Narasi "Untuk Kepentingan Rakyat ", Benarkah untuk Rakyat? - Analisa - www.indonesiana.id
x

Rakyat berdaulat kekuatan di tangan rakyat

Rusmin Sopian

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 16 Mei 2020 06:44 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Narasi "Untuk Kepentingan Rakyat ", Benarkah untuk Rakyat?

    Dibaca : 651 kali

    Narasi heroik kerakyatan berupa frasa “untuk kepentingan rakyat” yang amat sering disenandungkan pemimpin negeri dengan nada suara kencang dan sering kali kita dengar dengan nada resonansi yang gagah berani lewat media elektronik dan kita baca di media massa koran merupakan bukti, pemimpin sangat memuliakan rakyat yang telah mencoblosnya dibilik-bilik TPS, sehingga mengeskalasi harkat hidupnya sebagai pemimpin.

    Narasi bernada patriotik “untuk kepentingan rakyat” yang seringkali dilontarkan pemimpin dan akrab ditelinga kita sebagai rakyat, membuktikan bahwa pemimpin memang sangat menghormati rakyat yang telah mengeskalasikan martabat hidupnya sebagai pemimpin negeri.

    “UNTUK kepentingan rakyat,” ungkap sang pemimpin yang dimuat di koran halaman satu dan dibaca rakyat yang sedang berbincang sesamanya kaum jelata di negeri ini tentang bagaimana susahnya mencari nafkah untuk menopang kehidupan keluarga sehari-hari.

    “Untuk kepentingan rakyat,” jelas sang pemimpin yang muncul di televisi dua menit dan di tonton rakyat lewat televisi 14″ inch hitam putih yang gambarnya turun naik.

    “Untuk Kepentingan rakyat,” senandung sang pemimpin lewat radio dan di dengar rakyat dengan nada suara samar-samar, sambil tiduran di bale-bale sembari memikirkan tentang tanaman padi yang dimakan tikus-tikus.

    “Untuk kepentingan rakyat,” teriak sang pemimpin diatas panggung hiburan.Dan rakyat terus ngobrol ngalor ngidul sesama mereka di bawah panggung hiburan, sembari tetap setia menunggu penyanyi yang akan tampil mengimitasi goyang ngebor ala artis ibukota.

    “Untuk kepentingan rakyat,” ujar sang pemimpin dengan nada gagah berani dan didengar rakyat dengan nada samar-samar sambil memikirkan bagaimana caranya memasarkan hasil panenan yang melimpah ruah untuk bekal kehidupan dan masa depan.

    “Untuk kepentingan rakyat,” celoteh sang pemimpin dengan nada penuh keyakinan dan rakyat terus menimbun kolong bekas galian agar lahan pertanian tak terendam air sehingga panen tahun depan berhasil.

    “Untuk kepentingan rakyat,” kata sang pemimpin dengan resonansi suara yang penuh semangat. Dan rakyat tetap saja berfikir tentang panen hasil pertaniannya yang harga nya terus melorot dan melorot hingga titik terendah.

    “Untuk kepentingan rakyat,” sebut sang pemimpin dan rakyat terus saja berpikir keras bagaimana caranya untuk tetap menatap kehidupan dan menjalani derap langkah kehidupan walaupun harus mengeluarkan keringat yang bercampur dengan darah.

    “Untuk kepentingan rakyat,” kumandang sang pemimpin dan rakyat terus saja berpikir dan memikirkan bagaimana besok sang anak istri bisa bisa mengganjal perut walaupun dengan makanan ala kadarnya.

    “Untuk kepentingan rakyat,” cerita sang pemimpin dan rakyat terus saja berfikir dan bergulat dengan kerasnya derap kehidupan untuk mengais rejeki biar bisa tetap hidup dan hidup.

    “Untuk kepentingan rakyat,” terus berkumandang dari bibir sang pemimpin. Sementara rakyat terkagum kagum menyaksikan foto jurnalistik tentang kehebatan negeri sebrang membendung lautan-lautan menjadi kota megah dari surat kabar bekas yang diperolehnya dari bekas bungkusan pedasnya cabe yang dibeli oleh istrinya di pasar tradisional pagi tadi.

    “Untuk kepentingan rakyat,” terus bergema dari mulut sang pemimpin. Dan rakyat pun terlelap dalam buaian impian dan mimpi setelah seharian bekerja memeras keringat.

    “Untuk kepentingan rakyat,” gumam sang pemimpin dengan suara penuh desah dan tanya.

    Narasi kerakyatan yang amat heroik berupa kalimat ”untuk kepentingan rakyat” terus disenandungkan pemimpin untuk rakyat, sebagai tanda bahwa pemimpin bekerja untuk kepentingan rakyat semata tanpa embel-embel dan reserve. Narasi kerakyatan yang amat patriotik berupa diksi ”untuk kepentingan rakyat ” yang selalu digemakan pemimpin kepada publik dan rakyat adalah sebuah simbol bagaimana pemimpin dan para pemimpin berjuang hanya untuk kepentingan rakyat dan hanya untuk kepentingan rakyat semata.

    Narasi kerakyatan yang amat luarbiasa gemanya itu mensimbolkan kepada kita sebagai rakyat bahwa pemimpin berkerja, berjuang dan berpikir keras hanya untuk kepentingan rakyat yang telah mengamanahkannya sebuah mandat sebagai pemimpin yang bekerja untuk rakyat.

    Semoga narasi “untuk kepentingan rakyat” memang betul-betul disuarakan pemimpin negeri dari hati nuraninya yang paling dalam yang tak dapat dibohongi. Semoga narasi " untuk kepentingan rakyat " memang betul-betul diaplikasikan pemimpin negeri hanya " untuk kepentingan rakyat " semata. Semoga.

    Toboali, malam ke-23 Ramadhan 1441 H


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.