dan dalam sudut pandang agama khususnya. Dalam bukunya cak Nur menjelaskan tentang kemanusiaan bahwa “… manusia adalah puncak ciptaan, merupakan mahluk yang tertinggi dan adalah wakil dari Tuhan di bumi. Sesuatu yang membuat manusia yang menjadi manusia bukan hanya beberapa sifat atau kegiatan yang ada padanya, melainkan suatu keseluruhan susunan sebagai sifat-sifat dan kegiatan-kegiatan yang khusus dimiliki manusia saja yaitu Fitrah. Fitrah membuat manusia berkeinginan suci dan secara kodrati cenderung kepada kebenaran”.

    Pada sisi lain, arahan dari pemimpin yang harusnya menjadi acuan kita tak dihiraukan. Narasi pemimpin diartikan sebagai pencitraan semata tanpa makna. Keteladanan lagi-lagi menjadi sumber ketidakpercayaan publik. Sementara para petinggi daerah pontang panting bekerja demi kepentingan publik untuk memutus mata rantai pendemi Covid -19 sebagai bentuk pertanggungjawabannya sebagai pemimpin yang dipilih rakyat di TPS-TPS.

    Kadang kala nilai kemulian kemanusian kita menjadi tumpul ketika aroma kekuasaan menjadi barometer dalam berkehidupan sosial. Tanpa diembeli dengan jabatan dan kekuasaan, seolah kehidupan sosial menjadi tak berwarna. Padahal nilai kemanusian seorang manusia diukur ketika dia mampu memberi warna baru bagi kehidupan sosial kemasyarakatannya dalam berkehidupan sehari-hari sebagai manusia. Mampu memberi ornamen pencerdasan dalam kehidupan sosialnya di publik.

    Buat apa kita memiliki kekuasaan, yang akhirnya dengan kekuasaan kita hanya memperkaya kita sendiri dan keluarga, kroni serta kelompok kita semata, dengan meninggalkan sejuta nilai-nilai kemiskinan kemanusiaan? Buat apa kita memegang kekuasaan kalau kekuasaan itu dijadikan instrumen untuk memarginal sesama manusia. Untuk apa kita memiliki kekuasaan kalau hanya untuk menghukum sesama manusia? Bermanfaatkah kekuasaan itu untuk sesama manusia? Berfaedahkah kekuasaan itu untuk kepentingan sesama manusia?

    Fenomena Covid-19 yang kini menjadi pendemi dunia, tak terkecuali di Indonesia menjadi momentum bagi kita sebagai warga bangsa untuk mengeskalasi nilai-nilai kemanusiaan kita dengan prinsip saling menghormati sesama manusia. Tak ada alasan apapun bagi kita untuk memberi stigma kepada orang yang terpapar virus Corona.

    Tak ada dalih apapun bagi kita untuk menganggap corona sebagai aib. Tidak ada. Apalagi menolak manusia yang wafat karena terkena virus Corona di negeri ini untuk dimakamkan. Apalagi ketika kita hidup di negeri yang menjadikan Pancasila sebagai Falsafah hidup kita sebagai bangsa.

    Tampaknya sosialisasi hingga ke jantung warga bangsa hingga ke pelosok Desa perlu terus disenandungkan hingga warga bangsa menjadi paham bahwa Corona bukanlah aib, tapi virus berbahaya yang perlu kita waspadai dengan mengikuti anjuran dan tata aturan dari Pemerintah sebagai upaya kita memutus mata rantai penyebaran virus Covid-19.

    Sebagai bangsa petarung, kita sangat yakin bahwa virus Corona akan mampu kita lawan tanpa harus menumpulkan nilai-nilai kemanusian kita sebagai manusia. Sebagai bangsa besar yang sudah teruji, kita sangat percaya diri akan mampu menang besar melawan penyebaran virus Coronan di Indonesia dengan terus mengasah nilai-nilai kemanusian kita sebagai manusia yang berdiam di Indonesia. (Rusmin)

    Toboali, Mei 2020



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.