Jangan Ada Pencitraan, Bersama Kita "Pacak" Melawan Corona - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Sekelompok warga melintasi Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, memakai masker antisipasi wabah virus corona. Tempo/Hilman Fathurrahman W

Rusmin Sopian

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 13 Mei 2020 17:36 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Jangan Ada Pencitraan, Bersama Kita "Pacak" Melawan Corona

    Hanya dengan kebersamaan dan semangat persatuan, bangsa ini bisa melawan Virus Corona. Sudah saatnya, para pemimpin tak perlu lagi bernarasi yang berbalut pencitraan dan berselancar kata-kata di depan publik. Pemilihan Presiden masih jauh. Masih empat kali bulan Ramadan lagi. Masih empat tahun lagi. Masih 2000 hari lagi. Masih 48 bulan lagi. Masih jauh. Bahkan sangat teramat jauh.  

    Dibaca : 2.152 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Hingga hari Selasa (13/5) kemarin sedikitnya 1007 warga yang terinfeksi Covid-19 wafat. Dan semenjak diumumkan 2 Maret lalu, sedikitnya 14, 747 warga bangsa yang terkonfirmasi infeksi Covid-19 dengan jumlah pasien yang sembuh telah mencapai angka 3.063 pasien.

    Sementara pasien yang dirawat mencapai angka 10.679 pasien. DKI Jakarta adalah Provinsi yang paling tinggi angka warga yang positif Covid-19 sebanyak 5.375 orang.

    Akibat virus Covid-19 ini, sedikitnya 4 Provinsi dan sebanyak 77 Kabupaten dan Kota di Indonesia telah mengaplikasikan Pembatasan Sosial Berskala Besar. Dan akibat Covid-19 ini, dampak ekonomi masyarakat dan bangsa Indonesia menurun. Ekonomi global dipastikan melambat, menyusul penetapan dari WHO yang menyebut dampak virus Covid-19 sebagai pendemi yang mempengaruhi dunia usaha.

    Di Indonesia beberapa stimulus diluncurkan, bahkan Presiden Jokowi meminta semua pihak untuk melakukan sosial distancing, termasuk Work From Home hingga langkah kebijakan untuk meliburkan kegiatan belajar mengajar.

    Dari fenomena diatas tampaknya kita semua elemen bangsa harus bersiap menghadapi hal yang terburuk. Untuk itu semua elemen bangsa, dari mulai Presiden hingga rakyat jelata harus bersatu padu. Harus dalam satu irama dalam menghadapi virus corona ini. Sudah saatnya dalam satu koor suara untuk menumpaskan virus corona ini.

    Sudah saatnya, para pemimpin tak perlu lagi bernarasi yang berbalut pencitraan yang berselancar di publik. Pemilihan Presiden masih jauh. Masih empat kali bulan Ramadan lagi. Masih empat tahun lagi. Masih 2000 hari lagi. Masih 48 bulan lagi. Masih jauh. Bahkan sangat teramat jauh. 

    Tak perlu lagi ada akrobatik kata-kata yang berkeliaran didunia maya dan media sosial yang berbungkus pencitraan. Ini bukan soal politik. Ini tentang kemanusiaan. Tentang hajat hidup publik. Tentang hak sehat warga bangsa yang wajib dilindungi dan terlindungi oleh negara.

    Di depan mata kita dan kekinian, rakyat butuh aksi nyata dari para pemimpin bangsa dan daerah untuk bersama-sama mencari solusi terbaik dalam melawan virus Corona.

    Rakyat butuh solusi dan solusi yang dapat menghentikan penularan virus corona sehingga kehidupan masyarakat kembali normal seperti sediakala. Rakyat tidak butuh narasi pencitraan dan pidato yang panjang lebar yang berujung menjadi luas dan panjang.

    Kita tahu, bahwa bangsa ini bangsa besar. Itu adalah sebuah aksioma. Diakui bangsa-bangsa luar. Diakui dunia internasional. Bangsa yang mampu bangkit dari ketertindasan kaum imperialis yang menjajah.

    Bangsa yang mampu meraih kemerdekaan dengan semangat patriotisme. Bangsa yang mampu melawan penjajah dengan spirit bambu runcing. Dan Semua itu bisa diperoleh karena semua elemen bangsa bersatu padu melawan jahatnya kaum Kolonialisme yang menjajah dan menghisap darah Ibu Pertiwi.

    Belajar dari sejarah dan pengalaman para pendahulu kita, sudah saatnya kita mengadopsi kerja nyata dan aksi nyata dari para pendahulu kita dalam mengusir kaum penjajah dari Ibu Pertiwi dengan cara semua elemen bangsa bersatu padu dengan menghilangkan ego sektoral. Apalagi merasa paling hebat dan pintar serta cerdas.

    Kini sudah saatnya, presiden hingga kaum jelata di negeri yang gema ripah loh jinawi ini bersatu padu dan bekerja sama melawan virus Covid-19 dengan terus mengaplikasikan semua arahan protokol kesehatan yang telah disepakati bersama. Mulai dari menjaga kesehatan dengan mencuci tangan hingga pengaplikasian sosial distancing. Saatnya bersatu padu dan saling bersinergi serta bekerja sama.

    Penulis sangat percaya aroma persatuan dan kebersamaan kita sebagai bangsa  menjadi jalan terang bagi kita, untuk menaklukan penularan virus corona ini. Dengan catatan tentunya semua pihak bekerja dengan ikhlas, membangun empati antar sesama, dan tentunya tidak mengekploitasi situasi dan kondisi ini untuk kepentingan pribadi dan kelompok serta kroninya.  Apalagi sampai memanfaatkan kondisi pendemi corona ini untuk melakuan aksi kejahatan bergairah purba yang bernama Korupsi.

    Penulis yakin kita pacak (bhs Toboali: Bisa) melawan virus Corona. Mengusir kaum penjajah dari bumi Pertiwi saja kita mampu. Dengan semangat kebersamaan dan spirit persatuan bangsa, ayo kita lawan virus Corona dari Bumi Pertiwi tercinta ini. Dan kita pasti pacak.

    Toboali, 13 Mei 2020



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.